Job Hopper; Passion vs Tuntutan
Selamat pagi menjelang siang, Tumblers!
Bagaimana kabar sahabat sosyel semuanyaaaaaah? (salam ala Blackpink in your areaaaqh)
Semoga hari ini pun akan selalu menjadi hari yang bahagia bagi kita semua.
Aamiin.
Tulisan kali ini di dedikasikan untuk merespon banyaknya diskusi tentang Quarter Life Crisis dan para pengikutnya yang seringkali dibahas di akun-akun Human Resource dan orang-orang dengan kedudukan Human Resources.
Siapakah pengikutnya tersebut?
YHAAAAAAAAA.
BUKAAAAAAN (ini kenapa jadi ada pak Nurhadi-Aldo??)
Back to the topic.
Pengikut yang seringkali dibicarakan adalah para job hopper atau yang sering dikenal sebagai kutu loncat perusahaan. Sedangkan fenomenanya disebut-sebut dengan job hopping. Disebut sebagai kutu loncat perusahaan dikarenakan karyawan atau anggota perusahaan ini sering berpindah pekerjaan dengan berbagai alasan dan faktor yang mendasari. Biasanya, fenomena ini dilakukan oleh karyawan yang masih bekerja kurang dari 1 detik.
SALAH WOY.
Satu tahun maksudnya, beb.
Jadi, para job hopper ini akan pindah pekerjaan jika dirasa pekerjaan tersebut kurang memberikan gaji yang cukup sesuai dengan hidupnya, tidak sesuai dengan passion dan berbagai faktor lainnya dalam waktu kurang dari 1 tahun.
Sehingga, dari pelaku dan fenomenanya. job hopper atau job hopping haruslah dihindari dan “dibenci”. Seringkali saya mendapati artikel, ocehan sampai status dari beragam kasta sosyel media yang mengatakan bahwa seharusnya para job hopper tidak diterima dan diabaikan saja.
Memang, secara profesional (biar keliatan udah kerja profesional-KELIATANNYA) fenomena ini dapat merugikan baik pihak karyawannya sendiri dan pihak perusahaannya.
Dari pihak karyawan, ketika akan “meloncat” menuju pekerjaan berikutnya, akan kesulitan untuk mendapatkan penilaian terutama aspek komitmen dan ketahanan kerja dari perusahaan yang dituju. Atau, bisa jadi perusahaan yang dituju justru akan menanyakan alasan mengapa berpindah pekerjaan. Jika alasan yang menjadi faktor berpindahnya pekerjaan tersebut masuk akal maka sah-sah saja jika ingin berpindah. Apabila tidak masuk akal inilah yang akan menjadi boomerang bagi karyawan yang berpindah pekerjaan tersebut.
Dari pihak perusahaan, tentu saja kerugiannya juga banyak. Selain waktu (yang disediakan untuk mewawancara karyawan, melakukan psikotest dan screening dokumen karyawan-belum lagi me-review proposal yang akhirnya berujung pada jumlah gaji karyawan yang akan diterima, dan lain lain), juga biaya. Ya. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar baik para tester, skorer untuk psikotest calon karyawan, transportasi calon karyawan (beberapa perusahaan besar ada yang menyediakan transpotasi dan akomodasi bagi para calon karyawan yang terpilih melalui seleksi tes dan berkas sebelumnya), belum lagi biaya untuk operasional karyawan daaaaaaaaaaan banyak lagi yang bilamana saya sebutkan disini akan menjadi kuliah industri organisasi beb~
Intinya, memang banyak sekali kerugian yang didapatkan dari fenomena ini.
Lalu, apakah hari ini saya akan menambahkan derita si job hopper dengan menjelek-jelekkannya?
Oh.
Tentu saja.
(auto digrebek job hopper sekomplek)
Tidak.
Saya hanya ingin membahas faktor yang melandasi fenomena ini. Berdasarkan pengamatan hasil observasi kecil-kecilan saya. Ada dua hal yang melatarbelakangi job hopper , alasan passion dan alasan tuntutan.
Kenapa bisa?
Mari kita mulai membedah satu persatu faktor ini..
Passion.
Gairah.
Panas.
Membakar tubuh.
#PLAKKKK
Oke, fokus.
Passion atau secara kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sebuah gairah, gairah bisa dikatakan sebagai kecenderungan kuat terhadap aktivitas yang disukai, dimana mereka memberikan waktu dan tenaga yang dimiliki untuk aktivitas tersebut. Seseorang akan menjadi passionate terhadap aktivitas tertentu melalui dua proses penting yaitu penilaian terhadap aktivitas dan internalisasi pada representasi aktivitas dalam aspek inti dari diri seseorang yaitu identitas seseorang (Vallerand and Houlford, 2003). Kecenderungan kuat ini apabila dikaitkan dengan bidang pekerjaan, maka seseorang akan merasa terikat dan menikmati dalam setiap proses pekerjaannya. Seseorang akan memberikan seluruh tenaga dan waktunya untuk sebuah pekerjaan yang menjadi passionnya. Output yang dikeluarkan oleh seseorang yang bergairah (?) akan lebih mantap daripada yang hanya sekadarnya.
