Pursuing Dream
“So when you can start pursuing your most creative and passionate life?You can start whenever you decide it to start.” (Elizabeth Gilbert in her book Big Magic)
Tepat di bulan Maret 2016 ini saya mendapatkan pekerjaan baru. Saya akui pekerjaan baru saya ini tidak menjanjikan gaji yang besar, atau jenjang karir yang tinggi. Lalu kenapa saya memilih untuk mengambil pekerjaan tersebut? Karena saya mempunyai sebuah misi yang saya namakan misi suci.
Bagi teman-teman yang mengenal saya pasti tahu kalau saya memiliki minat dan passion di beauty industry. Salah satu impian saya – dari sekian banyak impian yang bertaburan – memiliki sebuah perusahaan jasadibidang kecantikan dengan berbahan dasar natural organic, ramah lingkungan, terjangkau dalam segi harga, dan pastinya with a touch of technology. Saya hidup dengan mimpi saya ini kurang lebih semenjak saya duduk dibangku SMA kelas 3. Run a business in beauty industry is not the only one dreams loh. Saya pernah ingin menjadi dokter gigi, diplomat, agen FBI, penulis novel, dan pengembara hahaha but no one of them become true. Kalau dibilang sedih, hmm tidak juga karena bagi saya mimpi tersebut hanya sebuah keinginan bukan mimpi yang ingin dijadikan sebuah kenyataan.
Untuk memahami apa yang benar-benar saya inginkan butuh pengorbanan waktu yang cukup lama. Semasa kuliah saya cukup banyak mencoba hal ini itu, karena dulu saya berfikir nikmati dulu masa muda sebelum nantinya kerja dan tak ada waktu untuk bermain dan sepertinya saya salah strategi which is it ends up wasted a lot of time, energy, and money just for having fun without thinking about what I really want to do in the future! That’s so true embarrassing. Akhirnya, in my early twenties saya seperti keteteran dan mulai pusing memikirkan mau jadi apa nanti kedepannya.
Setelah yakin dengan hal yang saya sukai saya memutuskan untuk fokus memulai mempelajari dunia beauty industry. Baby steps yang saya pilih adalah bekerja di sebuah klinik kecantikan yang cukup terkenal di Yogyakarta. Dihari pertama kerja saya terkaget-kaget karena culture kerjanya sangat jauh berbeda dengan culture di perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Ya sempat dibuat menangis, setiap pulang kerja mengeluh, mau berangkat rasanya malas sekali, dan harus berdrama ria dulu setiap paginya. Sampai akhirnya pacar saya menantang saya untuk berperan sebagai CEO perusahaan tersebut agar saya kerja dengan bahagia, memiliki sense of belonging, dan lebih bersemangat kerja. Hitung-hitung latihan untuk menjadi CEO kelak diperusahaan saya yang sungguhan haha. Amin!
Waktu yang saya miliki cukup terbatas, walau sebenarnya bisa memperpanjang kontrak namun saya memilih untuk “sekolah” satu tahun saja. So, saya harus benar-benar memaksimalkan diri untuk belajar dan memperdalam ilmu karena tahun depan saya menginginkan belajar hal lainnya yang tentunya masih berhubungan dengan beauty things. Saya sendiri tidak bisa menjamin apakah keinginan yang saya tekuni akan membawa kesuksesan nantinya, yang terpenting teruslah berusaha, kerjakan apa yang diyakini, do it with courage and persistence. Toh apabila nantinya tidak berujung pada apa yang diinginkan, God will lead to something better and beyond our expectation. Don’t give up!














