"Selamat pagi, bangunlah sebagai siulan uap kesabaran dari ceret ibu, yang siap dituangkan pada cangkir kegigihan ayah. Hiruplah, dan buatlah keajaiban pada hidup yang semakin kering makna"
Just another mornin' pray, i wish u could be happy to start your brightful day
Kenapa harus (f) rasa? Honestly, sebetulnya aku membikin akun ini setelah benar-benar mengalami apa yang namanya 'sleepless night'. Betul, terjaga semalam suntuk karena entah kenapa hantu-hantu masa lalu mendadak nyata di dalam kepalaku. Aku benar-benar tidak tahu kenapa tiba-tiba membuat akun ini.
Jadi sesungguhnya tak ada otak-otak yang diperas dalam penciptaan coretan ini!
Lalu kenapa harus f dengan rasa? Jadi begini, menurutku dan lagi-lagi menurutku, apapun di dunia ini jika dihayati bersama rasa maka ia akan terasa hidup dan berbahagia. Misalnya saja sebuah huruf yang sejatinya tidak memiliki makna, jika kita mengucap dengan perasaan, dengan segenap penghayatan, maka ia akan terasa lebih mengena. Setidaknya huruf tadi akan memberikan kesan pada orang lain yang sengaja ataupun tidak mendengarkan kita.
Menulis dengan rasa, ialah salah satu ketakutanku terbesar akhir-akhir ini. Sebelumnya, aku menjadi jarang menulis. Entah kenapa tulisan-tulisanku serasa kering dan kehilangan separuh nyawanya. Seperti kulit pohon mahoni di penghujung bulan Juli, kaku dan meranggas. Aku mencoba berdiam sejenak, menghentikan kegiatan ngata-ngatain semenjak pikiran. Sampai aku menemukan diriku sendiri sedang duduk di salah satu pojok kepala, sendiri dan terasingkan.
Aku mencoba berdiam sejenak, menghentikan kegiatan 'ngata-ngatain' semenjak pikiran
Alhasil, aku serasa kembali menemukan aku yang kekanakan. Yang berusaha menuliskan satu kalimat kecil sekuat tenaga, tapi berhasil dengan kejujuran khas kanak-kanak. Dan aku serasa lapang, bukankah tujuan Tuan mencipta adalah untuk berbahagia? Apapun hasilnya?
Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dibuat seksama di coretanku ini, tapi aku mencoba menulisnya dengan bahagia, semoga berkenan!
















