Ditulis oleh Febri Ramadhan
Disalin dan dibagikan kembali oleh Es El Ha
Kepada kalian yang saat ini hanya bisa memandang lewat story masing-masing tanpa memiliki keberanian untuk bertegur sapa.
Mungkin memang penting bagimu untuk mengingat siapa yang memulai pengabaian itu.
Kau yang terlalu enggan untuk menggubris atau memang dirinya yang sudah tak memiliki ketertarikan yang sama denganmu.
Padahal, dulu sempat terbersit impian bahwa kelak kalian akan bertemu setiap harinya dalam sebuah naungan atap dan pagi yang sama.
Disana, ada pembahasan kecil yang kalian bangun bersama dalam pembahasan chatting yang membuat kalian sama-sama tersenyum,
yang membuat kalian sama-sama memiliki satu sama lain.
Tapi, apalah arti semua impian jika pada akhirnya salah satu diantara kalian mulai menunjukkan gelagat ingin tak ingin.
Pada awalnya, semua berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Sapamu selalu terbalas olehnya.
Tanyamu selalu terbalas oleh jawabnya, pun rindumu juga turut terbalas oleh rindunya.
Namun, segala yang tampak begitu indah diawal hanya menjadi boomerang yang menghujam keras di salah satunya.
Dia, yang saat itu kau yakini akan menjadi seseorang yang membuatmu merindukan rumah, nyatanya mulai mengubah arah dan tujuannya.
Sikapnya mulai terasa tak seperti orang yang biasa kamu kenali.
Suaranya mulai berat untuk menjawab setiap sapamu.
Jarinya sudah mulai kaku untuk membalas setiap pesanmu dan bahkan ketika dirimu memberanikan diri untuk menanyakan tentang impian
kalian di kemudian hari, jawaban yang kau dapat hanyalah: ”itu masih terlalu jauh untuk kita”.
Sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan ketika kau menghadapi kenyataan dimana seseorang yang pernah membuatmu begitu bersemangat menjalani hidup, berbalik
menjadi seseorang yang tak pernah kau kenali siapa dirinya sebenarnya.
Kau hilang arah, air matamu tumpah.
Genggaman yang selama ini kau pikir sudah sempurna ternyata bisa dilepaskan dengan begitu mudahnya.
Buka mata dan hatimu lebar-lebar.
Melangkahlah ke tempat dimana kau bisa kembali menemukan rasa percaya terhadap orang lain.
Jika memang masih terlalu berat untukmu menerima kenyataan itu, maka sendirilah.
Nanti kau akan paham bahwa itu tenang.
Nanti kau akan paham bahwa kau mampu senang, tak bergantung terhadap seseorang yang tak menginginkanmu.
Mulai berani berpikir bahwa ia memang tak penting bagimu.
Berbahagialah dengan caramu sendiri.
Tanpa dirinya, seperti saat sebelum kau mengenalnya.