Merencanakan Piknik, tidak Pernah Sebahagia Ini
Bagi sebagian orang, liburan, jalan-jalan, atau saya sendiri lebih senang menyebutnya dengan kata piknik, adalah hal wajib. Karena ada mereka yang cukup puas cukup duduk-duduk saja, atau perlu melangkahkan kaki lebih jauh, mengeksplor lebih dari sekedar tempat tujuan. Karena dengan mengetahui lebih banyak apa yang berada di balik tembok ruang kerja, rumah, serta keriuhan sehari-hari perjalanan yang penuh dengan kemacetan, terkadang bukan sekedar menghabiskan waktu saja, melainkan menjadi sebuah cara menemukan diri sendiri. Jelang akhir tahun, cuti yang sudah direncanakan sejak lama, akhirnya tiba, dengan tambahan hari libur di Sabtu – Minggu, serta beberapa hari bolos (duuuh), total hari libur yang saya ambil mencapai 16 hari. Berbeda dengan banyak perjalanan saya sebelumnya, kali ini saya lebih tidak “ribet”, jauh-jauh hari udah booking tiket, booking penginapan harus yang demikian, atau kendaraan harus terjamin kenyamanan, serta banyak tetek bengek perjalanan. Jadi inget, saat memulai tulisan ini, tiket perjalanan baru dibeli untuk keberangkatan saja.
Malang dan Blitar menjadi tujuan awal saya berjalan-jalan, di kedua kota itu saya akan mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi. Kenapa Malang dan Blitar? Karena kawasan Jawa Timur yang pernah saya datangi hanya Surabaya dan Banyuwangi. Di luar pelaksanaan hari inspirasi, tentu saja saya berencana menyusuri setiap sudut kota yang memang menjadi daya tarik bagi wisatawan local. Melepas perjalanan di kawasan timur pulau Jawa, saya berniat melanjutkan ke Lombok, yang dinilai sebagai surganya wisatawan local maupun mancanegara. Alasan lain itu sesimple karena saya belum pernah mengunjungi Lombok. Piknik kali ini berbeda, tidak seperti biasanya, lantaran perjalanan selama kurang lebih 14 – 16 hari nanti, merupakan solo travelling saya yang kedua kalinya. Gak sedikit yang bertanya, emang gak takut ya jalan-jalan sendiri, loe yakin aman, dan pertanyaan lain sejenis.
Pergi melakukan perjalanan sendiri bukan tanpa kekhawatiran, referensi dari berselancar di dunia maya sudah pasti memberikan banyak masukan. Tapi referensi paling menakjubkan, memang saat ada teman yang juga pernah melakukan perjalanan sendiri di lokasi yang sama. Bahkan rencana perjalanan saya mendapat dukungan rekan traveler lainnya yang tidak melontarkan kekhawatiran, melainkan kesan takjub. Pokoknya perjalanan kali ini santai, gak ribet, dan saya memberikan tema “living with the locals”.  Tidak melulu terkait budget, melainkan pengalaman yang ingin dicapai dengan lebih banyak bergaul dan menghabiskan waktu dengan penduduk lokal tempat yang akan saya kunjungi nanti. Persiapan bagaimana? Hhhmmm, mengingat perjalanan sedikitnya akan berlangsung selama 14 harii, maka saya memutuskan untuk membeli daypack kecil. 2 tas akan saya gendong, beserta perlengkapan lainnya. Ya, biar bisa beraktifitas di luar seharian, hanya dengan menggunakan daypack, sedangkan carrier akan ditinggal di rumah penduduk tempat saya menginap.
Yuk ikut cici cek list perlengkapan, dan ngintip apa aja sih yang biasanya dibawa
1.      Carrier 40 L untuk baju, jaket, toiletries, dst
2.      Daypack untuk laptop (ada yang perlu dikerjakan dengan laptop soalnya), handphone, chargeran, buku, barang yang lebih pribadi seperti uang, dompet, surat-surat, maupun tiket perjalanan.
( tapi seperti perjalanan saya lainnya, tas tidak pernah terisi penuh, meski saya membawa carrier sekalipun)
3.      Kamera Polaroid, isi ulang polaroid, tripod, powerbank! (ini penting banget, jaga-jaga kehabisan batrei saat lagi menggunakan google maps)
4.      Gluten free snack bar! Soalnya saya gampang laperan, dan emang anaknya doyan ngemil
5.      Uang cash!!! Meski menginap di rumah penduduk, just in case kamu butuh sesuatu, dan kemungkinan ATM bank kamu gak ada di daerah itu.
6.      Rencana perjalanan! Coret2an rencana perjalanan kamu di notes itu bisa jadi penyelamat kamu saat bingung atau tiba-tiba get lost.
7.      Pulsa yang selalu tersedia!
8.      Toiletries dalam kemasan kecil, praktis, dan gak makan tempat. Tissue basah, tissue kering.
9.      Botol Minum favorit
10.  Pakaian secukupnya, karena kalau perjalanan panjang saya terbiasa mencuci di tengah perjalanan. Pakaian juga multifungsi, bisa buat siang dan malam. Berlaku hal yang sama buat pakaian dalam. Nah packing pakaian juga bisa berpengaruh seberapa besar bawaan kamu nantinya, kalau saya terbiasa mempacking baju atau celana dengan cara digulung, dan diikat dengan karet. Supaya gak berantakkan.
11.  Alas kaki; sandal jepit dan sandal outdoor.
12.  Perintilan semacam kabel ekstension, atau colokan T, bisa memudahkan kamu saat nge-charge peralatan elektronik dalam 1 waktu.
13.  Tali; just in case di tempat kamu menginap gak ada gantungan, bisa dimanfaatkan nantinya.
List memang masih berlanjut, jelang keberangkatan Minggu besok, saya masih belum menyiapkan sejumlah perlengkapan lainnya. Perjalanan saya besok memang bakal menjadi perjalanan yang paling panjang, tapi pasti menjadi sesuatu yang menggembirakan. Cuti sudah diajukan, sang pengganti yang akan mengerjakan tugas-tugas saya juga sudah (dengan terpaksa) bersedia menggantikan, bahkan woro-woro pamer mau pergi piknik juga udah, udah banget pokoknya. Supaya mereka-mereka yang sirik karena gak pernah piknik, itu makin tergelitik, dan seperti biasa mindik-mindik melihat seluruh aktivitas saya melalui jejaring social. Yes, I’m getting famous kayak lagunya Jamie Cullum.
Yang pasti, gak sabar segere menunaikan ibadah piknik. Dan pastinya akan banyak tulisan, serta cerita yang menanti kalian.
Salam #cicipiknik dalam #tourdesukasuka!!













