Mengejar Revitalisasi Industri Gula
Program swasembada pangan dan energi dibidang pergulaan memang telah menjadi pekerjaan rumah bangsa ini. Jumlah kapasitas hasil produksi berbanding terbalik dengan jumlah permintaan industri dan rumah tangga nasional yang terus meningkat, akibatnya industri gula kita tidak akan pernah mampu memenuhi dapurnya sendiri.
Menurut Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyebutkan produksi gula nasional pada 2015 tercatat hanya mencapai 2,49 ton. Capaian ini lebih rendah jika dibandingkan target produksi gula nasional yang ditetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 2,7 juta ton. Senior Advisor AGI Yudi Yusriadi menambahkan bahwa produktivitas pada 2015 ini lebih rendah jika dibandingkan produktivitas gula pada 2014 yang mencapai 2,57 juta ton dengan produktivitas hablur 5,41 ton/ ha, bobot tebu 70,7 ton/ha dan rendemen 7,65 persen (Deny, 2016).
Mulai permasalahan setelah zaman orde baru, pergulaan kita seakan hanya mati kutu dan tak memiliki ketajian serta ketajaman dalam berevolusi, apalagi menjadi revitalisasi. Kerugian pengelolaan pergulaan nasional selalu menjadi permasalahan yang sama, mulai dari masalah internal, eksternal hingga masalah in-kontinuitas para pemangku dan pengelolaannya. Industri gula kita saat ini, tak terintegrasi baik antar sektor on farm (petani) dan sektor off farm (pihak swasta). Hubungan tersebut menimbulkan ketidakpercayaan antara petani dan pabrik gula (PG) yang membuat indutri gula terkesan seperti benang kusut. Permasalah yang lain adalah supporting system yang berjalan tidak harmoni antara petani dan PG yaitu pihak asosiasi petani yang seharusnya berjalan satu suara untuk memajukan kesejahteraan petani, dan tidak lagi memihak salah satu kubu tertentu demi kepentingan kelompok. Tantangan yang paling besar adalah semenjak perdagangan bebas 2015 telah resmi dibuka, seakan indutri gula kita seakan lemah dan tak berdaya atas persoalanan teknologi atau penelitian yang masih dianggap sebelah mata hingga berujung pada lesunya produktivitas gula. Lembaga penelitian P3GI contohnya hanya mampu menggigit jari atas minimnya pendanaan dan banyaknya urusan kepentingan yang bernaung di dalamnya.
Program pendongkrak gula nasional sebenarnya telah banyak dicetuskan, dikemukaan, dan diproklamirkan, namun hanya beberapa persen yang mampu dianulir dengan baik oleh pemangku jabatan pergulaan nasional. Jika boleh berkaca keruwetan masalah pergulaan kita dalam mencapai sebuah revitalisasi memang tak mudah, salah satunya moderinasi peralatan produksi yang telah dibawa zaman kolonial yang tidak ada inovasi ketebaruan mengikuti permintaan pasar. Selain itu, gagapnya manajemen sumberdaya manusia sebagai aktor intelektual dalam mengembangkan industi gula nasional tidak mampu menjalankan iklim kontinuitas kerja maupun prestasi kerja.
Road map perencanaan untuk mencapai revitalisasi gula sebagai upaya swasembada pangan dan energi, telah rapi dirumuskan dan dicanangkan, bahkan sangat baik. Namun eksekusinya lagi-lagi selalu terseok-seok dan tertatih-tatih, kemudian berhenti dan berjalan mundur atau justru sebaliknya. Kerumitan itu jelas tergambar, bahwa perumusan road map perencanaan sangat baik strukturnya dalam konsepnya, namun lagi-lagi gagal sebagai acuan yang disiplin dalam menjalankan. Faktor gagalnya kontinuitas dijalankan oleh pemangku industri gula nasional, salah satunya adalah pergantian rezim dan pimpinan baru, artinya mengubah kembali road map yang telah ada. Krisis kepemimpinan juga menjadi salah satu njelimetnya industri gula nasional kita, yang bertugas mengawal sebuah kebijakan yang dirancang untuk sebuah tujuan revitalisasi gula nasional. Salah satu program road map yang telah ada adalah program jangka pendek, yang hanya berjalan sementara dengan hasil instan belum menjadi solusi pamungkas pergulaan kita, program jangka panjang harusnya lebih dikonsentrasikan untuk permasalahan menunju revitalisasi gula untuk mencapai swasembada.
Setelah perencanaan revitalisasi industri gula sering dirumuskan dan didengungkan, permasalahan lain adalah program revitalisasi industri non-gula belum mampu berkonsentrasi secara penuh pada produk hilir secara optimal. Revitalisasi produk hilir memiliki berbagai sumbangsih besar dalam memutar balikkan produk non-gula nasional secara komperhensif, walaupun memang masih perlu proses panjang dalam mengejar Thailand atau Brazil sebagai penghasil non-gula hilir yang lebih perkasa. Namun dengan semangat optimisme dan keberanian akan mampu mengejar cita-cita swasembada dengan proses yang luar biasa maksimal. Solusi yang sering dikemukaan dalam menghadapi permasalahan revitalisasi industri gula nasional adalah tindakan efisiensi, diversifikasi, dan optimalisasi. Tindakan lainya yang wajib ditambahkan dalam mengeliatkan industri gula nasional adalah transparansi dan inovasi.
