TRAUMA KETIDAKTEGASAN
Lebih baik punya atasan galak namun tegas, daripada atasan ramah namun plin-plan
Trauma tidak melulu lahir dari kekerasan, melainkan bisa juga lahir dari perilaku yang tidak tegas. Amarah dengan memberi komunikasi lugas itu lebih menyenangkan dibandingkan teguran halus tanpa penjelasan yang masuk akal. Karena tegas itu bukan soal galak atau lembut, melainkan soal batasan tanpa plin-plan
Manusia butuh yang namanya batasan untuk pegangan hidup, bukan kelonggaran yang membuat pikiran kusut. Karena batasan itu bukan untuk membatasi prestasi, tapi justru untuk mempercepat jalan kita menuju prestasi. Kelelahan dalam hidup bukanlah trauma. Kelelahan tanpa batasan itulah yang memicu trauma
Tuntunan untuk mendapatkan nilai ujian tinggi padahal tidak remedial memicu trauma. Rapat ormawa tanpa batas waktu memicu trauma akibat rapat sampai larut malam. Sindiran pulang tepat waktu di kantor padahal tak ada keperluan lembur pun memicu trauma
Ketekunan dengan batasan yang longgar memang bisa saja mencapai target.. Namun longgarnya batasan menciptakan sistem kerja yang kusut. Sehingga jika sudah mencapai target, lebih banyak luka yang didapat dibandingkan rasa puas
Beda halnya jika sudah dibatasi dengan tegas. Dengan begitu, segala celah kekusutan telah ditutupi dengan batasan tanpa plin-plan. Bertahap-tahap, sebuah tim bisa menggapai target dengan kepuasan hakiki
Demikianlah asal-usul trauma, tidak berasal dari kerasnya dunia. Tapi dari ketidaktegasan dalam menghadapi kekerasan dunia itu sendiri















