Its remind me about 2 or 3 years ago. Btw, tulisan ini saya buat dengan alasan egoisme. Saya ingin melepas apa yang mengganggu pikiran saya.
Saya sempat dekat dengan teman seangkatan saya. Saya sangat care dengan dia. Menurut saya, dia sangat struggle dengan jalan hidupnya yang tidak mudah. Jika saya menjadi dia pun mungkin saya sudah menyerah ditengah jalan. Tapi dia tidak, bahkan masih bisa menghadapi kehidupan dengan sangat baik dan senyuman. Akhir kata saya dekat dengan dia, tetapi saya sudah melihat ketidakcocokan. Di waktu itu memang saya memiliki ketakutan sendiri untuk menjalani hubungan dengan seseorang dikarenakan ada beberapa trauma melihat kegagalan di sekitar saya. Saya mulai menjaga jarak. Hanya saja ada janji untuk nonton bersama. Saya pikir, okedeh nonton abis ini saya akan mencoba stop hubungan kami sebelum dia makin berharap. Saya tidak ingin membuat dia menaruh harapan ke orang yang sebenarnya tidak bisa memberikan itu. Ini awal kesalahan yang saya perbuat.
Akhirnya kami nonton. Dia bilang "bayar sendiri-sendiri dulu ya. Soalnya uang ** belum cair". Dia salah satu penerima beasiswa tapi saat itu uangnya belum cair. Saya pikir gak masalah toh emang kami hanya teman. Tidak ada kewaiban bagi dia untuk membayar bill saya. Saya pun membeli cemilan dengan uang saya sendiri. Sebelum pulang kami sempat makan somay, ini saya lupa kami bayar masing-masing atau dia yang bayarin. Saat itu hujan dan saya kesana pun naik gojek. Akhirnya saya pulang dengan mas gojek dengan menggunakan jas hujan. Sesaat itu saya lega karena sudah menunaikan janji saya.
Setelah itu, saya mulai menghindari dia tanpa penjelasan. Disini saya merasa tidak perlu memberi penjelasan karena hubungan kami memang tidak memiliki kejelasan. Pola pikir inilah yang sangat salah dan tidak bertanggung jawab. Saya sangat pengecut tidak bisa menghadapi apa yang sudah saya perbuat dengan dewasa. Yah walaupun hubungan kami tidak ada kejelasan ini tidak membenarkan perilaku saya ini. Hingga beberapa waktu kemudian kami bertemu, saya say hi ke dia yang langsung berubah canggung dan melihat saya dengan sangat tidak nyaman. Saya merasa ada yang aneh. Sepertinya ada kesalah pahaman.
Saya mulai mengingat-ingat dan sepertinya saya menemui satu titik kesalah pahaman, ini mengenai bills. Hal yang lazim di Indonesia ketika kamu jalan dengan laki-laki sedangkan mereka yang membayar bills ini atau ini hanya tuntutan perempuan, idk. Sepertinya dia merasa saya menjauh dikarenakan hal ini.
Split bills bukan hal yang aneh menurut saya. Saya dan teman-teman saya sering seperti ini walaupun hanya uang 500 rupiah akan kami kembalikan kecuali orang itu bilang ini dia yang sengaja bayar. Sejak SMA saya sering seperti ini. Untuk membiasakan diri tidak bergantung dengan orang lain. Selain itu, masalah uang siapa yang tau kondisi keuangan seseorang sebenarnya. Kita tidak akan tahu kesulitan seseorang tanpa dia cerita sendiri kan.. Sedangkan keuangan adalah masalah yang sensitif dan bisa menimbulkan masalah berkepanjangan.
Sebenarnya saya terbiasa diberi apa yang saya mau oleh ibu ayah saya. Jadi saat saya SMP, mereka sering memberi nasihat masalah ini atau menolak permintaan saya. Ini agar saya mandiri dan berusaha mendapatkan apa yang saya mau sendiri. Yah, walaupun sering saya keceplosan minta ini itu ke orang terdekat selain ibu dan ayah saya walaupun itu hanya keinginan spontan yang 5 menit kemudian terlupakan.
Memang ada teman laki-laki yang merasa harus membayar bill jika mengajak hangout tetapi saya menyadari ada financial planning dan goals yang ingin mereka capai, so jangan sampai saya membebani mereka. Tetapi tidak jarang juga saya membayar bills saya sendiri saat makan bersama teman laki-laki saya. Jadi, saya memang tidak ada masalah mengenai split bills.
Tiba-tiba saya melihat sebuat cuitan di twitter mengai spill bills dan ada salah satu reply seperti ini :
Saya jadi mengingat dia lagi dan merasa bersalah. Harusnya saya menjelaskan dengan baik bahwa kami tidak cocok secara personality, bukan mengenai hal lain. Saya hanya bisa meminta maaf karena sudah mengecewakan dan juga tidak menjelaskan dengan dewasa..
Saya harap ini jadi pelajaran buat saya dan teman-teman, jika tidak bisa memberi kepastian jangan memulai itu hanya menyakiti orang lain.
Ohya apa yang kita makan atau beli itu sepenuhnya tanggung jawab kita secara personal bukan teman laki-laki atau yang lainnya. Jangan membebankan orang lain. Kecuali jika sudah menikah. Memang ada tanggung jawab laki-laki dalam menafkahi.