Industri gula nasional tidak terus berkutat dengan mencapai target produksi yang berkonsentrasi pada efisiensi, dan optimalisasi semata, namun transparansi antar manajemen sumber daya manusia adalah yang sangat penting diberdayakan. Transaparansi yang dikemukaan ialah berdasarkan atas kepercayaan dan loyalitas industri on farm dan off farm. Hal ini berkaitan dengan interaksi, kepercayaan dan komunikasi yang perlu dibina dengan baik antar petani tebu, stekeholder dan PTPN. Transparansi tersebut mampu menghasilkan kebijakan yang memanusiakan petani, merangkul petani dan pihak stakeholder untuk bergeliat berharmoni dalam mencapai revitalisasi industri gula sebagai impian bersama. Transaparani yang dilakukan untuk mencapai tujuan terbut memiliki banyak cara diantara diskusi publik, komunikasi dua arah dan keterlibatan semua kalangan industri gula dalam merumuskan langkah terdepan untuk pergulaan nasional.
Selain transparansi, solusi yang sudah harus dipikirkan oleh PTPN dan pemerintah adalah menciptakan kembali Pusat “Grand” Riset pergulaan nasional dibawah naungan pemerintah. Riset memiliki arti penting dalam inovasi kreatif sebagai magnet moderinasi paling virtual yang mampu diimpelementasikan. Pusat riset gula yang telah berdiri dari zaman kolonial tetap bertahan sebagai pusat riset gula nasional saat ini yaitu Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), masih belum dimanfaatkan secara optimal sebagai prioritas guna mencapai revitalisasi swasembada pangan dan energi dibidang gula.
Riset yang telah banyak dihasilkan oleh P3GI menggunakan varietas yang bagus dan higienis diantaranya diversifikasi produk seperti, monosodium glutamate (MSG), pasta pemanis menyerupai pasta gigi yang asalnya dari nira tebu, sirup glukosa, lilin, produk kosmetik seperti lipstik. Khusus berbasis tebu, ampas yang keluar dari pabrik dapat menjadi pakan ternak dan kertas. Selain itu Pabrik Gula (PG) menghasilkan produk tetes tebu (molasses). Tetes tebu memiliki senyawa yang baik yang bisa digunakan sebagai bahan baku fermentasi. Saat ini minuman sari tebu yang marak menjadi jajanan pasar. tebu memiliki pohon industri yang tak kalah kompleks dari jenis tanaman lain. Di dunia ada 1500 industri berbasis tebu dan 50 yang sudah komersial yang menggunakan bahan tebu atau sisa prosesnya (Wardhini, 2013). P3GI seakan kembang kempis dalam menyalurkan riset untuk pergulaan nasional, karena eksistensinya hanya diperlukan sebagai second opinion yang paling terakhir untuk sektor hulu dan hilir saja.
Pemberdayaan Pusat Riset Gula tidak hanya melalui segi pendanaan melainkan dari berbagai bidang, diantaranya keluwesan pusat riset dalam mengimplementasikan hasil riset yang berorientasi pada kemajuan inovasi gula nasional. Pusat riset gula bukan hanya menjalankan fungsinya sebagai riset ilmiah dibiang sektor hulu atau hilir dari sebuah industri gula, namun lebih dari itu pusat riset gula diciptakan untuk mengembangkan inovasi lebih jauh tentang perkembangan pasar industri gula atau manajemen agroindustri bisnis. Riset yang lebih luas dapat terus dikembangkan adalah manajemen agroindutri gula, segmen pasar, riset tentang hubungan antar petani dan stekeholder sebagai penyelaras harmoni antar on farm dan off farm, pengembangan sumber daya manusia kreatif dalam pemasaran dan promosi industri tebu sebagai produk agroindustri kompetitif. Riset tentang agroindustri gula juga meluas hingga penciptaan brand dan elektabiltas disektor hulu hingga hilir yang dirancang hingga kesatuan komponen industri gula nasional.
Swasembada pangan dan energi melalui revitalisasi industri gula bukanlah hal yang sulit, selama semua pihak yang berkecimpung dalam industri ini mampu menjawab semua solusi yang ditawarkan dengan bijaksana, tepat, dan kontinu. Ketegasan dalam merevolusi sebuah agroindustri yang memiliki nilai sentimental bagi negara ini adalah hal yang patut diperjuangkan, termasuk dalam revitalisasi industri gula. Kesabaran, ketepatan, dan tranparansi termasuk melakukan sepenuh hati untuk kejayaan industri gula mencapai revitalisasi adalah hal yang tak boleh diabaikan. Tantangan zaman akan terus berputar, maka revitalisasi industri gula seyogyanya mampu menjadi sandaran bagi bangsa ini untuk mengembalikan kehormatan negeri zamrud katulistiwa dengan berbagai potensi sumberdaya manusia dan plasma nutfah yang berada didalamnya, termasuk mencapai produk yang kompetitif.
Deny,Septian. 2016. Produksi Gula Nasional 2015 Meleset dari Target. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/2410780/produksi-gula-nasional-2015-meleset-dari-target, pada tanggal 29 Juli 2016 pukul 22.03
Wardhini,Cici. 2013. Sepatutnya Riset Gula Diberdayakan. Diakses dari http://asosiasigulaindonesia.org/sepatutnya-riset-gula-diberdayakan/ pada tanggal 28 Juli 2016 pukul 22.15