A Heart-touching Voyage (1)- Sungguh Tuhan Maha Memperkenankan Niat
Dua kali gagal, tidak cukup meruntuhkan semangat keliling dunia yang sudah saya bangun sejak SMA. Di tahun 2013 saya mencoba peruntungan di Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada, bisa sampai 10 besar, dan kemudian gagal, saya hanya tersenyum. Tahun 2014 saya menggantungkan peruntungan di Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Korea. Dan sungguh Tuhan mempertimbangkan niat dan usaha kita. Waktu itu niat saya hanya sebatas mengupdate bagaimana sistem seleksi yang diberikan oleh panitia. Dan memang Tuhan hanya mengabulkan sebatas apa yang saya niatkan saja.
Tahun 2015 saya skip kesempatan serupa demi segera bisa bergelar sarjana. Hingga tahun 2016, Tuhan perkenankan niat yang saya pupuk sejak dulu. Bukan tanpa drama, hingga rasa syukur terpanjatkan. Terima kasih Tuhan.
Jadwal seleksi dibuka, status saya waktu itu pengangguran, menjalani masa peralihan menuju status dokter muda. Kalau belum menjelang deadline, persiapan berkas dan kelengkapan tak akan rampung (tabiat deadliner). Hampir mundur karena untuk memenuhi kelengkapan berkas saya harus pulang ke kampung halaman, dan waktu yang saya punya menjelang masa akhir pendaftaran tidak cukup. Sampai sahabat saya bergumam ‘Dua kali sebelumnya gagal, Tahun ini tahunnya Vira. Fight for it, Vir!’. Skenario Tuhan menggerakkan semesta untuk berkonspirasi memperpanjang masa pendaftaran. Terlengkapilah syarat berkas saya.
Tuhan tak hanya mempertimbangkan niat dan usaha saja, bahkan usaha dan dukungan sahabat saya juga menjadi penguat. Tim antar berkas: Eci, Firda, Fadra. prinsip kita waktu itu ‘coba aja dulu, hasil liat ntar’. Jam 15.45 nyaris jam kantor selesai, hari itu hari pendaftaran terakhir, but they got me through all those last minute-drama. Dear team, God will replace all your effort and all your patiences on supporting me <3
Masih ada drama lain yang Tuhan persiapkan. Panitia menghubungi saya terkait salah satu berkas saya yang harus disesuaikan seperti yang diinginkan. ‘Vira, salah satu berkasnya masih ada yang perlu disesuaikan. Apa masih mau diperjuangkan?’ seperti itu redaksinya. ‘Paling telat besok sore saya lengkapi, kak’, begitu komitmen saya.
Sampai di hari seleksi tulis. saya tutup mata dan telinga terhadap peserta lain. Saya hanya fokus pada diri saya. Saya ambil kursi terdepan. Saya selesaikan yang harus saya selesaikan. Pengumuman calon delegasi diumumkan langsung di malam harinya. Tiga judul speeches, cultural performance, dan persiapan mental saya persiapkan tak lebih dari 4 jam. I am a hardcore deadliner,
Speech, Leaderless Group Discussion, Interview, Cultural Performance, Estafet proses seleksi tanpa spacing. Hingga tahap akhir pengumuman, menjalang azan magrib waktu itu. Senior PCMI Aceh hampir semua hadir. Satu persatu calon delegasi diumukan, SSEAYP giliran terakhir, begitu juga nama saya. Hanya tersenyum, dalam hati bergumam, Terima kasih Tuhan, Engkau perkenankan Niat, usaha dan doa dengan caraMu yang begitu sempurna.