Red District Project (RDP) dan Plasticology: Seni sebagai Sarana Kritik Sosial dan Aksi Menyelamatkan Lingkungan
Festival Arsip bertajuk ‘Kuasa Ingatan’ digelar oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) tanggal 19 September – 1 Oktober 2017. Ada dua arsip yang sangat menyita perhatian dan menarik untuk dibicarakan lebih jauh.
Pertama, Red District Project (RDP) karya Lashita Situmorang. RDP disajikan dalam bentuk film dokumenter yang ditayangkan melalui LCD TV dan pengunjung bisa menontonnya dari sofa hitam berkapasitas 4 orang yang telah disediakan atau berdiri kira-kira 30 menit kalau kuat. RDP adalah project seni berbasis sosial yang mencoba untuk membuka dialog di antara masyarakat Sosrowijayan maupun dengan masyarakat luas. Project ini awalnya bernama Red Light District in Urban Perspective, mengambil latar di Sosrowijayan di daerah Pasar Kembang (Sarkem). Melalui project ini, Lashita ingin membuktikan bahwa seni juga dapat turut memberi kritik untuk masalah sosial.
Penonton dibawa masuk ke dalam Sarkem sebelum tempat itu terkenal dengan nama Sarkem. Ternyata, wilayah itu dulu lebih akrab disebut Balokan. Dalam bahasa Jawa, balokan berarti potongan-potongan kayu berbentuk balok, yang saat itu digunakan sebagai bahan bakar kereta yang melintas dan berhenti di Stasiun Yogyakarta. Praktik prostitusi berawal dari kunjungan-kunjungan opsir Belanda yang menginginkan ‘escort’. Dulu memang di jalanan itu banyak yang berjualan bunga sehingga orang yang tidak menyebut daerah itu Balokan, menyebutnya Pasar Kembang. Hari ini Sarkem telah mengalami pergeseran makna. Orang-orang tahu bahwa di pasar itu memang banyak “kembang” yang merujuk pada perempuan yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Nyatanya jarang dijumpai penjual bunga di sana, barangkali telah berpindah semuanya ke Kotabaru.
Beberapa orang di Sosrowijayan diwawancarai dalam tayangan itu, termasuk Ketua RT atau Kepala Dusun saya agak lupa dan seorang ibu yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY). Mengejutkan! Masyarakat Sosrowijayan tidak membeda-bedakan perlakuan antara warga asli dengan warga asli dan warga asli dengan pendatang yang kemudian menjadi pekerja seks. Di sini mereka disebut ‘anak asuh’, didata, beraktivitas dan berinteraksi layaknya warga kampung lainnya. Betapa toleransi masih berwajah manis di kota yang katanya kini mulai tak berhati nyaman ini.
Para ‘anak asuh’ itu bahkan mengikuti pengajian yang biasanya diselenggarakan sebulan sekali dengan mendatangkan kyai atau ustadz ke masjid setempat.
“Ya saya minta mereka (anak asuh) untuk ikut mengaji. Saya bilang kan kerjanya nanti malam, jadi habis Ashar/Maghrib (saya lupa persisnya) bisa mengaji terlebih dahulu. Dan mereka mau.” tutur pejabat dusun.
Harmoni terjalin antara warga dan ‘anak asuh’, dengan penerapan aturan tidak boleh berisik di atas jam 12, menetapkan tempat-tempat berbeda untuk karaoke, makan, dan seks -serta pendidikan seks yang diselenggarakan bersama LSM yang bergerak di bidang tersebut. ‘Anak-anak asuh’ juga mendapatkan pelatihan usaha mandiri seperti membuat kerajinan tangan atau menjahit. Modalnya, berupa kain dan mesin jahit didapat dari pemerintah dan dinas sosial. Satu-dua dari mereka biasanya sukses membuka usaha sendiri berbekal ilmu dari pelatihan itu dan berhenti menjadi pekerja seks.
RDP berhasil mengubah pandangan tentang Sarkem dari ‘tempat yang kotor’ menjadi ‘tempat bertumbuhnya toleransi’, setidak-tidaknya bagi saya.
