(sambungan) Jurnalisme Warga Pada Media Tradisional
Radio pertama yang menerapkan konsep CJ, dimulai pada th 2000an awal. Studi dari salah satu wartawan Jkt Post (Moch.Nunung Kurniawan) menunjukkan bahwa di Indonesia, stasiun radiolah yang memulai jurnalisme warga, bukan dari situs internet ataupun stasiun TV. Elshinta berhasil mencatat reporter warganya mencapai 100.000 dan tidak dibayar.
Aceh tahun 2004, Elshinta mendapat laporan berita dari saksi-saksi kunci. Di kecelakaan pesawat di Surakarta, Jawa Tengah, seorang penumpang yang selamat melaporkan kejadian tersebut ke Elshinta. Menurut Wakil Pemred Elshint
Radio PR FM mengajak para pendengar untuk menyampaikan keluhan dan informasi tentang berbagai hal, tentang kriminal, kemacetan, cuaca, kebakaran hingga kerusakan jalan secara on air dan dialog interaktif antara masyarakat dan penyiar pun dilakukan.
Jurnalis warga memberikan atau melaporkan mengenai informasi atau pemberitaan ke Radio PR FM melalui media elektornik (sms ataupun telepon) dan media on line. warga lebih sering melaporkan dengan sms dan telepon atau berinteraksi langsung. warga memberikan informasi mengenai keadaan lalu lintas (kemacetan, jala-nan rusak, kecelakan), kebakaran, orang hilang, informasi apapun yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (SDM). Jadi Penerima atau warga disini bisa diartikan sebagai sumber dan penerima pesan
Radio PR FM bekerja sama dengan aparat kepolisan, BMKG dan lain-lainnya yang berhubungan dengan informasi untuk menanyakan informasi yang mengenai pemberitaan yang didapat dari Jurnalisme warga, namun disisi lain BMKG menjadi sumber informasi untuk PR FM dalam cuaca atau keadaan yang berhubungan dengan alam.