Pergi keluar .2
di pengumuman SBMPTN kemarin, sepupu akhirnya lulus. Masuk di jurusan yang dia udah pengen dari awal. UNDIP- Geodesi.
Hal unik yang terjadi, ketika orang tuanya nelpon bapaknya (kakek ku). tangis ibuknya. Dari ucapan Assalamualaikum awal, suaranya udah bergetar histeris. terus dengan masih nangis, ibuknya bilang:
“Hafi pak, Hafi”
kakek dengan tenang menjawab, “iya, Hafi kenapa?”
“Hafi pak, Hafi”
Kakek dengan masih kalem ngomong, “Iya, gak apa-apa. Yang penting Hafi sudah berusaha”
Tante malah makin nangis, terus sambungan telponnya putus. Kakek panik, aku yang dari tadi nguping sambil main puzzle hp ikut panik.
Akhirnya setelah ditelpon ulang dan di kabarin lulus, baru terang benderang kenapa tante nangis. Terharu. Ndak bisa pisah sama anak bujangnya. Semarang terlalu jauh, wk,
Terus malam kemarin, bapak sepupu cerita, yang dia paling takutkan bukan lulus atau ndaknya, tapi perasaan anaknya kalau semisal dia ndak lulus. Perasaan anaknya yang tiap hari belajar sampai tengah malam di tempat bimbel ditengah coronces ini. Galau harus seperti apa menyikapi dan menyemangati nanti.
Terus aku terharu. 5 tahun lalu ketika pengumuman SNMPTN, ibuk juga nangis waktu ku telpon kalau lulus, kira-kira bapak mikir gini juga ndak, ya?

















