Rumah Iman
Bismillahirrahmanirrahim...
Ada degup ketika melewati potongan ayat surah al-Hasyr.
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ
Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman.
Kata الدار disandingkan dengan kata الإيمان
Seolah orang-orang Anshar selain menempati kota juga telah menempati iman.
Tertelisik, kemudian coba mencari pendapat Syaikh Mulia Mutawalli Asy-Sya'rowi Rahimahullah.
Benar saja, beliau seperti coba mengikis sesuatu yang keras dalam hati.
"Allah menjadikan iman sesuatu yang terasa bisa ditempati (layaknya rumah)".
"Rumah bagi seseorang yang pulang menjadi tempat istirahat setelah lelah seharian beraktivitas".
"Begitu pun iman bagi hati. Sebagaimana rumah menjadi tempat pulang bagi seseorang. Iman juga menjadi tempat pulang bagi hati. Apapun problem dan keadaan yang dirasakan hati. Ia pulang kepada iman. Hati senantiasa ingin lekat pada iman. Hati juga ridho iman sebagai hakim dan pengatur, demi seluruh kehidupan hamba".
Jadi...
Apapun keadaan hati kita. Imanlah tempat pulangnya.
Semoga dengan kelaziman hati kita yang selalu pulang kepada iman.
Orang-orang di sekitar kita juga nyaman kembali pada kita. Disebabkan... Kita dan iman selayaknya rumah yang nyaman untuk kembali.








