Plot - My Choice
Hai! Aku Nisa, seorang mahasiswa yang hampir tengah putus asa karena ada sesuatu yang mengganjal pikiranku saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 sore, sedari tadi aku hanya berdiri termenung menatapi undangan, yang ditujukan kepadaku, terletak di atas kasurku.Seketika aku bingung dan berpikir haruskah aku menghadiri undangan tersebut atau tidak, karena jika dilihat ia, tepatnya si pengundang, aku tak mengenal baik dia dan bukanlah teman terdekatku, jika bisa dibilang aku hanya kenal dia sebatas teman “biasa”. Aku ingat saat tak sengaja menumpahkan minumanku ke arah gaunnya yang indah saat festival kampus dimulai, sehingga membuatnya begitu marah sampai menggerutu dan aku pikir ia sudah sangat membenciku. “(Well, kau melakukan hal yang bagus sekali kawan...)”, kataku dalam hati saat mengingat kejadian memalukan itu. Dan yah, walaupun begitu ia tetap saja berbaik hati mengundangku. Aku memang sangat supel, setidaknya itu yang dikatakan teman-temanku, namun aku juga dapat menjadi gugup jika bertemu dengan seseorang yang terindikasi membenciku karena hal yang sangat sepele, walaupun memang kenyataannya itu adalah kesalahanku. Seketika aku berpikir lagi dan tanpa buang-buang waktu lagi aku harus segera memantapkan pilihanku untuk datang atau tidak. Seketika aku mengucapkannya dengan lantang, “BAIKLAH! AKU AKAN DATANG!”
..........................................................
Pestanya sungguh meriah, aku datang bersama Erika. Nampak sesosok wanita cantik dengan gaun putih mendekatiku, benar saja itu Lina, ia mendekatiku perlahan.
“Hei! Kau datang juga!”, katanya sambil tersipu, sepertinya dia sedikit senang.
“Dengar Lin, well, aku minta maaf saat di festival waktu itu, aku tak sengaja”, kataku sambil menyesal, aku menunduk berlahan sambil memainkan kakiku pelan.
“Sudahlah, aku memaafkanmu. Aku juga tak sengaja meneriakimu langsung waktu itu, yaah aku pun juga kaget dan tak sengaja langsung marah. So, kita baikan?”, kata Lina sambil menjulurkan tangannya ku arahku.
“Kita teman!”, kataku sambil menyambut tangannya dan bersama-sama tersenyum kembali.
..........................................................
“Tidak.... kurasa ku tak akan datang.....”, kataku membuyarkan lamunanku yang kuharapkan agar terjadi, namun aku langsung berlalu sambil mengambil undangan Lina dan menaruhnya di meja belajarku. Aku hanya terdiam dan mulai menyiapkan beberapa buku pelajaran. Tiba-tiba ibu memanggilku dari dapur.
..........................................................................................................................
Mengunyah roti sandwichku saat istirahat sekolah, tiba-tiba saja Lina datang menemuiku yang sedang duduk santai di meja kantin.
“HEI! Kenapa kau tak datang kemarin?!”, katanya setengah kesal. Aku hanya terdiam dan tiba-tiba terlintas sesuatu di otakku.
“Sebenarnya aku ingin datang, namun nenekku sakit dan ibuku mengajakku menjenguknya, maaf ya...”, kataku sambil berteriak senang dalam hati karena ada saja alasan bagus yang bisa aku pakai saat ini, meskipun ada benarnya nenekku sakit dan yaaah aku pun juga tak berniat datang ke pestanya. Lina hanya mengangguk sedih dan mengerti penjelasanku.

















