Acceptance
Kalo denger kata accept tuh ingetnya grade pas O.W.L atau N.E.W.T. yah dapat acceptable Harry sama Ron juga udah bersyukur sekalii. Aku pun juga. Kayanya dari kecil ngga punya target buat dapat top grade atau apa, tapi maunya lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih baik lagi hahaha. Terakhir jadi juara kelas itu jaman SD udah, keut!
Harusnya kan ya udah biasa aja kan kalau ngga dapat exceeds expectations apalagi outstanding. Nyatanya, muggle memang maunya lebih. Karena udah biasa dapat acceptable, pengen ngerasain outstanding sekali kali gitu. Terus usahanya apa? Baru sebatas mengkhayal dan tidak menerima keadaan. njuk piye tho???
Tadi pagi liat quote di ig Marshanda. Aku ngga punya ig, tapi abis subuh bisa pinjam gadget pak wendi buat scrolling yang tentu saja aku tahu itu mengurangi waktu tidurku dan membuang cukup banyak waktu selain membaca webtoon Oh Nari (Girls world). No debate. Nah si Marshanda nulis masa PMS dia yang memang punya perasaan yang irrational-not needing explanation- uncomfortable. Wow! that was me recently. Sungguh aku yang biasanya moodnya memang naik turun setiap hari tapi bisa dikit tahan-tahan lah, akhir-akhir ini maunya ditumpah ruahkan, ngga mau ditolak sedikit permintaanku. Apalagi kalau lagi ngantuk, jiwa arragog terbangun dalam diriku. Hiks, udahnya ngerasa jadi orang paling berdosa karena menaikkan nada pas ngomong sama Pak Wendi, menolak main sama ibrahimkun, dan masih banyak lagi. They were the one who suffered at the moment. Tapi aku juga jadi mikir kemana mana, if this if that, wow sounds so depressed.
Marshanda nulis 'The challange is to be okay not to be okay'. Dan beberapa waktu lalu sempat bahas di mentoring tentang fase penerimaan.
"Konsep acceptance itu akan semakin sulit kalau secara mental ngga exist dengan keadaan sekarang. Istilahnya susah move on. Semakin diterima emosinya semakin mudah untuk menerima keadaan.
Oh iya satu konsep penting kita dari acceptance itu kita ngga perlu memikirkan sesuatu yg diluar kontrol kita. Contohnya: takdir Allah (kita paham kan sebagai muslim setelah berusaha berdoa (tawakal) masalah hasil di luar kendali kita), omongan orang, dll
Nah tapi menerima emosi sesegera mungkin saat dia datang itu tidak menyenangkan. Ngga semua orang, tapi bisa jadi kita over reaction, over feeling dan jadi berpikir yang berat berat. Pakai tahapan menerimanya, diterima dulu emosinya baru pikirkan tindakan apa yang mau diambil (tentu saja cari yang tidak banyak ruginya ya, karena saat seperti ini sulit cari untung. Karena ESIA udah ngga ada) lalu baru deh eksekusi tindakan yang tadi direncanakan "
Jadi lagi PMS juga kita tetep harus rasional buat tindakannya meski perasaannya sangat tidak rasional ya. Di kasusnya mba marshanda ketika dia ingin menangis, dia memilih untuk duduk, meditasi baru dia biarkan air matanya keluar. Baik, sampai sini aku belajar untuk tidak menjadi reaktif seperti molecular hydrogen.
The next question is, how do we plan to react and accept the lazziness? I learned something that I need to write in an article. When I didn't accept this, I always blame my self to be the mostest laziest muggle in the history, and I am not suitable to be neither a student nor a mom nor a wife not even a human being. Indeed, the acceptance phase is hard, and this written let me release the hidden poison inside out. May Allah let me write the following article about this. see yaa my own self. Good luck on your 'thesis to be accepted' insya Allah sooner. ❤️














