Yon - Our Different Pathway
Aku tahu, mencintai dalam perbedaan seperti ini cukup berat. Namun, aku juga tahu, bahwa mataku hanya mampu melihatmu.
Tak terasa sudah 2 bulan sejak kepindahan Satoshi ke sekolah tempat Karina dan teman-temannya bersekolah. Dan tak terasa pula hubungan di antara Karina dan Tak-kun (diambil dari "Takegawa"), panggilan Karina untuk Satoshi, semakin bertambah dekat. Mereka yang tadinya sering berdebat kini jadi lebih sering terlihat dekat dan semakin dekat.
Tapi di balik semua kedekatan mereka saat itu, ada suatu ketakutan besar yang menghinggapi diri Karina. Perasaan yang mendadak muncul di saat ia mulai merasa nyaman bersama Satoshi. Ia sadar, perbedaan di antara mereka cukup besar. Dan ia takut, perbedaan itu akan memisahkan ia dan Satoshi.
"Karina-chan, doushite (ada apa)? Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan. Ada yang mengganggu pikiranmu?" Satoshi mengamati Karina yang terlihat bengong, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eh?" Karina terkejut, lantas menggeleng. "Uum.. Nandemonai." ia tersenyum menenangkan. Satoshi tak melanjutkan bertanya lebih jauh, ia pun kembali fokus ke bekalnya.
Siang itu mereka tengah duduk santai di bawah pohon tempat mereka biasa nongkrong, menikmati bekal masing-masing diiringi lembutnya semilir angin. Hanya mereka berdua.
"Karina-chan, sepertinya itu enak. Kamu nggak mau, 'kan? Aku minta, ya." tanpa aba-aba, Satoshi langsung menyambar sosis yang dibentuk seperti cumi-cumi yang tertumpuk di pojok kotak bekal milik Karina, dan langsung melahapnya.
"Ah! Jangan! Itu favoritku! Tak-kun~ bete, ah!" Karina yang melihat Satoshi melahap satu dari sekian banyak sosis favoritnya itu merajuk. Ia menggeser duduknya sedikit menjauh dari Satoshi.
Satoshi kaget. "Eh? Bukannya kamu nggak mau itu makanya kamu singkirkan di pojok seperti itu, 'kan?"
"Aku bukannya nggak mau! Justru itu sengaja kusisakan supaya aku bisa menikmatinya di akhir nanti! Baka Tak-kun (Tak-kun bodoh)!" rajuknya.
Satoshi tertawa. "Gomen, gomen (maaf, maaf). Aku tak tahu kalau ternyata seperti itu. Ne, Karina-chan. Jangan mengambek, ya. Nanti pulang sekolah aku traktir es krim, deh.." bujuk Satoshi.
Karina masih memalingkan mukanya. "Memangnya aku anak kecil, ditraktir es krim?"
"Lho, jadi nggak mau, nih? Yah, kalau nggak mau, ya sudah..." Satoshi pura-pura tak peduli.
Karina semakin merajuk. "Yaa.. Tak-kun yaa.." bibirnya mengerucut, matanya disipitkan.
Satoshi tertawa gemas melihat hal itu. Ia pun mencubit hidung Karina gemas. "Oke, oke. Nanti aku belikan. Jangan ngambek lagi, ya. Ne (oke)?" ia tersenyum.
Karina hanya bisa terdiam, menahan debaran dan rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Salting.
"Ne..." sahutnya pelan.
***
"Sejak kapan kamu dekat dengan dia?" esok paginya di kelas, Karina sudah ditodong pertanyaan seperti itu oleh Sofia.
Karina meletakkan tasnya di atas meja. "Dia? Dia siapa?" ia mengernyit heran, menggeser kursinya, kemudian duduk di sana.
Sofia memutar bola matanya gemas. "Dia, ya, dia.. Satoshi. Kamu tahu, 'kan?"
"Oh, Tak-kun? Kenapa dengan dia?"
"Tuh, 'kan. Sampai ada panggilan sayang segala, lagi. Aku curiga ada apa-apa di antara kalian." selidik Sofia membuat Karina salah tingkah.
"Ii..iie (bu.. bukan).. Kami hanya berteman biasa. Aku memanggilnya begitu karena terlalu repot kalau harus memanggilnya Satoshi. 3 suku kata, terlalu melelahkan." kilahnya.
Sofia masih menyipitkan matanya. "Benarkah? Kau yakin tak ada perasaan yang berbeda saat kalian bersama?"
"Ti-dak." sahut Karina mencoba mantap, padahal ia cemas karena dadanya sudah bergemuruh sejak tadi, takut terdengar oleh Sofia.
Sofia mendesah dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya. "Baguslah, kalau begitu. Karena, kalau kau benar-benar menyimpan rasa yang berbeda untuknya, berarti kau sudah harus siap menerima resikonya."
"Resiko?" tanya Karina bingung. "Resiko apa?"
"Ck. Kau tahu 'kan, kalau dia digandrungi para gadis? Hampir seluruh cewek di sekolah ini--mungkin--mengincar dia. Dan tak sedikit dari mereka yang gencar mendekatinya dengan agresif, bahkan mereka juga sangat berniat, sampai rela berdandan demi cowok jepang itu. Dan juga, dari gosip yang aku dengar, sudah ada beberapa cewek yang 'nembak' dia, tapi aku dengar juga sih, mereka semua ditolak. Kalau begitu, posisimu masih aman. Tapi, mau sampai kapan? Sampai kapan kamu terus berada di zona aman? Suatu saat, kamu juga pasti akan terancam, 'kan?" celoteh Sofia panjang lebar.
