What a Wonderful Trip!
Di dunia ini  kita harus hidup sepeti seorang musafir. Supaya tahu benar arti dari kutipan tersebut, maka aku melakukan berbagai safari. Salah satunya ke Gunung Ciremai (3084 mdpl).
Safari ku kali ini bisa dinobatkan sebagai safari ter-bermakna. Sebenernya perjalanan kali ini udah agak basi ya, sebab mendaki Ciremai ini udah aku lakukan pada tanggal 26 Agustus 2016 lalu, tapi karena satu dan lain hal baru bisa post ceritanya saat ini.
Jadi, tepat sehari setelah wisuda sarjana aku pergi ke Cirebon guna bertemu my travelmate (you-know-who, untuk yang belum tau aku kasih tau inisialnya ya, inisialnya Bibeh *ketawa garing*) beserta kengkawan lain yang beberapa hari ke depan akan jadi temen mendaki. Well, actually aku nyaris terancam gagal ikut perjalanan ini, sebab malem sebelum berangkat ke Cirebon aku pusing-pusing gitu dan beberapa tetua keluarga agak gak ngizinin buat mendaki, berhubung cuaca akhir-akhir itu sulit diprediksi. Tapi, berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan keinginan luhur supaya bisa tetep mendaki akhirnya pagi hari aku sehat wal afiat. Alhamdulillah.
Berangkat dari Bandung jam 08.30 (itu  bus terpagi dari Cicaheum ke Cirebon) dan sampai ke Cirebon jam 13.45. ini pengalaman pertama plesir ke Cirebon, makanya di sepanjang perjalanan terus mantengin hape, baca bbm berisi petunjuk perjalanan dari Bibeh. Pokoknya laporan progress perjalanan sejam sekali dan jadi semakin intens seiring semakin dekat tempat tujuan. Di Cirebon aku turun di perempatan setelah pabrik semen, yang selanjutnya aku sebut perempatan empal gentong, sebab ada mamang yang jualan empal gentong di perempatan tersebut. Ngga wise sih sebenernya, mamang empal gentongnya kan bisa aja pindah tempat jualan haha. Berhubung waktu itu aku  laper dan men temen yang lain masih belum nongol, jadi aku putuskan buat mamam empal gentong dulu di sana. Hmm, enyak. Abis itu solat dzuhur-ashar yang dijama’. Aku solat di salah satu mushalla milik warga sekitar yang berada di belakang warung empal gentong, airnya ngga ada jadi aku tayamum kemudian shalat. Abis solat pemilik musholla baru nongol dan berkata
“Mbaknya mau solat ya? Bentar saya nyalain airnya ya.”
Terus aku bilang, “Ngga pak, saya udah solat kok, tadi tayamum, dikirain emang lagi kering airnya”
“Hehe. Nggak mbak, tadi saya abis ke depan, airnya saya matiin. Mau kemana mbak bawa tas gede gitu?”
“Ini Pak, mau naik gunung”
“Gunung apa mbak?”
“Ciremai Pak”
“Bawa tasnya”
“Hehe. Iya, Pak”
“Wah, kuat ya?”
“Hehe. Insyaallah”
Setelah percakapan singkat tersebut aku pun pamit dan ngga lupa bilang makasih ke Bapak tersebut. Aku balik lagi ke warung empal gentong guna menunggu men temen yang belum kunjung datang. Akhirnya setelah beberapa menit mengamati mobil yang lewat my travel mate beserta rombongan tiba. Berkenalanlah aku dengan temen-temen Bibeh. Ada a Abay yang kocak, a Uyi yang cicing-cicing ajah, sama Om Sana yang shopisticated. Yaps, kami berlima. Ngga lama lah kenalan nya, cuma tuker informasi nama aja, nama calon mah ngga usah lah, ntar aku bingung mau nyebut siapa, masa sebut Miko (kucingku)? Abis kenalan a Abay dan Om Sana heboh nyari mobil elf guna mengakomodir kami untuk mobile dari Cirebon ke Majalengka. Setelah tawar menawar akhirnya kami dapet juga elf yang mau mengakomodasi dengan dana 5000 perak saja. Setelah kurang lebih setengah jam (ngebut bo elf nya!) akhirnya kami sampai ke simpang tiga. Buat yang penasaran simpang tiganya seperti apa, berikut penampakannya:
