Bakteri tak pernah bohong
Kemarin lusa aku melakukan pekerjaan triparental mating , yang secara harfiah adalah melakukan proses pemindahan materi genetik (DNA) antar sel yang melibatkan tiga (tri) sel sebagai tetua (parent). Kalau dianalogikan, proses ini seperti seorang “Mak Comblang” yang membantu mempertemukan dua orang - laki dan perempuan yang semula sendiri-sendiri hingga menjadi satu (duh kalimatnya kok aneh pisan). Yang umum terjadi di alam adalah peristiwa konjugasi yaitu proses transfer DNA antarsel dengan memanfaatkan kontak antarsel berupa pilus yang akan menghubungkan sel donor dan sel resipien. Proses ini umumnya hanya melibatkan dua tetua (diparental mating) yaitu sel donor dan sel resipien. Pada proses triparental mating, sel donor dan sel resipien dibantu oleh sel helper. Sel donor yaitu E. coli yang membawa plasmid biner berisi gen spesifik yang akan dipindahkan ke sel resipien yaitu Agrobacterium tumefaciens. Plasmid biner tidak dapat begitu saja berpindah ke Agrobacterium, sehingga memerlukan plasmid helper.
Nah, karena sel donor, sel resipien dan Mak Comblangnya semua berupa sel bakteri yang renik, aku sebagai “petugas KUA” tak bisa bertanya pada mereka apakah proses perkawinan (mating) itu berhasil atau tidak. Maka aku menggunakan antibiotik sebagai agen pelapor. Ketiga sel itu membawa agen pelapor berupa resistensi terhadap antibiotik yang berbeda-beda. Sel donor resisten terhadap antibiotik spectinomycin, sel resipien resisten terhadap streptomycin, dan sel helper resisten terhadap kanamycin.
Proses mengawinkan beserta persiapannya hanya butuh waktu sekitar ½ jam. Tetapi untuk melihat hasilnya butuh waktu 2x24 jam. Pagi ini aku melihat hasil di cawan petriku….sama sekali tak ada pertumbuhan di permukaan media LB padat yang kuberi antibiotik streptomycin, spectinomycin dan kanamycin…. Permukaan media bersih persis seperti 2 hari lalu kutinggalkan di lab. Setelah merenung-renung… barulah kuingat, yang seharusnya tumbuh di media itu adalah sel resipien yang sudah membawa plasmid biner yang resisten terhadap spectinomycin; sementara sel resipien yaitu Agrobacterium resisten terhadap streptomycin. Aku lupa kalau si Mak Comblang tidak ikut masuk ke sel Agrobacterium, dia bunuh diri (suicide) setelah melakukan tugas mulianya...sehingga jika di media akhir kutambahkan antibiotik kanamycin, maka matilah sel resipien karena dia tidak resisten terhadap kanamycin.
Satu pelajaran yang kudapat hari ini : alam selalu jujur, bakteri...adalah bagian dari alam yang jujur tak pernah bohong.....tak bisa disuap, tak bisa dibujuk supaya hidup.
March 9, 2012