Karina terdiam. Ia tak tahu, dan tak pernah berpikir untuk tahu, bahwa ada begitu banyak gadis yang mengincar Satoshi. Ia juga tak tahu, bahwa ada yang sudah menyatakan perasaan mereka ke Satoshi. Hal itu sedikit menyesakkan hatinya.
"Dan, asal kamu tahu, Kar. Kalian itu sebenarnya cukup banyak perbedaan. Kau bisa lihat, dia cukup populer, sementara kau tidak."
Karina merengut mendengar pernyataan Sofia yang pertama. "Maksudmu apa?" rajuknya.
"Yang kedua, hobi kalian pun berbeda. Kau hobi menulis berbagai cerita dan larut dalam khayalanmu, sementara ia lebih suka berlari di lapangan bebas, mengejar bola. Jika bukan karena tempatmu biasa merenung itu dekat dengan lapangan bola tempat ia biasa bermain, kalian pun mungkin tak akan pernah bisa sedekat ini." Sofia terus melanjutkan bicaranya tanpa memedulikan gerutuan Karina.
Karina terdiam. Ya, ia pun sadar akan hal itu. Lantas, ia harus bagaimana?
"Dan yang ketiga, sepertinya memang cukup mendasar, tapi pasti kau tak sempat kepikiran akan hal yang satu ini." Sofia melirik Karina. Sahabatnya itu menatapnya seolah bertanya, 'apa?'
"Kau tahu.. ia pindah ke sini hanya sementara, mungkin sampai kita lulus saja. Setelah itu.. kita tak tahu ia akan ke mana selanjutnya, 'kan? Mungkin ia akan melanjutkan kuliah di sini, atau bisa juga... ia akan kembali ke Jepang. Pernahkah kau terpikir hal itu?"
Karina terkesiap. Tidak, ia tidak siap mendengar berita yang satu ini. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Tak-kun--Satoshi--akan pergi, kembali ke Jepang. Ia menunduk. Sekelebat pikiran menghantuinya.
Sofia melanjutkan perkataannya, "Kita tak pernah tahu apakah ia akan terus menetap di sini, ataukah suatu saat akan kembali ke Jepang. Karena itu, sebisa mungkin manfaatkanlah waktu yang masih ada ini, Kar. Aku yakin, kamu pasti menyimpan satu rasa untuknya, bukan? Dan, ada 2 pilihan untukmu saat ini. Tetap menyimpan rasa itu tanpa pernah mengungkapkannya dan terus bersamanya seperti biasa, atau menyatakannya tapi bersiap untuk kemungkinan terburuk, ditolak dan hubungan kalian menjadi renggang. Apapun yang akan kamu pilih, itu semua akan menentukan hubungan kalian ke depannya, Karina. Dan, aku harap, apapun keputusanmu nanti, itulah yang terbaik untukmu, untuk kalian..." Sofia mengakhiri ucapannya dan melangkah keluar kelas, memberikan Karina ruang untuk berpikir.
***
04.30. Sudah lewat 30 menit dari jam pulang sekolah. Karina dan Satoshi tengah berbaring di bawah pohon rindang di tempat biasa, menikmati semilir angin yang membelai lembut pipi mereka.
Karina membuka matanya. "Ne (hei), Tak-kun." panggilnya pelan kepada Satoshi.
Satoshi menyahut, "Hm? Nani, Karina-chan?"
"Apa kau nanti akan kembali ke Jepang?"
Satoshi ikut membuka matanya, lantas mengalihkan pandangan ke arah Karina. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?"
"Jawab aku, Tak-kun. Apa kau nanti akan kembali ke Jepang?"
Satoshi bangkit dari posisi tidurnya dan mengubahnya ke posisi duduk. Ia menengadah menatap langit. "Wakaranai, yo. Aku tak tahu, Karina-chan. Aku tak bisa memastikannya sekarang. Memang aku suka berada di sini, bertemu denganmu, bertemu teman-teman. Demo (tapi).. aku juga rindu kedua orang tuaku. Aku ingin bertemu dengan otousan dan okaasan, Karina-chan. Aku rindu mereka..." wajah Satoshi terlihat pilu, seperti menyimpan berjuta kerinduan terhadap kampung halamannya.
Karina terdiam menatap Satoshi yang rapuh seperti itu. Ia pun bangkit dari tidurnya dan duduk mendekat ke arah Satoshi.
"Kalau kau memang ingin pulang, ya pulang saja, Tak-kun. Tak ada kewajiban untukmu terus tinggal di sini. Aku pun yakin, otousan dan okaasan-mu juga pasti sangat merindukanmu. Jadi, kalau kau nanti memang ingin pulang, maka pulanglah..." ucap Karina dengan penuh kelembutan dan ketenangan, menghangatkan batin Satoshi yang mendadak pilu.
Satoshi menatap Karina teduh. Ia pun memeluk gadis itu. "Arigatou (terima kasih), Karina-chan. Terima kasih sudah mau mengerti," ujarnya.
Karina hanya terdiam. Tanpa sadar, setitik air mata menetes turun dari bola matanya. Ia menengadah, menatap langit biru yang dihiasi awan yang beriring.
Perjalanan kami masih panjang, waktu kami masih panjang. Jika kami tak bisa bersama untuk saat ini, aku yakin, suatu saat nanti kami pasti bisa bersatu. Meski perjalanan kami pasti sulit dengan adanya perbedaan ini, aku percaya, kelak kami pasti bisa bersama.
"Maaf, Sofia. Sepertinya aku harus memilih opsi yang pertama. Aku... untuk saat ini.. hanya ingin menjadi penopangnya. Oleh karena itu, aku tidak boleh egois, bukan?" bisik Karina di tengah tangis tanpa suaranya.
***
bersambung












