Review Buku - Kerja Selain Kantoran, Perjalanan Mencari Pekerjaan yang Bikin Bahagia Karya Saenggang
Buku yang bikin senang, itu kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini. Dari covernya terlihat jelas bagaimana buku ini dihiasi dengan karakter kartun yang bernama Saenggang yang merupakan penulisnya sendiri. Dalam Buku ini secara baik penulis menjabarkan perjalanan karirnya dari awal mencari pekerjaan, masa jenuh, masa instirahat sejenak, memulai pekerjaan baru, berhenti dari pekerjaan dan bekerja sesuai passion dengan gambaran kartun yang sederhana dan kisahnya tentu banyak sekali kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis, menceritakan pengalamannya yang menjalani hidup tanpa rencana dan hanya berdasarkan ekspektasi orang lain yang akhirnya membawa ia sedikit tersesat hingga akhirnya ia lulus kuliah dan harus mencari pekerjaan. Pada bagian permulaan ini saja sudah bukan rahasia umum, banyak dari kita pun mengalami hal yang serupa, ketika menjalani pendidikan, kita sebetulnya tidak memiliki rencana ataupun tujuan, dan karena ketidak tahuan itulah akhirnya kita banyak yang mengikuti keinginan orang tua dan pada saat menjalaninya akhirnya kita tersadar bahwa jalan yang kita pilih ternyata tidak sesuai dengan kata hati. Setelah itu kisah sebenarnya dari buku ini baru dimulai.
Siapa yang tidak merasa semangat ketika pertama kali mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah/kuliah, berbagai hal baru yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan, sekarang sepenuhnya dialami, banyak yang menyatakan saat-saat awal bekerja ini adalah masa bulan madu, saat dimana akhirnya berubah status dari pelajar menjadi pekerja, hal ini juga yang tidak luput digaris bawahi oleh penulis dalam cerita Saenggang ini, ia menceritakan awal-awal bekerja dimana harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, mengerjakan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, sampai bagaimana ia mendapatkan gaji pertamanya. Setiap orang pasti pernah merasakan saat menerima gaji pertama, bagaimana berdebar-debarnya dan munculnya keinginan untuk menggunakan uang itu untuk mewujudkan keinginan kita.
Setelah melalui masa bulan madu tersebut, biasanya kita mulai tersadar akan beberapa hal, bahwa ternyata dunia kerja sering kali tidak sesuai dengan harapan kita sebelumnya, bahwa ternyata adalah sebuah aktivitas yang terus berulang dan mungkin membutuhkan motivasi dalam menjalankannya. Penulis pun menceritakan bagaimana setelah menjalani pekerjaannya beberapa lama, ia merasa kehilangan jati dirinya. Dalam menjalankan pekerjaan, terlebih yang tidak sesuai dengan keinginan, kemungkinan besar kita akan selalu terbebani dengan berbagai ekspektasi orang lain, yang sering kali justru malah menyakiti diri kita untuk jangka waktu yang panjang. Dan sering kali luka yang terbiasa dipendam ini berkembang menjadi luka batin yang mengarah ke penyakit mental. Dalam hal ini penulis menggambarkan bagaimana ia tidur dengan tidak teratur dan pada akhirnya badannya menolak, ditandai dengan beberapa kali harus tidak sadarkan diri. Kesehatan mental ini yang sering kali dipandang remeh oleh sebagian besar orang, terutama dimasa pandemi seperti saat ini, dimana kita sulit berinteraksi dengan orang lain. Penulis akhirnya memutuskan untuk mengunjungi psikiater dan dianjurkan untuk istirahat dari pekerjaan selama 3 bulan. Disinilah ia memanfaatkan waktu senggangnya tersebut untuk memulihkan kondisinya.
Dalam istirahatnya, penulis mencoba melakukan banyak aktivitas yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, dari mengikuti tes bakat minat, mengikuti kegiatan sosial, sampai ikut kegiatan seni seperti menggambar dan merangkai bunga, yang ternyata tidak disangka memberikannya semangat yang selama ini hilang dalam hidupnya. Meski belum sepenuhnya pulih, ia harus kembali ke kantor setelah melalui masa 3 bulan tersebut. Kondisi yang tidak berubah, memantapkan dirinya untuk melangkah lebih jauh, yaitu berpindah pekerjaan, ini yang sering kali dialami para First Jobber ketika sudah beberapa lama bekerja di suatu tempat, meskipun tidak cocok dengan lingkungannya, sering kali ada perasaan ragu untuk berpindah, karena khawatir akan lingkungan baru dan masa penyesuaiannya lagi. Disinilah sebaiknya membuka wawasan, bahwa diluar sana masih ada kesempatan lainnya yang menanti. Penulis pun akhirnya pindah ke perusahaan baru, dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan meskipun bergaji lebih rendah. Namun setelah beberapa waktu berlalu, ia kembali dihadapkan dengan perasaan hampa yang sama, disinilah merupakan titik balik perjalanan hidupnya, sekaligus titik balik dari buku ini. Akhirnya penulis memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya untuk beristirahat total dan mencari jati dirinya kembali. Hal yang menarik, ternyata penulis mengambil inspirasi dari beberapa film favorit saya pribadi seperti "The Secret Life of Walter Mitty" dan "Eat, Pray, Love" yang berkisah mengenai pencarian jati diri dan bagaiman individu melangkah keluar dari zona nyaman untuk menemukan jalan hidupnya yang ternyata jauh lebih berwarna daripada sebelumnya. Si Penulis akhirnya memutuskan pergi ke Bali untuk bertemu dengan tabib penyembuh seperti yang ada pada film "Eat, Pray Love".
Perjumpaannya dengan tabib tersebut seakan me-reset kembali hidupnya, karena ia disadarkan pentingnya suatu keseimbangan dalam hidup, hal yang sering dilupakan oleh hampir semua orang, terutama di kota besar, yang sehari-harinya disibukkan dengan banyak hal, serba cepat dan buru-buru, sehingga sering melupakan hal paling mendasar, seperti makan teratur, berolah raga, beristirahat dan bersenang-senang. Dan ia pun kembali diingatkan akan mencari kesenangan dalam hidup yang tidak disangka-sangka adalah menggambar. Perlahan tapi pasti penulis mulai mencoba kebiasaan baru dengan berolah raga teratur, meditasi menulis buku harian, serta mencoba hal-hal baru, seperti berselancar ataupun mengikuti kelas yoga, yang tidak disangka berhasil menyeimbangkan hidupnya yang sebelumnya tidak beraturan. Dari situlah saat ia kembali ke negara asalnya di Korea, ia akhirnya memutuskan untuk memulai suatu yang baru, bekerja sesuai dengan passion yang telah ia temukan, dan ia menyadari, bahwa menghidupi passion bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan saat bertemu masalah, ia tahu, bahwa ia sedang menjalankan apa yang ia inginkan, sehingga ia tidak mudah putus asa seperti ketika menjalankan hal yang tidak ia sukai.
Banyak detail yang tidak saya jelaskan dalam review ini, karena akan sangat menyenangkan kalau bisa membaca keseluruhan buku ini sendiri, apalagi pesan-pesannya terkadang bisa sangat pribadi ke masing-masing orang, tapi buat saya pribadi, buku ini banyak mengajarkan saya bahwa hidup ini sebaiknya dinikmati, diri kita ini bukan mesin, perlu beristirahat perlu waktu meng-kalibrasi kembali hidup dan yang paling penting hidup ini sangat singkat untuk dihabiskan dengan melakukan hal yang salah apalagi hal yang kita tidak sukai.











