Yogyakarta, 12 April 2020
Si Anak Cahaya karya Tere Liye
Salah satu novel dari serial anak karya Tere Liye ini mengisahkan tentang petualangan masa kecil Nurmas, seorang anak yang tinggal di salah satu kampung di Pulau Sumatera. Kedua orangtuanya yang merupakan anggota Jong Sumatranen Bond atau Persatuan Pemuda Sumatra pada masa pra-kemerdekaan mendidik Nurmas dengan kasih sayang dan bimbingan yang begitu luar biasa. Maka tidak mengherankan jika Nurmas tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tak kenal menyerah. Hingga akhirnya, Dia akan selalu diingat oleh penduduk kampung sebagai “Si Anak Cahaya”.
Bang Tere begitu apik dalam mengisahkan kehidupan masyarakat kampung di Pulau Sumatera pada masa awal-awal Republik Indonesia berdiri. Membawa pembaca merasakan sensasi hidup di jaman itu. Tinggal di rumah panggung yang tinggi; hidup sebagai petani padi, karet, dan kopi; pergi ke kota naik gerobak sapi; dan masih menjamurnya kepercayaan pada dukun dan jimat sakti.
Saya suka dengan penggambaran karakter Nurmas. Seorang anak Sekolah Rakyat yang cerdas, setia kawan, dan pantang menyerah. Persahabatannya dengan Jamilah, Siti, dan Rukayah diceritakan dengan sangat menarik. Dialog-dialog lucu nan bersahaja khas anak kecil pedesaan, konflik anak-anak yang meski sederhana namun mampu membangkitkan rasa haru, hingga perjuangan dalam membantu meringankan beban keluarga saat paceklik panjang melanda kampung mereka.
Konflik utama yang melibatkan seluruh penduduk kampung, berhubungan erat dengan masa lalu kelam Bapak Nurmas. Kelompok berideologi Komunis. Ini kali kedua Saya membaca buku Bang Tere yang menjadikan perkumpulan berideologi Komunis sebagai antagonis di cerita, setelah Novel “Tentang Kamu”. Bang Tere kembali mampu menggambarkan secara nyata rasa ngeri dan pilu akibat kekejaman kelompok tersebut yang justru menginginkan kesetaraan untuk semua orang ini.
“Saat Kau menyaksikan Mamak Kau cemong oleh kotoran Kerbau, itulah bukti betapa besar kasih sayangnya pada Kau” (299)
Oi! Inilah penggalan dialog yang begitu membekas bagi Saya. Bukti nyata begitu besarnya rasa cinta Mamak dan Bapak kepada Nurmas. Sebuah ungkapan yang mampu membuat Saya merinding karena terpukau, sama seperti saat membaca perjuangan pantang menyerah Nurmas dalam menyelesaikan konflik utama di bagian akhir cerita.
Akhir kata, Saya ucapkan terima kasih kepada Bang Tere yang telah menghadirkan sebuah bacaan yang begitu menarik dan sarat akan makna. Tak sabar rasanya membaca empat novel lain serial buku ini.
Salam,
Anggit Wicaksana