Di pertigaan tersebut ada pangkalan ojeg. Meskipun namanya pangkalan ojeg, tapi ngga hanya ojeg loh yang mangkal di sini, ada juga angkot, dan jika beruntung mungkin kamu menemukan mantan lagi mangkal di sana #asem. Latar belakang suasana saat itu hujan badag disertai petir (asli ini mah ngga bohong), maka kami memutuskan untuk berteduh dulu di pangkalan ojeg. Beberapa menit kemudian ada angkot mangkal di situ. Betapa beruntungnya mamang angkot tersebut, sebab pada dua jam setelahnya mamang angkot tersebut berhak mengantar Barbie cantik ini beserta rombongan ke Terminal Maja.Â
Perjalanan dari pertigaan ke Terminal Maja ditempuh dalam waktu 1 jam setengah-an dan menghabiskan dana sebesar 20.000 rupiah. Sampai di Terminal Maja kami leha-leha dulu (hanya aku sih sebenernya yang leha-leha haha) sambil nunggu ada rombongan lain yang mau sharing ongkos mobil sepotong yang mau anter ke basecamp Ciremai. A Abay dan Bibeh mah rajin, mereka belanja bahan makanan. Di trip sebelumnya aku selalu menggunakan jasa opentrip dari agen perjalanan sehingga ngga perlu repot perihal makanan berat, which is disediain sama fasilitatornya. Berhubung kali ini sistem yang digunakan adalah share cost, maka agak repot dalam menentukan makanan berat apa yang mau dibawa ke gunung untuk dimasak dan kemudian dimakan lalu dicerna oleh perut masing-masing. Meskipun sebetulnya yang belanja makanan sama yang masak tetep aja bukan aku haha, aku mah cuma udunan, ngeliatin yang masak, bantu doain biar rasanya enak, dan ngabisin makanan *what a wonderful life*.
Waktu udah nunjukin jam 17.00 dan cuaca udah mendung. Setelah mengetahui dan menimbang perkara tersebut akhirnya kami memutuskan untuk ngga nungguin rombongan lain yang kemunculannya unpredictable untuk kemudian nyarter mobil sepotong dan nawar habis-habisan supaya mamangnya sepakat dan mau nganter kami ke basecamp Ciremai. 5 menitan nawar dan kami sepakat membayar 40.000 per orang, lumayan ya. Tadinya aku mau bayar 20.000 aja, tapi takut diturunin di tengah jalan, kalau aku diturunin di tengah jalan nanti ada yang nyulik, soalnya kata mamah aku lagi lucu-lucunya. Kan serem.
Tepat saat maghrib kami tiba di basecamp Gunung Ciremai. Suasananya? Gelap, dingin, luas, banyak tempat berteduh dan banyak tempat makannya hehe. Kami menghuni salah satu empat berteduh (semacam saung) untuk beberapa jam ke depan. Abis itu shalat maghrib dan isya’, kemudan repacking ransel. Biasalah aku mah dikasih barang nya yang ngga terlalu berat dan alasannya pun amat sangat standar “Kesian, nanti dikira ransel bawa ransel”. Hmm, okay I got it.
Sebelum akhirnya memulai perjalanan, kami terlebih dahulu lapor , bayar simaksi sebesar 50.000 rupiah (udah termasuk makan 1 kali, asuransi, dan sertifikat), dan makan. Sekitar jam 8 kami mulai perjalanan, ngga lupa berdo’a bersama. Sebelum bener-bener masuk ke Taman Nasional Gunung Ciremai nya kami harus laporan dulu dengan ngisi buku dengan nama-nama para pendaki. Abis laporan barulah kita bener-bener mulai pendakian, di sana ada tulisan “Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Ciremai”, terus ada kata-kata tambahan di bawahnya yang intinya kalau sekiranya ngga kuat mending mundur sekarang. Antara bikin ngeri dan semangat.
Perjalanan pun dimulai, awal-awal masih semangat ya, meskipun udaranya dingin dingin empuk. Beberapa menit kemudian kami udah rutin istirahat 10 menit sekali. Awalnya, kami berencana untuk nge camp di pos 2, berhubung kami udah capek dan cuaca ngga mendukung, maka jadinya kami nge camp di pos 1. Sampe di pos 1 kami langsung pasang tenda dan beres-beres barang serta solat, yang lain melanjutkan dengan kegiatan hang out together, berhubung aku capek aneut maka aku langsung masuk tenda dan merajut bulu mata (-red: tidur).