Passion yang dimiliki orang pun berbeda-beda. Cara untuk mengethaui passion diri sendiri juga sebenarnya tidak pernah ada patennya, dikarenakan passion ibarat jiwa, dimana yang mengetahuinya hanyalah diri masing-masing berikut juga dengan cara menemukannya. Ada yang dengan melalui diskusi singkat sudah menemukan passionnya sendiri, ada pula yang harus membutuhkan bertapa tambahkan hijrah selama 40 hari 40 malam hanya untuk mendapatkan jawaban “aku nih suka apa sih!!?“
Begitu pula dengan fenomena job hopper ini. Mereka yang berpindah pekerjaan bisa jadi seang dalam proses menemukan apa yang menjadi passionnya dan dalam bidang apa.
Secara perkembangan, tidak bisa disalahkan juga untuk hal tersebut. Bisa kita bayangkan seorang anak kecil yang tersesat di sebuah kebun binatang super besar tanpa ada peta ataupun petunjuk arah. Begitu kira-kira penggambaran para job hopper dalam menjalani proses perpindahan pekerjaan ini.
Tidak. Bukan berarti saya mendukung gerakan seribu karyawan pindah seribu karyawan tumbuh semalam.. Tidak tidak. Saya hanya mencoba memposisikan bagaimana mereka (dan saya pun pernah) di posisi job hopper.
Next!
Faktor kedua adalah tuntutan.
What?
Ya. Anda tidak salah baca.
Kenapa bisa tuntutan menajdi salah satu faktor?
Let me tell you a story.
Di sebuah perusahaan besar Jakarta, tersebutlah rekan saya yang usianya sangat terpaut jauh dengan saya bekerja disana. Perusahaan ini merupakan perusahaan IT dan telekomunikasi terbesar nomor sekian di Indonesia. Dari sini sudah dapat diketahui proses untuk masuk dalam perusahaan tersebut sangat sulit. Ya, memang. Psikotestnya saja harus berlapis-lapis dan wawancaranya berasa seperti antrian bulog masuk gudang. Lamaaaaaa banget, Belum lagi si pewawancara layaknya penonton sidang Ahmad Dhani atau pendukung (untuk menyinyiri) Habieb Riziq. Banyak tcuuuyyyy!
Singkat cerita,
Teman saya ini diterima. Uwuwuwuwu. Saya tidak tahu persisnya posisi apa dia, namun jobdesknya adalah ikut andil dalam perancangan dan inovasi pembuatan chip yang digunakan dalam handphone pintar dan PC. Gaji yang ditawarkan perusahaan adalah sebesar 5 Juta rupiah dengan berbagai tunjangan lainnya. Jumlah yang besar, bukan?
Akan tetapi, teman saya bimbang. Dengan gaji sebesar itu, dia pulang ke rumah. Menceritakan pada istrinya (bukan saya tolong), besaran gaji dan jobdesk yang diterimanya.
Bagaimana respon si istri?
Menyiramnya dengan air keras.
ENGGAAAK ENGGAAAAK ALAY BAT DAH~
(semoga dia gak baca)
Sang istri menolak untuk dia bekerja disana dengan segala perjuangan dan besaran gaji tersebut. Alasan utama istrinya adalah hidup di Jakarta harus memiliki besaran gaji minimal 10 Juta ke atas dan urusan kebutuhan anak haruslah banyak biayanya. Singkat cerita, teman saya pun hanya bertahan 3 bulan dan mencoba perusahaan lainnya. Tiga bulan tersebut dijalaninya sebagai “tanda jadi” saja.
Kisah kedua.
Berasal dari kawan saya yang berprofesi sebagai pelayar dan telah menamatkan studi double degreenya (dulu makan apa dah elu pinter banget). Singkat cerita, dia akhirnya harus mencari pekerjaan lain dikarenakan keluarga besarnya menuntut gaji darinya yang lebih besar untuk menghidupi seluruh keluiarga besarnya.
Well.
Saya tidak menyalahkan istri teman saya atau siapapun yang mencoba meluruskan tentang gaji dan tanggung jawab teman-teman saya untuk bekerja.
Akan tetapi, dari sini saja sudah dapat ditarik kesimpulan kadang tuntutan bukan hanya dari gaya hidup, tapi juga dari lingkungan sosialnya yang akhirnya membentuk sebuah fenomena job hopper dengan alasan gaji minimalis. Inilah yang menjadi buah pemikiran saya, sebagai penulis.
Apakah job hopper adalah sebuah fenomena untuk pencarian jati diri seseorang atau “korban“ dari tuntutan sosialnya?
Sehingga, Tumblers~ Apapun pekerjaan saat ini, berapapun gaji yang anda diterima hendaknya disyukuri. Karena kadang kita lupa, bahwa diluar sana banyak sekali yang mendambakan pekerjaan dan kehidupan seperti kita. Banyak yang nasibnya pun tidak berkecukupan. Jangankan memikirkan gaji 10 Juta, beb~
Memikirkan makan sehari-hari saja kudu banget puasa 40 malam..
What’s on your mind, people?
Komen aja dibawah..
Salam,
Milenialis sejati yang suka makan miii~
Fatikha Dinda
Dari berbagai sumber
Gambar : https://t.co/uIEsWvYGQR












