Cerpen - Masa dan Lalu pt. 1
Incoming Call..
Lalu
Sahabatku bernama Lalu menghubungiku tengah malam. Sebenarnya mengganggu, tapi aku tahu ini penting baginya dan aku harus mendengarkan. Dengan sedikit sebal, aku biarkan suaranya terdengar. Alamak, ternyata video-call. Harus banget ya, Lalu?
Aku nyalakan lampu tidur disamping kasur agar wajahku yang kusut ini terlihat. Dan dia bisa mempersingkat durasi telepon.
“Hei Masa!” sapanya diawal sambungan.
Ampun deh anak ini, ngapain pake segala video call kalo gambar yang nampak Cuma buram dan gelap gulita doang?
“Mmm..” jawabku malas.
“Astaga Masa! Kamu kusut banget sih? Eh maap nih aku telepon malam-malam gini. Abis aku seneng banget ih. Aku gak mau jadi orang pelit yang punya kabar gembira terus disimpen sendiri aja. Aku mau cerita nih Masa!”
“Iya langsung aja to the point! Sudah malam, Lalu!”
“Jadi tadi...”
Dan bla bla bla.. Lalu, sahabat unikku ini kemudian bercerita bahwa selama 24 menit sebelumnya, ia usai menghubungi teman yang dianggap spesial. Menit-menit yang dihabiskan dengan obrolan random yang tak tentu arah. Entah bagaimana si Lalu ini menganggap teman lelaki yang sudah sekitar 3 tahun dikenalnya itu. Teman yang diberi julukan Ja-Im. Alias Jarak-Imut. Iyuuuh - -“ Kelihatannya sih keduanya saling terpikat tapi sama-sama belum berani mengikat. Kadang juga kasihan melihat Lalu yang selalu merindu tapi terkadang diabaikan. Aku juga tidak begitu paham dengan maksud si Jarak-Imut yang bersifat layaknya layangan. Tarik-ulur.
Sekitar 45 menit Lalu berkisah kesana kemari tentang si Jarak-Imutnya. Jarak dan Lalu berkenalan lewat dunia maya. Jarak yang entah siapa kala itu bagi Lalu memberikan komentar singkat atas status yang ditulis Lalu di akun medsos-nya. Lelaki yang awalnya iseng dia stalk sampai akhirnya Lalu masuk kedalam jebakan yang ia buat sendiri. Jebakan cinta namanya.
Diujung sambungan telepon yang lebih dominan berisi suara ‘kesenengan’-nya Lalu malam itu, ada satu quotes penutup dari Lalu yang tak pernah bisa aku lupa.
“Aku baru sadar Masa, ternyata rindu memang hanya bisa diobati lewat temu..”
“Maksudmu?” aku sengaja memotong, setahuku Lalu baru bertemu Jarak dua kali. Dan itupun tidak pernah direncanakan secara matang.
“Hei, makanya jangan suka memotong kalimatku, Masa! Temu tak harus selalu dengan raga bukan? Temu juga bisa dirangkap lewat suara. Yang penting saling bersua.” Kemudian Lalu tertawa.
Aku tersenyum dalam diam. Sungguh bahagia mendengarmu—atau melihatmu yang kala itu gelap gulita karena lampu kamarmu yang harus segera dipadamkan lewat jam 12 malam—tertawa lepas. Gurat kesedihan yang terkadang kau tampakan di waktu-waktu sendumu benar-benar tersembunyi.
Semoga Jarak-Imut-mu yang entah merasakan hal yang sama seperti yang sekarang kau rasakan ini atau tidak, bisa menangkap sinyal-sinyal kontinyuitas yang kau beri. Semoga berujung indah dan berkah.
“Sudah malam, Lalu. Aku mau tidur!” tutupku pelan
“Terimakasih ya Masa, yang selalu mau mendengarkan cerita nggak pentingku. Doakan aku supaya bisa cepat menyusulmu!” kali ini suaranya lirih, penuh dengan pengharapan dan doa.
“Segala yang menurutmu tidak penting selalu penting bagiku, Lalu. Tenang saja, Lalu aku selalu menyebut namamu dalam doaku, kok. Sudah dulu, ya?”
“Waah terimakasih lagi deh Masa! Sampai ketemu besok, ya? Aku tak sabar ingin merangkulmu!”
Sambungan terputus bertepatan dengan bunyi pesan masuk.
Aku coba hubungi tapi sambungan sibuk. Ku pikir kau sedang berbincang dengan Lalu. Karena selain dia dan aku, siapa lagi yang menghubungi selarut ini? Tapi tak apa. Besok pagi-pagi sekali aku hubungi lagi. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan mengenai acara kita satu bulan kedepan.
Selamat malam, Masa! Aku rindu!
Ajaib! Padahal sebelum tidur tadi aku berharap Mas Langit menghubungi setelah beberapa hari tak ada kabar tentangnya yang menghampiri. Lipatan jarak dan waktu memang amat mempersulit komunikasi antara aku dan Mas Langit. Disana tengah Malam disini Pagi. Pun sebaliknya. Mas Langit, ternyata Lalu benar, rindu memang hanya bisa diobati lewat temu. Jika menurut Lalu temu itu mempunyai dua definisi; raga dan suara. Bagiku definisinya bertambah satu. Bukan hanya lewat raga dan suara, tapi bisa juga lewat pesan singkat.
Ah, terimakasih untuk pelajaran malam ini Masa dan Mas Langit!
Oh ya, diakhir kisahku.. kau tahu apa perbedaan antara Kangen dan Rindu?
Kangen adalah spontantias, sedangkan Rindu itu Mendalam.
Dan malam ini aku merindukanmu juga Mas Langit-ku. Teramat Rindu. Semoga rintik gerimis malam ini mampu menyampaikan salam manisku untukmu.



















