2021
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Germany

seen from China
seen from United States
seen from Canada
seen from Taiwan
seen from United States

seen from United States

seen from Italy
seen from China

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from South Korea
seen from China

seen from Italy
seen from United States
2021

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
Amazing mural by Helga Henschen, Tensta subway station, Stockholm, Sweden.
Tack @madr
Tensta
Mmm, solblekta bÀnkar och miljonprogram
Tensta subway station
Tensta subway station, Sweden
Tystare kring eritreansk festival
Tystare kring eritreansk festival. Det Ă€r sommar i Tensta, en sönderfrĂ€tt och utbrĂ€nd sommar förorten inte upplevt pĂ„ lĂ€nge. Stenplattorna utanför tunnelbanan Ă€r redan varma. Kvicksilvret dallrar kring 27 grader, trots att klockan Ă€nnu inte Ă€r Ă„tta. MĂ€nniskorna som hastar förbi över Tenstaterassen vĂ€ntar pĂ„ skymningen och den korta nattens svalka. Andra Ă€r pĂ„ vĂ€g till det öppna utomhusbadet nereâŠ

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
Tensta
Tempat parkir di Tensta Centrum
Aku tak menyangka bahwa perjumpaan dengan Veronica di awal kedatanganku di kampus, ternyata memberikan bocoran penting tentang sebuah kawasan yang "spesial" bagi Kota Stockholm. Semenjak itu, beberapa kali kudengar Tensta disebut dalam perbincangan dengan warga Indonesia yang telah lebih lama tinggal disini, sebagai destinasi mencari daging halal segar dengan kualitas baik, ketersediaan restoran halal hingga butik kerudung. Lalu kemudian, Tensta muncul lagi di lembar-lembar jurnal Annals of the Association of American Geographers yang kubaca, kali ini berkaitan dengan polarisasi sosial yang mengkhawatirkan. Aku pun menyimpulkan, sepertinya aku memang perlu untuk menyinggahi daerah ini.
Ternyata mudah menuju Tensta, meski cukup memakan waktu. Aku hanya perlu menyetop bis nomor 540 dari depan tempat tinggalku di Kungshamra, lalu 35 menit kemudian bis akan berhenti di halte paling akhir: Tensta Centrum. Atmosfer imigran mulai tercium sejak menaiki bis ini, mayoritas penumpang adalah wajah-wajah timur tengah dan Afrika, sebagian besar perempuan mengenakan jilbab. Saat bis melewati lapangan rumput luas di daerah Rinkeby yang berbatasan dengan Tensta, aku bisa melihat anak-anak dengan berbagai macam warna kulit bermain bersama, sungguh harmonis.Â
Hunian di Tensta
Tensta adalah sebuah distrik di barat Kota Stockholm dengan 86,7% penduduknya memiliki riwayat imigran. Kawasan ini dibangun sejalan dengan program pembangunan rumah rakyat di Swedia pada kurun waktu 1965-1975, yang dikenal dengan sebutan "Million Programme". Program ambisius tersebut telah berkontribusi menyediakan 25% Â perumahan yang ada di Swedia pada saat ini. Seperti yang sering kulihat di kawasan perumahan lainnya di Stockholm, blok-blok bangunan masif di Tensta mengesankan efisiensi, fungsionalisme dan rasionalitas ekonomi yang tinggi. Meski terlihat usang dan kurang hidup, kawasan ini jauh dari kesan kumuh.
Berbekal dengan sebuah peta informatif yang kutemukan dari hasil pencarian di Google, aku pun menjelajahi Tensta Centrum. Saat itu pukul 11 di hari Rabu, dan kudapati beberapa pria duduk-duduk santai di bangku taman, berbincang dalam bahasa yang tak kupahami. Ibu-ibu muda berkerudung mendorong kereta bayi. Pengemis wanita duduk bersandar pada toilet umum di depan air mancurâmenanti derma dari orang yang melewatinya. Toko-toko dan kedai makanan menampilkan aksara Arab sebagai bagian dari reklamenya. Kata "halal" terbaca disana-sini, menegaskan demand dari mayoritas konsumen yang mendiami area ini. Kemudian, aku membeli daging sapi segar di sebuah toko bernama Alrahma Livs, kudengar samar si penjual mengucap "Bismillah" saat hendak memotong daging menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.