Kedua, Plasticology karya Made ‘Bayak’ Muliana. Plasticology adalah project Made Bayak yang mencoba memberikan solusi atas masalah lingkungan, khususnya limbah plastik. Sampah plastik digunakan sebagai media melukis, menggantikan peran kanvas. Ada beberapa lukisan yang dipamerkan di FestSip serta dokumentasi kegiatan workshop Made Bayak di beberapa sekolah dan komunitas. Kalau tidak salah, di pembukaan pameran itu Made Bayak juga melukisi peta Bali dengan tulisan SOLD sampai penuh, dan melakukan hal yang sama pada peta Yogyakarta, dengan tulisan DIDOL (dijual). Ini juga adalah kritik atas dikuasainya dua destinasi wisata paling ramai di Indonesia itu oleh pihak-pihak yang lalu meminggirkan peranan warga lokal dalam menjaga wilayahnya sendiri.
Salah satu sukarelawan FestSip menjelaskan Plasticology sebagai project seni yang menjawab permasalahan lingkungan. Ia menawarkan dengan ramah, ‘mau dijelaskan sedikit tentang lukisan-lukisan ini Kak?’ Betapa menyenangkannya jika pameran-pameran selanjutnya, apa saja, dilengkapi dengan personel seperti di FestSip 2017. Penjelasannya singkat dan padat sehingga masih menyisakan rasa penasaran.
Beberapa hari setelah pembukaan FestSip 19 September 2017, ingatan saya kembali ke Plasticology. Saya pun menelusuri nama Made Bayak via Google. Dari beberapa sumber, saya mendapatkan informasi bahwa Made Bayak mulai tertarik untuk menggunakan plastik sebagai media berkaryanya sejak masih kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Project pertamanya yang menggunakan limbah plastik bertajuk ‘PLASTILITICUM’, terinspirasi dari pembagian periode zaman batu semacam megalitikum dan palaeolitikum. Saat itu karyanya belum spesifik lukisan, masih ada beberapa karya tiga dimensi.
Made Bayak yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan ini sempat menggelar beberapa pameran lukisan (kanvas) yang berisi kritik atas berbagai masalah sosial, politik, dan lingkungan di Bali. Hingga suatu saat ada pengunjung yang bertanya, “memangnya melukis seperti ini berpengaruh apa terhadap masalah yang terjadi? Tidak merubah apapun, bukan?”
Kritik itulah yang membuat Made Bayak berpikir kembali, bagaimana caranya ia mengkritik lewat seni tapi juga sekaligus menyediakan solusi. Plasticology lahir dari pemikiran tersebut. Di Bali, lebih dari 100.000 meter kubik sampah dibuang setiap harinya. Kardus dan besi masih diambil oleh pemulung untuk dijual kembali. Sedangkan plastik sepi peminat. Maka, oleh Made Bayak dijadikanlah plastik sebagai bahan dasar untuk melukis.
Selain mengikuti pameran-pameran di Bali hingga Eropa untuk Plasticology, Made Bayak juga mengadakan workshop gratis untuk sekolah dan komunitas. Peserta workshop akan diajari bagaimana caranya melukis di atas plastik. Harapannya, satu-dua peserta akan melanjutkan usahanya melestarikan lingkungan, tidak berhenti di workshop saja.
Saya kira FestSip berperan penting dalam meningkatkan kesadaran kita akan kejadian yang sesungguhnya dekat, namun tidak bisa tersentuh sebelumnya. FestSip juga mampu mengubah persepsi seseorang terhadap apa saja, khususnya arsip. Terakhir, sedikit banyak FestSip menumbuhkan semangat literasi lewat rasa penasaran yang ditimbulkannya melalui karya-karya dan arsip yang dipamerkan. Saya yakin, paling tidak satu dari sepuluh orang akan mencari tahu informasi lebih banyak atas sebuah karya yang ia lihat di FestSip. Semoga kelak akan lebih banyak festival dengan kemasan serupa yang bukan hanya menyenangkan tapi juga menumbuhkan semangat literasi secara diam-diam.
Chandra Wulan (Yogya, 2017)