Subuh harinya aku bangun dan langsung solat, da udah jam 5 . Abis solat yang lain minum energen dll, aku langsung caw ke tenda dan … tidur lagi haha. Pas bangun, makanan berupa sayur asem sama ikan asin sudah tersaji, padahal rencana awal aku sama Bibeh yang mau bikin hidangan tersebut. Selama sarapan itu aku sama Bibeh dibully gara2 ngorok, kata mereka sih sampe bikin mereka ga bisa tidur dengan nyenyak. What? Mana mungkin Marimar yang anggun ini ngorok? Ah, pendengaran mereka mungkin sedang bermasalah #kemudianngaleos. Okay, skip  it. Abis sarapan kita langsung beres-beres untuk kemudian melanjutkan perjalanan.
Mengingat betapa leletnya speed berjalan kami (red: Aku) tadi malam, maka A Abay dan Om sana (as our tetua) mengatakan bahwa kami jalannya santai aja sehingga ngga berorientasi pada pencapaian untuk meraih lokasi tertentu a.k.a senyampenya aja. Di sepanjang perjalanan mereka ngobrol dengan bahasa Cirebon, sehingga ketika mereka ketawa aku ngga ketawa dan hanya menatap dengan penuh tanya “Is it that fun?”, sampai suatu saat Bibeh menyadarinya dan menerjemahkan guyonan mereka dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebayang ngga kalau aku mendaki sama orang Prancis? Ah, ga usah dibayangin lah, kejauhan.
Sekitar pukul 13.30 an kami berhenti di sebuah tanah datar yang agak lega guna mendirikan tenda, kami memutuskan untuk istirahat di tempat tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak.  Banyak pendaki yang lewat tenda kami, ada yang cakep ada yang biasa aja. Kedua golongan manusia tersebut ditawarin minuman jahe oleh A Abay dan Om Sana. Baik ya? Iya. Cerita sekilas nih tentang mereka dari kacamata aku yang baru ketemu. Mereka berdua itu expert nya naik Ciremai, saking expert-nya persiapan ke Ciremai pun dadakan belinya hahaha, mereka apal banget apa yang harus dibawa ke Ciremai dan yang ngga perlu. Jiwa sosial dan kepekaan mereka juga tinggi, beda lah sama ay em yang masih cuek bebek ini. Balik lagi ke cerita inti, jadi setelah ngemil cantik dan ma’em, hujan turun, kami pun memutuskan untuk tidur. Kalau boleh jujur, tidur kala itu adalah tidur ter-engga enak sepanjang sejarah hidup aku. Jajdi posisi tidur aku itu paling ujung tenda (which is tendanya basah akibat hujan), beralaskan matras (ini sebenernya udah biasa), berbantalkan ransel yang masih penuh barang (ini part paling bikin ga nyaman), di bawah kaki aku ada A Uyi tidur (sehingga kaki ga bisa lurus), dan sempit (pake banget). Sebenernya aku ga bisa tidur, tapi dimerem-meremin, khawatir kelelahan pas mendaki nanti. Sempet bangun karena ada suara berisik di luar, suara kayak orang-orang lagi mendirikan tenda gitu (padahal ternyata ga ada yang bangun tenda di sebelah #stillamystery). Pas bangun, dada aku sesek banget, bangeeet. Baru kali itu aku ngerasain sesek dada. Sambil megap-megap aku bangunin orang-orang dan minta tenda dibuka lebar-lebar supaya ada udara masuk dan senter dinyalain. Setelah beberapa saat seseknya ilang, berganti jadi laper haha. Akhirnya para lelaki masak, aku mah malah tidur haha, da belum sempet tidur dengan nyenyak. Pas dibangunin makanan hangat sudah tersedia, menunggu si Putri Manja ini menyantapnya. Waktu itu menunya apa ya? Lupa! Haha. Pokonya enak banget! Selesai makan aku solat magrib sama isya and after that aku nyuci piring, sebagai upaya tahu diri. Actually, ngelap piring sih, sebab piring-piring tersebut hanya dibasuh air sekali kemudian dilap pake tissue. Jorok ya? Iya! Haha. Terus kalian berharap aku di sana nyuci pake mama lem*n atau s*unlight like a diamond? No way! Ngga boleh mencemari lingkungan guys! Setelah piring “bersih”, kami pun bongkar tenda dan packing, siap-siap mau muncak! Yippi! Sekitar jam 1 kami mulai muncak, semuanya it’s okay banget sampai pas jam 3 hujan turun. Awalnya gerimis imut dulu, kami masih it’s okay aja buat mendaki, pas jam 3 lebih, hujan deras