Aku, Masa Lalu, dan Tuhanku
Dia selalu mengingatkanku akan Engkau, Tuhan. Tentang bagaimana berkuasanya engkau dalam membolak-balikkan kuasaMu di dunia ini. Bagaimana Engkau mengirimkan banyak petunjuk padanya untuk kembali kepadaMu. Entah karena Engkau sangat menyayanginya atau memang dia mudah membaca segala sesuatu sebagai hikmah dan pelajaran dariMu,Allah.
Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap atas apa yang dia tunjukkan. Sungguh, ia menunjukkannya bukan hanya padaku seorang. Tapi mengapa aku merasa Engaku mengirimnya untukku agar daku kembali ke jalan yang benar? Bukan untuk menjadi sosok yang sebaik dirinya dalam bersikap dan bertingkah laku, bahkan dalam menyebarkan kebaikan tentang ajaran yang dianutnya. Namun hanya sekedar untuk kembali mengingat akan kuasaMu yang membuatku berada disini.
Bahkan ketika dia belum muncul dengan seluruh ceritanya, aku telah menemukan hal lain yang membuatku kembali teringat pada apa yang sebenarnya ingin aku capai. Tentang rasa sakit di masa lalu yang seharusnya telah aku lupakan. Supposed to be. But, why? It was too difficult to do. Itu terlalu susah untuk melakukannya, melupakan rasa sakit yang membuatku ingin memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Menghilangkan rasa sakit itu dengan tidak memunculkannya, bukankah itu cara yang paling benar. Tapi, apa dayaku?
Kata-kata itu menusukku berulang kali. Bahwa rasa sakit itu tidak akan pernah hilang jika kita tidak berdamai dengannya. Sebab kebahagiaan tidak akan pernah menyertai caraku melupakan kenangan akan rasa sakit itu. Karena jika aku tidak mengibarkan bendera putih, maka aku akan tetap kalah meski aku telah mengerahkan semuaa yang aku punya. Segalanya.
Dan saat ini, langkahku benar-benar berhenti. Seolah menungu hatiku untuk mengiringnya bergerak ke jalan dimana ia seharusnya melangkah. Menanti diri ini menerima semua yang telah terjadi dengan lapang dada atau dalam bahasa agamaku dengan ikhlas. Berdamai dengan rasa sakit yang selama ini membuatku terlalu tinggi hati hingga lupa dimana ia berada saat ini. Berhenti mencaci pada Tuhan yang skenarioNya pasti lebih baik dari rencana-rencana yang kutulis. Dan yang pasti, berhenti mengatakan seandainya aku bisa kembali ke masa itu dan bisa memperbaiki semua yang rusak ini.
Tapi detik ini aku menyadari satu hal, ketika kita meminta sesuatu dan tak mendapatkannya, akan ada cerita dan perjuangan yang lebih indah yang menanti kita. Meskipun itu terasa sangat sakit dari yang sebelumnya pernah aku rasakan, itu tidak berarti aku tidak bisa mencoba untuk berdamai kan? Karena jika aku tidak berhenti pada tempat ini, aku tidak akan berjumpa pada engkau, sosok yang selalu mengingatkanku akan Tuhanku. Aku tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat lain yang begitu mencintai Engkau, Allah. Dan mereka semua membuatku iri untuk mencintaiMu lebih dari mereka mencintaiMu, duhai Tuhanku.
Terima kasih untuk semua pelajaran yang tak langsung kau berikan padaku. Pelajaran tentang berbagi kebaikan meski itu tak kasat mata, tentang memberi yang tak pernah berharap lebih, tentang menjadikan semua kejadian yang kita alami sebagai sebuah pelajaran dalam hidup ini. Dan pastinya tentang mencintaiNya lebih daripada mencintai dunia dan seisinya.
Terima kasih telah menjadi sosok yang mengingatkanku akan betapa Maha KuasaNya Tuhanku.











