Bertemu Anies Baswedan
Akhirnya, saya kembali menulis di tumblr ini. Setelah sekian lama hanya mereblog atau sekedar ngelike postingan orang. Sebenarnya ide untuk menulis sudah menumpuk di otak dari dulu. Tapi, susah sekali untuk sekedar memainkan jari-jari ini diatas keyboard. Ah sudah lah, yang penting sekarang saya bisa kembali menulis.
Jadi ceritanya, hari sabtu kemarin. Saya dan teman-teman dari media center (Medcen) ke ParpolFest di Balairung UI. Awalnya saya tidak memutuskan untuk ikut. Gak tau kenapa waktu itu saya malas pergi ke kampus impian saya itu. Selain itu agenda saya hari itu pergi ke Museum Mandiri untuk jadi voluntir Benah Perpus. Sorenya saya mau liat cultural show di Galeri Indonesia Kaya.
Singkat cerita, sebelum saya berangkat ke Museum Mandiri oknum B ngeSMS kalau dia dan anak Medcen lainnya sudah menunggu di Air mancur STAN. Dengan tanpa pertimbangan yang mendalam akhirnya saya memutuskan untuk bertolak ke Depok bersama mereka. Dengan hanya satu harapan, semoga bisa bertemu dengan Anies Baswedan.
Saya dan anak Medcen lainnya berangkat ke Depok dengan menggukan KRL. Saya berangkat bersama oknum B, oknum D, oknum DS, oknum AS, oknum P, oknum AR dan oknum AD. Menurut saya mereka asyik juga. Walaupun kedekatan kami baru dimulai minggu kemarin dalam compre Medcen. Namun saya sudah merasa mereka adalah teman yang pas di hati dan pikiran saya. Maklum saya sulit untuk mendapatkan teman yang paling tidak pemikiran kita tidak terlalu jauh.
`well, akhirnya kami sampai di stasiun Pondok Cina. Stasiun yang letaknya dibelakang kampus saya dulu (dibaca: Universitas Gunadarma). Dulu saya sering melewati stasiun ini dikala jam makan siang. Distasiun ini juga saya pertamakali menginjakkan kaki di Depok. Oke, back to the topic.
Pas turun dari KRL, saya bertemu dengan oknum P temen kuliah di gunadarma dulu. Akhirnya saya sapa dia dan melakukan percakapan singkat. Dulu saya lumayan deket sama oknum P ini. bisa dibilang temen se geng lah. Jadi saat bertemu kemarin saya gak canggung sama dia, walaupun sudah lumayan lama tidak berkomunikasi.
Akhirnya saya dan oknum lainnya sampai di Balairung UI. Tempat dimana dulu saya ingin sekali diwisuda di tempat ini. Dan impian itu masih ada sampai detik ini. ini kali pertama saya benar-benar masuk ke gedung ini. Dulu hanya bisa mengintip dari luar saja.
Oke, sesampainya disana saya dan oknum yang lain mengunjungi stan-stan yang ada. Dan bertemu dengan banyak sekali anak STAN. Maklumlah di STAN acara macem gini sangat langka. Saya juga merasa kehidupan mahasiswa STAN itu seperti terkungkung oleh sesuatu. Entahlah sesuatu itu apa, yang jelas disini kehidupannya cukup memboringkan. Dan membuat mahasiswanya terjebak zona nyaman.
Kita kesampingkan dulu bahasan tentang kehidupan di STAN. Di Balairung sedang ada semacam talkshow yang diisi oleh wakil wali kota Sukabumi dan salah seorang dari tangerang. Karena tujuan saya bertemu Anies Baswedan, saya jadi mengabaikan sesi itu.
Setelah melihat jadwal acara, ternyata Pak Anies bakal mengisi dialog kebangsaan pukul 13.30. Akhirnya, saya bersama oknum lainnya mencari tempat makan dan melaksanakan sholat. Setelah sholat kami kembali ke Balairung untuk melihat kekerenan sang idola.
Saat-saat yang ditunggu sudah tiba. Saya melihat sosok Pak Anies secara nyata. Beliau sangat berwibawa dan penuh semangat. Seperti biasa Pak Anies berbicara dengan sangat terstruktur dan menginspirasi. Sayapun mengambil beberapa foto saat ia berbicara tepat di hadapan saya. Pesan yang ia sampaikan intinya seperti yang ia usung selama ini yaitu tentang turun tangan. Namun ada hal lain yang ia sampaikan spesial untuk anak muda. Yaitu kuasai bahasa internasional, bikin CV masa depan dan bikin kartu nama.
Setelah selesai acara niat awal saya ingin berfoto dengan Anies Baswedan. Namun setelah beliau menyinggung kartu nama dalam permbicaraannya. Akhirnya saya menetapkan misi baru, yaitu mendapatkan kartu nama pak Anies. Saya pun memberanikan diri mendekat ke pak Anies di tengah-tengah bayak orang yang ingin wawancara dengannya dan mengambil foto bersamanya.
Sayapun mendekat dan mengatakan padanya. “Pak saya tidak mempunyai kartu nama, namun bolehkah saya meminta kartu nama bapak?” . “Good question” jawabnya. Kemudian ia melanjutkan “oke, catat saja nomer saya”. Sayapun mengeluarkan hp, entah kenapa saya saat itu gemeteran dan sulit untuk membuka note di hp saya. Saya juga sempat ngomong “maaf pak saya grogi”. Akhirnya diapun menyebutkan satu persatu nomornya.
Setelah itu, saya member tahu nomor hp pak anies ke dua oknum lainnya. Berhubung saya jarang menggunakan hpp saya. Jadi nomornya gak ke save. Untungnya sebelumnya saya menyuruh dua oknum lainnya mencatat nomor pak Anies.
Ini adalah pengalaman baru bagi saya, berbicara dengan sang idola. Dan itu luar biasa. Sebenarnya ada satu hal yang harus dirubah dalam diri saya setelah kejadian itu. saya harus mulai berani dan percaya diri untuk berhdapan dengan orang lain. Saya harus belajar untuk tidak memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri saya.