sederas-derasnya turun. Hujan yang ini ngga toleran banget, kami akhirnya minggir dari trek dan pasang terpal seadanya, Cuma supaya ngga terlalu kebasahan aja, tapi akhirnya teuteup basah dan dingin. Hiks. Lama pula hujannya! Sekitar jam setengah 5 hujannya baru berhenti. Kita langsung mendaki lagi, sampai ke perempatan, tempat agak luas yang muat buat tenda. Di perempatan itu kami buka tenda, nyalain kompor guna menghangatkan badan dan diskusi mengenai perjalanan ke puncak, apakah mau dilanjutkan atau ngga. Aku lupa belum solat, maka aku solat, dengan keadaan duduk karena sangat ngga memungkinkan aku solat berdiri. Di tengah keadaan yang berkecamuk seperti itu tiba-tiba ada yang ngetok tenda, ternyata ada yang hampir hipotermia! Badannya udah dingin banget, kaku, dan dia cuma bisa nangis doang. Anak SMA, dari komunitas pecinta alam gitu, cewek. Ga tega dong kita, akhirnya sama A Abay disuruh masuk tenda, dikasih minuman anget, dicekokin makanan, digosok-gosok tangan, kaki, ama mukanya supaya  anget terus dan diajak ngobrol supaya kesadarannya terjaga. Yang laki-laki mah pada keluar, sisanya cewe-cewe pada di dalem.  Aku, bibeh, anak SMA tersebut, dan temennya anak SMA tersebut. Ciwi-ciwi kece kumpul mah pastilah ngegosip haha, lagian suasananya mendukung banget. Mulai dari ngobrolin pembina pecinta alam anak SMA tersebut sampai ngobrolin rencana pembatalan aku dan Bibeh ke puncak Ciremai. Aku sedih sih ngga bisa sampe ke puncak Ciremai, sampe ngga mau makan. Tapi ya udahlah, dipaksain juga ngga baik, lagian pengalaman dari basecamp sampai ke perempatan juga udah cukup memperkaya aku. Akhirnya dengan berat hati aku dan Bibeh bilang ke para tetua (-red: A Abay dan Om Sana) bahwa kami it’s okay aja kalau ngga ke puncak dan turun lagi ke basecamp. Finally, kami beres-beres tenda dan balik ke basecamp.
Perjalanan turun ke basecamp sulit untuk dideskripsikan dengan sempurna. Jalannya liciiiin banget dan tentu saja mudun (masa sih?). Hampir sepanjang jalan pulang aku harus dituntun sama Om Sana dan A Uyi, hal tersebut mendeskripsikan betapa licinnya trek tersebut. Udah ngga keitung pake jari tangan ama kaki aku jatoh dan ngegelinding atau meluncur. Aku sih hepi aja, berasa lagi di wahana permainan. Padahal nyawa taruhannya, sebab ada beberapa titik dimana kanan-kiri kami adalah jurang. Di pos berapa ya aku lupa lagi, kami sempetin dulu buat solat dzuhur plus ashar (dijama’). Sempet ngobrol-ngobrol dulu bentar setelah solat, ternyata hari itu adalah ulang taun Om Sana. Well, Happy birthday Om! Cepet nikah ya! Haha.
Sampai pos 3 kaki aku masih aman-aman aja bawa beban carrier. Di pos 2 aku ngga kuat, aku melambaikan tangan ke kamera dan minta tolong Om Sana bawain carrier ku. Dengan baik hati dan tidak sombong Om Sana bersedia menggendong carrier aku di atas carrier-nya yang sudah teramat sangat berat. Om, sekali lagi, semoga cepet nikah. Amin.
Sekitar jam 9 kami sampai basecamp, rasanya legaaaaaaa banget, mengingat sebelumnya sempet sesek dan kehujanan di tengah hutan (note: aku dan Bibeh baru pertama kali kehujanan di tengah pendakian, jadi ya kami anggap kejadian tersebut luar biasa ya). Aku langsung hirup udara malem kaki gunung Ciremai dalem-dalem dengan penuuh rasa syukur. Emang bener, ngga ada perjalanan yang ngga meninggalkan nilai dan pembelajaran.
Note:
Puji Syukur kepada Allah SWT karena telah membuat situasi sedemikian rupa sehingga aku banyak belajar.
Terimakasih buat travelmate-ku, Bibeh, yang udah ngajeujeuhkeun dan membersamai aku ke Ciremai.
Terimakasih kepada seluruh anggota Keluwuk Adventure yang sudah memperkaya pengalaman aku.
Mohon maaf kepada para pembaca karena tulisan kali ini minim gambar, sengaja supaya kalian penasaran dan ingin merasakannya sendiri. Feel your own journey! (padahal mah gara-gara pada ga banci foto, jadi kalau aku banci foto sendirian malu! Hehe)
















