Membantu Sesama Bukan Sebuah Kewajiban #PrayForKelud
“ Relawan tak dibayar bukan karena tidak bernilai. Tapi justru karena tak ternilai harganya.”
Beberapa dari kita mungkin mengatakan bahwa alam sedang murka. Beberapanya lagi mengatakan mungkin ini adzab dari Tuhan. Namun bagi saya, ini bukan adzab dari Tuhan pun murkanya alam. Ini adalah sebuah kesempatan istimewa yang diberikan kepada kita. Kesempatan untuk membantu sesama, kesempatan untuk mengenal lagi siapa orang-orang disekeliling kita serta sebuah kesempatan istimewa untuk saatnya sedikit menyingsingkan lengan baju serta memberikan uluran tangan kepada saudara-sudara kita yang tertimpa musibah.
Musibah itu bisa terjadi dimana saja, bisa terjadi pada siapa saja. Jika saat ini orang lain yang sedang mengalaminya, mungkin besok kita juga bisa mengalami hal yang sama atau bahkan lebih.
Seperti yang dikatakan oleh seorang teolog, dokter serta filsuf Jerman penerima nobel perdamaian di tahun 1953, Albert Schweitzer, bahwa
“Wherever you turn, you can find someone who needs you. Even if it is a little thing, do something for which there is no pay but the privilege of doing it. Remember, you don’t live in a world all of your own.”
Membantu sesama bukan lagi sebuah kewajiban. Membantu sesama ialah hak istimewa yang sangat layak untuk kita terima. Dengan menjadikannya sebuah hak, maka tanggung jawab untuk membantu sesama ini tidak akan lagi dianggap sebagai sebuah beban namun sebagai sebuah kesempatan.
Salah satu kesempatan untuk bersama-sama mengulurkan tangan berada di Kelud.
Beberapa hari ini berita-berita di televisi, surat kabar maupun radio didominasi oleh beberapa berita bencana. Salah satunya ialah letusan Gunung Kelud, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 2014 lalu dan sebanyak 87 ribu lebih saudara kita yang berada di sekitar gunung berubah status menjadi pengungsi.
Pada kondisi ini saya akhirnya melihat bagaimana pemerintah, aparat negara, mahasiswa, berbaai macam organisasi serta komunitas bersinergi untuk saling bahu membahu menyelesaikan masalah. Secara bersama-sama serta saling merentangkan tangan untuk merangkul saudara-saudara kita di pengungsian. Dan rangkulan itu datang dalam bentuk apa saja seperti sembako, baju-baju layak pakai, obat-obatan, air bersih, dll.
Walaupun kini status Kelud telah diturunkan menjadi siaga dan sebagian besar pengungsi telah dipulangkan, bukan berarti masalah ini telah selesai. Ribuan orang yang rumahnya rusak karena lahar masih membutuhkan kita. Masih tetap membutuhkan uluran tangan kita. Masih membutuhkan dukungan dari kita.
(gambar: dokumentasi pribadi)
Beruntungnya saya mempunyai teman-teman seperjuangan dari FISIP Brawijayayang tanggap serta sejak awal bersedia ikut serta merentangkan tangan untuk merangkul sudara-saudara kita di pengungsian. Bersama-sama mengulurkan tangan dan saling menguatkan. Sejauh ini kami telah melakukan beberapa hal mulai dari mengumpulkan bantuan hingga melakukan pendampingan kepada adik-adik di pengungsian.
Kenapa adik-adik ini butuh pendampingan?
Menurut kami, anak-anak ialah sebuah indikator kebahagiaan yang paling alami. Bagaimanpun masalahnya, dan seberat apapun beban yang ditanggung oleh para orang tua, semuanya akan terasa ringan jika lengkungan sabit di bibir anak-anak mereka terkembang. Sederhananya, kami terus berusaha untuk membuat adik-adik ini tetap bahagia dengan senyum tetap terjaga di kondisi apapun juga.
(gambar: dokumentasi pribadi)
(gambar: dokumentasi pribadi)
Maka dari itu, sampai hari ini pun kami, teman-teman relawan dari FISIP Brawijaya, masih membuka pintu selebar-lebarnya kepada kawan-kawan lain yang mungkin ingin merentangkan tangan bersama untuk merangkul saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah ini.
Jika kawan-kawan ada yang berminat untuk bersama-sama merentangkan tangan dan memberikan rangkulan, bisa hubungi nomer dibawah ini:
cp: Oni : 08563010121 / Nina : 083834858005
Sekali lagi saya katakan bahwa membantu sesama ini bukanlah kewajiban yang harus kita jalankan. Mengulurkan tangan serta merangkul saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah ialah sebuah hak istimewa bagi kita.
Oleh karena itu, yuk kita berikan uluran tangan kita kepada mereka lalu rentangkan tangan lebar-lebar untuk merangkul mereka agar lebih kuat di situasi sulit ini! (nina)