Postingan tidak bermanfaat kali ini, aku ingin bercerita tentang suatu makanan yang sedang naik kasta. Yup, you know what lah. INDOMIE! (capslock pakai tanda seru karena penting).
Menurut situsnya Indomie, Seleraku!, Indomie sudah hadir pada tahun 1969. Tapi ya jelas orang-orang meragukan apa iya Indomie bisa jadi sebagai bahan pangan pokok? Keraguan ini seperti apa iya pinggiran martabak bisa sebagai bahan pangan pokok, dijadikan sarapan, pemadam kelaparan tengah malam, atau untuk menghinakan fakir-fakir yang sedang diet indomie -karena alasan kesehatan yang yaelaaa sok sehat amat luu- dan alasan-alasan lainnya. Keraguan ini juga mirip setelah aku menuliskan barusan, apa iya analoginya tepat? Oh. Yaudah kita gak memfokuskan soal keraguan, cukup status elo aja yang diragukan. (wkwkwkwk)
Balik ke inti cerita, tren memakan indomie baru-baru rame sekitar tahun 1982. Dengan kehadirannya indomie rasa kaldu ayam. Yaa jelas, produk mana yang gak laku setelah mengambil ayam. Kareka aku suka ayam, kamu suka ayam, tetangga suka ayam, nenek suka ayam, dan kita semua suka ayam. Dan sampai hari ini, ada segolongan kaum fanatik yang ga bisa moveon dari indomi rasa original ini. Mengingat semakin original suatu rasa, maka dia makin mudah direkayasa. Banyak resep dengan menambah sayur-sayuran, sosis atau bahkan cabe bawang tambahan.
Lalu sampailah di mana, indomi tidak sendiri lagi. Muncullah kawan-kawan baru yang dekat di hati kaum sekolahan, semisal alhami, supermi dan mi gemes -Duh, inget dedek-dedek gemes-. Especially tren mi gemes ini dulu, tidak ada jenis mi-mian yang selamat dari kehancuran yang terjadi dari dalam. Kita tidak bisa bayangkan semisal pengkhianatan ini muncul di kaum manusia. Beruntung cuma di kalangan mi-mian. Sampai kinipun, mi-mian tetap menjadi penyelamat kaum mahasiswa baik fakir maupun non-fakir.
Apa yang menjadi inti cerita yang...
sebenarnya ga ada intinya sih cerita ini. wkwkwkwk. Yaudah wes sekian aja postingan tidak bermanfaat ini dituliskan. Semoga hari-hari kalian tetap original. Yess.