Menghela napas panjang, bersama lantunan kipas yang usang, berderu seakan selalu mengusik ruang ini. Manusia sekecil melodi dari milyaran melodi yang ada di dunia ini.
Menjelma bagaikan semut yang tak menghiraukan kehipan sekelilingnya, mengudara bagai elang di tengah samudra.
Ku tak tau perasaaan apa ini, perasaan, yang aneh menjadi sayu, menjadi redup, tiba-tiba bangkit dengan kemauannya sendiri. Percikan api, deburan ombak, hingga menyengatnya udara asam pantai yang membuat bertambah pertanyaan dalam hati ini, pertanyaan tentang apakah perasaaan ini.
Sudahlah tak usah lagi dipikirkan akan perasaan itu, sudahlah biarkan ia hilang dengan sendirinya terbawa jaring-jaring mega senja hari.
Berencana, resolusi, bukan hal asing lagi dalam hidup ini, setiap tahun selalu berubah, berubahnsesuia dengan apa maunya diri ini, inilah semangat baru, semangat yang membuat untuk hidup dengan pencapaian-pencapaian yang diharapkan.
Terhenti saat tahu bahwa resolusi itu begitu terwujud, meskipun itu tidak banyak adanya. Tapi itulah yang membuatku yakin bahwa resolusi ini mimpi yang diangan dan akan bisa terwujud satu demi persatu.
Setelah membuka lembaran lama, ku coret semua resolusiku yang tercapai ditahun ini, tahun 2014 yang menarik dengan berbagai peristiwa yang menghampiri bertubi-tubi. Kekacawan hati, kesenangan mata, kepekaan rasa, hingga pertikaian dua ruh yang benar adanya.
Masih banyak resolusi yang blom tercapai, dan jika ku lihat semua resolusi besar itu yang lama terealisasi. Mungkin kata pantas itu belum melekat pada diri ini, senyawa nya belum menyatu dengan senyawaku, seperti kutub magnet yang selalu berbeda. Namun resolusi kecil dan sederhana itulah yang terwujud dengan seleranya, kenapa seperti itu ia hadir ketika kegundahan dating, resolusi kecil itu hadir ketika memang sangat dibutuhkan sekali, sehingga membuat tubuh ini paham, kapan ia membutuhkan dan sebaliknya.
Dilihat dengan sepasang bola mata ini, seksama hanyut di dalamnya, resolusiku ini terfokus bagaimana Egoku ini terpuaskan, ego yang membuat bahagia, yang menyokong semangat demi memuaskan hasrat keinginan itu.
Entah ini kelemahan atau memang ini suatu kelebihan, aku orang yang sangat sulit untuk meminjam, meminta tolong untuk hal kecil selain dari kematian, ya ada perasaan yang membuat hati ini menyuruh untuk tidak memperbolehkan keluar kata meminjam, meminta dan hal terkait. Aku melihat ketika sudah membuat orang tidak nyaman dengan apa yang aku pinjam ya sudah ku tidak akan mengulangi meminjam lagi, dengan harapan bisa membeli apa yang menjadi kebutuhanku. Kata-kata meminta itu juga menjadi ganjalan dalam hati,
“Mengapa aku mengeluarkan kata meminta padanya” batin ini teriak
Aku memang tidak pernah menginginkan hal itu, namun terkadang hati dan perkataan ini bisa tidak sinkron satu sama lainnya. Sehingga muncullah kata Meminta. Ketika sudah demikian, hanya batin yang mempermasalahkan mulut yang mengeluarkan perkataan itu.
Bahkan ketika dengan orang tuapun aku diam, sebelum ditanya apa keinginanku.