"Kadang kita terlupa, segala hal yang menjadi keberhasilan industri dalam memantik pembangunan infrastruktur, bila tak diimbangi oleh pembangunan elemen organik akan menciptakan masyarakat yang terjebak pada pola-pola mekanis."
Umumnya wisuda dipandang sebagai lembaran baru, awal bagi anak muda ingusan dalam menghadapi kehidupan nyata yang konon begitu keras. Pintu awal bagi status baru yang populer disebut dengan pengangguran. Bukan istilah yang disukai, tapi bagi para fresh graduate yang tak kenal Pak Agus, Bu Siska, dan bapak atau ibu lain penyedia layanan jalur belakang status ini adalah niscaya.
Tak ayal, perebutan status pekerja menjadi begitu sengit bilamana melihat tak semuanya punya akses itu. Seleksi alam terjadi, yang kompeten tersangkut dan sisanya tercerabut. Wajar saja, perusahaan menginginkan jangka hidup yang panjang, kalau perlu hingga tujuh turunan. Sustainable, bukan sesuatu yang bisa ditawar. Dan sumber daya manusia berkualitaslah yang menjadi tambatan hidup.
Untung saja pendidikan masih mampu menjadi garda terdepan dalam usaha penyediaan stok sekrup-sekrup industri berkualitas. Begitu menjamurnya institusi pendidikan memberi masa depan bagi ekosistem industri. Dari swasta murni hingga swasta berkedok plat merah kompak bahu membahu mencetak semacam survival kit bernama ijazah, sembari mencetak kesadaran bahwa semua ada ongkosnya.
Segala kelamaan studi dan kemahalan itu diatasnamakan sebagai garansi untuk masa depan yang lebih cerah nan menggugah. Bila tak seinspirasional itu, bisa membuat tetangga kanan kiri iri saja sudah cukup.
Persoalannya, ada saja hasil produksi studi yang gagal paham atas briefing dari bisnis pendidikan. Disorientasi para alumnus yang menimbulkan kebingungan, tenaga yang tak segera diserap oleh lapangan pekerjaan, buta akan demografi industri yang menyebabkan mereka tak bisa bertahan, survive, dari berbagai tuntutan. Mungkin terasa sebagai kesalahan personal yang dibangun selama masa studi karena mencandu candaan. Tapi bagaimana kalau institusi pendidikan kita juga sebercanda itu.
Maka refleksi atas momen wisuda merupakan sedekah intelektual atas segala hal yang terjadi pada pribadi dan diri institusi pendidikan. Bukan sekedar awal baru, apalagi bila hanya dimaknai sebagai penanda bergantinya fase baru yang dibuka dengan pidato berapi-api soal peran pemuda yang kadang hanya jadi basa-basi belaka, namun apakah kita bersama dengan perangkat-perangkat pendidikan secara riil mampu menjadi agen penyebar kecerdasan sekaligus kegembiraan. Kadang kita terlupa, segala hal yang menjadi keberhasilan industri dalam memantik pembangunan infrastruktur, bila tak diimbangi oleh pembangunan elemen organik akan menciptakan masyarakat yang terjebak pada pola-pola mekanis. Pola mekanis akan melahirkan rutinitas. Rutinitas akan menghasilkan kebosanan.
Dan masyarakat yang bosan adalah masyarakat yang berbahaya, tak ada inisiatif yang akan lahir selain dari perasaan yang gembira.
Memperjuangkan kegembiraan bukanlah kesia-siaan. Institusi pendidikan sebagai peletak pondasi intelektual idealnya mampu menangkap daya selamatnya yang dahsyat. Sehingga hakikat pendidikan sebagai penolong yang murah hati dan menjadi katalisator perubahan bagi masyarakat untuk kembali bergerak dan menggerakkan kebaikan. Atas nama kegembiraan.