The Perfect View
Entah.
Di sana, tepatnya di ujung penantianku. Sudah kutanam segala logika sebab-akibat, yang setidaknya akan mengurangi sakitnya terluka olehmu.
Ya. Aku hampir menyerah mengejarmu. Jika memang mengejarmu hanya bagian dari sebuah permainan, setidaknya katakan itu sekarang. Agar aku tak lupa bahwa permainan pasti ada akhir perpisahan. Yang satu menang dan yang satu kalah. Katakan sekarang agar aku tak terlanjur kecewa jika pengejaranku hanya ilusi waktu.
Aku sudah bersiap. Kutebalkan tembok ketangguhan semampuku. Agar bias pesonamu tak sampai menjalari relung hatiku.
Tapi hadirmu tepat di depanku, segalanya menjadi kandas. Himpunan kekuatan itu tak ubahnya susunan kardus kosong. Kau tendang begitu saja. Dan kau selalu berhasil kembali masuk. Lalu aku harus apa?
The Perfect View.
5 bulan tak bertemu, 5 bulan kisah kita berjalan di tempat. Tak maju tak mundur. Aku yang kecapaian menunggu sudah hampir berbalik pergi karena tak ada tanda datangmu.Â
Lalu kau tiba-tiba memanggilku, mendekat. Tidak, bukan dekat jarak. Tapi dekat hati. Ada selipan harapan kau titipkan dalam caramu memandangku. Ada selipan bahagia dalam caramu menyapaku. Apa kau merindukanku?
Oh Tidak. Aku mulai berfikir kau menyukaiku.
Mungkin, penantian ini takkan tersia.
Atau mungkin, aku lagi-lagi terjebak dalam bias pesona ilusi permainanmu.
Kata hatiku, aku  merindukanmu. Kata naluriku, jangan ter'jatuh' dulu.
Kau bagian dari hatiku, atau memang musuh naluriku?
Kuharap kau menjawab pertanyaanku, agar tak pusing aku merinduimu.







