Memulai selalu lebih mudah, ketimbang membuatnya beratur.
Jadi, setelah dua tahun meninggalkan latihan fisik (baca: kelas), karena euforia hidup baru– yang ujungnya buat badan melar, loyo, dan nafas pendek. Errrr. Saya memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar, akhir tahun 2016 lalu. Masa yang masih gadis, kalah sama Dian Sastro yang anaknya dua kan?
Kalau selama ini kendala untuk workout, karena waktu liputan dan deadline yang bertebaran. Beruntung, partner #MenujuSehat2017 kali ini datang dari satu profesi yang sama. Jadi, dalam menyesuaikan waktunya pun lebih enak. Dari Desember kemarin, kita mutusin untuk coba merutinkan kelas di The Jade Gym– yang lokasinya percis di atas Sekretariat Jurnalis Tasikmalaya.
Dari sekian banyak kelas, yang pertama kali kita coba, Fit Dance. Tanpa googling sebelumnya, gerakan gimana, saya hanya yakin aja ini lebih better untuk pemanasan sebagai pemula, ketimbang kelas lainnya. Macam zumba, body combat, TRX, atau muay thai. Kasian ototnya langsung shock, pikir saya.
Dan bener ajaaaaa, kelasnya super fun. Gerakannya karena lebih ke dance, mudah sekali untuk diikuti. Sayang memang, kelas ini banyak diikuti juga oleh cowok-cowok. Kita bertahan cukup lama di kelas ini, sampai akhirnya karena satu dan dua hal kita beralih deh. Dan finally, punya jadwal tetap setiap Selasa, Kamis, dan Jum’at.
Tapi ya begitu, dasar ada saja yang buat lengah. Untuk mengganti kelengahan di hari Selasa, Rabu kita pilih untuk geder habis workout.
Dari rencana Fit Dance, di meja resepsionis kita ganti jadi TRX. Karena hari itu, kebetulan sekali sedang ada jadwalnya. Kebetulannya juga, yang ikut kelas itu baru satu orang. Makin semangatlah kita walaupun ya itu belum tau juga bentukannya gimana.
Di ruang ganti, Si Cici yang sedang berganti baju kasih kita bocoran. Katanya, kalau fitness lebih better ketimbang TRX. Karena TRX lebih susah, tanpa bantuan alat. “Besoknya pasti pegel-pegel deh, banyak yang bilang gitu kalau TRX. Siap-siap ya,” kata dia.
Tapi ya gitu, kita sih gak ambil pusing. Motivasi untuk mempertahankan konsisten bugar kayanya lebih kuat.
Well, Total Body Resistance Exercise alias TRX, sesuai kata instruktur The Jade Gym, Vebby, mirip fitness hanya memang yang digunakan adalah kekuatan tubuh sendiri.
Mulanya, kita dihadapkan dengan tali panjang yang selama latihan 80 persen pake bantuan itu. Berhubung itu perdana, kita juga diajarkan cara yang betul megang si tali. Beberapa gerakan ada yang harus menggunakan tali bawah, ada juga yang atas (dan ada semacam gagangnya gitu).
Tanpa ba bi bu, buat warming up badan, ternyata kelas ini udah dimulai. Dengan si tali, kita disuruh setengah jongkok dengan kaki dilipet, agak mirip sama gerakan yoga sebetulnya. Cuman berhubung pake tali yang narik dan buat kontraksi tangan, jadi lebih tantangan gitu.
Kita juga disuruh macam push-up pake tali, sampai tiduran dan kaki giliran yang digantung di tali. Bagian kaki ini akan jadi super duper sulit, apalagi untuk yang core perutnya memang jarang dilatih.
Enaknya juga, karena kelasnya kosong, hanya ada tiga orang. Dua pemula, satu yang sudah cukup expert, memang kita lebih santai. Jadi, saya dan si Ceu Windi gak ada terlalu terbebani.
Menariknya, di TRX ternyata ada fun games yang bentuknya group. Ada tiga step yang setidaknya harus kita selesaikan, dan waktunya sesuai lama si orang yang melakukan lunges. Sisanya harus bertahan dengan shaking tali berat kaya tambang, sama pose mirip child pose (kalau di yoga) atau mereka lebih demen bilang squat dengan posisi nempel tembok.
Buat saya sendiri, yang anaknya lebih cenderung letoy, dan selalu gagal menikmati sesi fitness, TRX memang tampaknya kurang cocok. Sepanjang latihan pun saya lebih sering kewalahan. Dan memutuskan berhenti (baca: istirahat) tiba-tiba, saking gak kuat. Sementara, si partner Ceu Windi bisa lebih mengikuti sesi latihan.
Alhasil, dari TRX yang hanya satu jam tersebut, saya harus menahan sakit-sakit badan sampai seminggu lamanya. Dari salep pegel penahan nyeri, koyo, suplemen pegel, sampai di massage-- saya lahap semua seusainya.
Sementara, Windi yang melakukan gerakan betul sesuai intruksi pelatih tidak merasakan keluhan seperti saya.
Saran saya; berlatih TRX itu harus serius. Jangan ngobrol. Apalagi cekikan-- kaya saya saat itu. Fokus pikiran hanya pada badan, kekuatan tubuh. Bukan kaca yang mengitari ruangan. Banyaknya gerakan yang ditopang oleh tali juga mengajarkan kita harus percaya pada tubuh. Selama sesi itu, poin ini yang saya luput.