Pengemis di depan toilet umum
Tensta Centrum adalah sebagaimana centrum pada umumnya di Swedia, dengan tempat perbelanjaan, ATM, lapak buah dan sayuran, stasiun metro, bangku-bangku taman. Menarik sekali, di Stockholm kudapati setiap distrik memiliki sebuah pusat aktivitas masyarakat (civiq square) yang dapat dijangkau dengan sepeda atau berjalan kaki. Di tiap centrum, toko-toko yang menjual kebutuhan dasar dapat mudah dijumpai, begitu juga dengan praktek dokter, salon, dan jasa binatu. Pola perumahan di Swedia yang dilengkapi dengan sebuah centrum, sekolah dasar, dan berbagai fasilitas sosial merupakan warisan dari perencanaan di era Million Programme, yang dirancang untuk merefleksikan sebuah welfare society. Â
Sir Peter Hall, dalam bukunya yang legendaris "Cities of Tommorow", menyebutkan bahwa Tensta adalah salah satu produk perencanaan yang gagal. Tensta dirancang sebagai sebuah kota satelit yang compact dan menyediakan lapangan pekerjaan tinggi dalam radius pejalan kaki. Jalur transportasi masal juga dibangun untuk menghubungkan Tensta dengan pusat kota Stockholm. Ide cerdas untuk mengembangkan sebuah kawasan hunian dimana orang bisa pergi bekerja dengan berjalan kaki atau menaiki transportasi masal ternyata tidak berhasil. Kenyataannya hanya 25% penduduk Tensta yang bekerja di dalam wilayah tersebut, dan mayoritas dari mereka adalah penduduk berpenghasilan rendah.
The satellites failed in one important respect: they did not deliver the planned relationship of homes to jobs. âSir Peter Hall
Lapak sayur dan buah-buahan
Orang-orang dengan penghasilan tinggi mampu untuk menggunakan kendaraan pribadi, sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka untuk tinggal lebih jauh di daerah suburban. Mereka pun pindah keluar dari Tensta, sementara orang-orang berpenghasilan rendah yang mayoritas adalah imigran tetap bertahan disitu. Tensta lambat laun menjadi ghetto bagi imigran miskin dengan latar belakang imigran dari negara-negara dirundung perang.Â
Swedia memang merupakan salah satu negara yang paling murah hati dalam menerima pengungsi dan pencari suaka. Sistem jaminan sosial yang mapan, menjamin mereka mendapat tempat tinggal, pendidikan dasar, kesehatan, dan uang untuk hidup sehari-hari. Namun, keterbatasan bahasa, keterampilan dan kualifikasi yang rendah untuk bersaing di pasar tenaga kerja membuat mereka secara ekonomi termarjinalkan. Statistik mencatat angka pengangguran di Tensta mencapai 43,5% pada tahun 2009, sementara persepsi masyarakat umum terhadap Tensta sebagai daerah paling bermasalah dan tinggi tingkat kriminalitas telah membuatnya sangat tidak diminati oleh penduduk Swedia lokal. Segregasi sosial pun menjadi fakta yang tak terelakkan.
[Social economic programmes] do little for the development [of the neighbourhood]. If you want to change the character of the area, you have to take larger steps. You have to [literally] rebuild the area. I think [the programmes] are rather useless. (âŠ) we are more segregated today than 10 years ago. âVeteran head of Tensta's district administration
Kios Kue dan Permen
Meski Tensta seperti duri dalam daging bagi Stockholm, namun ia memiliki daya pikat tersendiri. Sebagai perencana kota, Tensta adalah media pembelajaran mengenai perencanaan yang keliru, juga lokasi dimana low-income filtering membutuhkan perhatian yang khusus. Sebagi seorang muslim, Tensta adalah  salah satu destinasi belanja yang perlu diingat ketika membutuhkan daging halal dan perlengkapan relijius. Dan sebagai seorang pengelana, Tensta adalah sudut lain di Stockholm yang menawarkan warna berbeda.
Stockholm, 19 September 2012
FrÄn @madr_se
I Tensta behöver man vila glutéerna nÀr man lyssnar pÄ miljonprogramsmyset och E18.