Sore ini bukan hal yang mudah untuk aku lalui. Kembali dengan apa yang terjadi di waktu-waktu sebelumnya sudah terjadi, kali ini inginku berbagi dengan apa yang terjadi di sore ini.
Tepat seperempat jam 3 sore. Di mana langit mulai menunjukan bahwa akan datangnya petang, ditambah lagi awan mendung yang terbentang. Aku hendak ingin berangkat ke salah satu toko serba ada di kota Jogja. Anehnya, di antara dengunan bunyi gemuruh yang menggelegar , hati ini tak merasa cemas untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Setelah hampir 2 km bersepeda motor, turunlah hujan yang sangat lebat. Tanpa hitungan menit sekujur tubuh larut dalam kebasahan, saat itu aku memutuskan untuk meneduhkan diri dari hujan.
Di emperan jalanan, sambil menunggu redanya hujan. Aku didatangi seorang perempuan yang tak perlu kusebut namanya, menawarkan sekotak tahu bakso goreng. Ia terlihat lembab sehingga menutupi auratnya sebagai seorang pemudi.
Dengan merogoh kocek sebesar Rp.10.000,-, kita bisa mendapatkan kehangatan ditengah dinginnya hujan dan 10 tahu bakso sebesar bola tenis meja. Tanpa berpikir panjang aku mangajaknya bercerita mengenai kehidupan anak muda diera sekarang.
“Mba, sejak kapan dagang jajanan?”, tanyaku.“Udah hampir 2 bulan mas”, ujarnya. Dengan rasa kaget tanpa pertimbangan aku bertanya, “mbanya udah punya pacar?”, dengan wajah tersenyum menatap dagangannya ia menjawab “gak punya mas, punyanya suami”.
Refleks tangan yang kelihatan tekejut akan hal, ia berkata “yahhh, begitulah hidup mas. Kadang apa yang kita cukup harapkan, belum tentu cukup dengan apa yang orang lain harapkan. Aku ya mas, tak pernah mengharapkan jualanku ini ludes dibeli orang, tapi aku berharap dengan apa yang aku lakukan ini, hasilnya cukup untuk keseharian mas”. Menyambung anggukan kepalaku aku bertanya “mba sekarang tinggal sama suaminya?”.
“Yaelah mas, aku tinggal sendiri. Tinggal di rumah kakak. Di usir dari keluarga suami, pokonya banyak mas masalahku”, ujarnya sambil menghitung masalah dengan jarinya. “ di usir dari keluarga suami” yang mencuri perhatiannku. Lantas aku bertanya, “ di usir dari keluarga tadi itu, maksudnya gimana ya mba?”.
“Ya itu mas, sebenarnya gak diusir mas tapi aku yang keluar dari rumah”, ujarnya. “Kenapa mba?”, sambungku. “Merasa gak layak aja mas, seorang tentara bersama aku yang hanya tamatan SMP. Kesehariannya yang sibuk dikantor dan aku yang mematokkan mataku didepan layar hp dan tv, gak enaklah mas”, tuturnya. Dengan hanya menganggukan kepala, tiba-tiba ia bertanya, “ mas nya udah punya pasangan?”. Dengan mungkin terlihat malu aku menjawab “pacar mba, pasangan tinggi derajatnya hehehehe”, tertawa kecil penuh keresahan diwajahnya dan aku yang penuh rasa malu.
“Di jaga mas, jangan ditinggalin. Mas nya sekarang umur berapa?” ujarnya sambil bertanya. “22 tahun mba” jawabku.
“aaa itu, udah mulai di perhatiin lagi mas. Gak perlu tiap waktu yg penting di ingatin terus kalo ada apa-apa ada masee. Semoga langgeng aja ya mas, ingat loh jogja luas dengan umur segitu udah mulai di rangkul lagi mas hehehe, maap ya mas”, tuturnya.
“Hhhh siap-siap, mba nya juga sehat-sehat semoga kedepannya makin indah mba”, ujarku.
Begitu banyak dialog serta ocehan yang kami sampaikan, hingga akhirnya aku merasa kedinginan dan langsung memutuskan untuk kembali. “Balik dulu ya mba, soalnya udah kedinginan ni. Mba nya juga balik udah mau magrib ni” kataku, “iya mas, hati-hati dengan kisahnya mas hehehe” ujarnya sambil senyum mengejek.