Teman Terbaik
Sebagian menemukannya di warung kopi, angkringan, atau tempat mencari kesenangan lainnya. Benar, tempat-tempat yang bisa membuat waktu berjalan lebih cepat. Sebagian lainnya menemukannya di sekolah, perpustakaan bahkan kantor. Iya, tak jarang tempat-tempat yang membosankan dan kerap menahan jarum jam untuk berputar bisa melahirkan seseorang yang menyenangkan untuk sekedar berbagi keluh dan umpatan. Kapan kalian bertemu, dimana kalian bertemu dan bagaimana kalian bertemu menjadi sesuatu yang tak penting lagi kala kenyamanan sudah mulai merajai hati kalian. Dia adalah rasa nyaman untuk sekedar mendengarkan meski tak memiliki solusi dalam kepayahan. Dia adalah rasa nyaman untuk tertawa meski candaannya apa adanya. Dia adalah rasa nyaman untuk mengeluh tentang hambar pahitnya dunia.
Terkadang ada saatnya Tuhan biarkan kita untuk keluar jalur sejenak, membiarkan kita terombang-ambing lalu Ia datangkan teman terbaik untuk memainkan peran. Ia turunkan kasih sayang-Nya melalui hati kecil seorang teman, untuk saling mengingatkan, mendengar dan mengingat-ngingat kembali kebodohan demi kebodohan. Bahwa kita pernah saling bertanya tentang apa gunanya kita hidup, apa yang Tuhan inginkan dari kehidupan kita dan bagaimana seharusnya kita hidup.
Tak diragukan, hidup memang hanya soal saling menggantungkan, sebagaimana aku yang hanya bergantung pada teman. Tempat lain yang kusebut sebagai rumah tanpa ikatan darah.








