Aku: Apa yang mau kamu cari dari dunia ini? Bukankah kamu sudah paham jika hidupmu semata adalah untuk beribadah padaNya. Lantas kenapa masih saja ada keraguan ketika akan melakukan suatu yang sudah jelas kebenarannya, dan kamu tahu landasannya.
Saya: (diam)
Aku: Kenapa diam?
Saya: (berpikir, merenung setiap kata yang telah terucap)
Aku: Please deh kamu jangan bawa rasa yang kamu sendiri tau rasa yang gak tepat, rasa yang gak sesuai rel itu akan menjatuhkanmu. Please, minta tolong juga kamu jangan punya persepsi macam-macam sebelum kamu membuktikan. Kebanyakan persepsi akan membuatmu tak bergerak. Diam. Stagnan. Mau sampai kapan?
Saya: (menghela nafas)
Aku: Kamu jangan sibuk mikiri diri sendiri. Tuh lihat, saudara-saudaramu di Rohingya berteriak minta bantuanmu. Kamu muslim kan? Kamu tuh juga jadi salah satu bagian yang dimintai pertolongan. Oke kamu gak punya kekuasaan. Tapi kamu punya mulut. Bersuaralah. Juga sertai dengan doa di sepertiga malammu. