. Hampir 60 tahun yang lalu Masjid ini telah berganti nama, dari yang semula disebut Masjid Agung Kebayoran Baru jadi Masjid Agung Al-Azhar seiring kedatangan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir Prof. Dr. Mahmoud Syaltout tepatnya pada tahun 1960. Kedatangan Rektor Universitas Al-Azhar ini bukan hanya sekedar memenuhi undangan Presiden RI saja, tetapi juga untuk mengetahui bagaimana pusat aktivitas seorang tokoh yang dua tahun sebelumnya memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari al-Azhar. Tokoh itu adalah seorang HAMKA yang SD saja tidak tamat, tapi piawai dalam dakwah hingga politik, bahkan mampu menarik perhatian dosen-dosen Al Azhar dalam penyampaian pemikiran islam yang autentik pada saat pidato penerimaan gelarnya, yang hanya dipelajarinya secara autodidak. Masjid ini sekarang merupakan salah satu dari 18 situs tapak sejarah perkembangan Kota Jakarta, juga sejak tahun 1993 telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Hingga sekarang masjid ini masih berdiri gagah di antara bangunan-bangunan Jakarta yang terus bertumbuh megah. Sama seperti pemikiran-pemikiran Hamka yang masih luar biasa meski telah melewati masa demi masa. Yang terus memupuk kekaguman Saya terhadap sosok Beliau. Dan siapa sangka bertahun-tahun setelah Saya mulai mengenal Beliau lewat buku-bukunya, akhirnya Saya dipertemukan dengan masjid ini. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Lalu Saya ingat Hamka pernah bilang begini, ‘Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya.’ Selanjutnya, kemana nasib akan membawa Saya? #masjidagungalazhar #nulisinstagram https://www.instagram.com/pythaaa/p/Btpvv9TnxaM25PPH7LQMhK0532f2zZRqNlyLVg0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=mu7stda8trva









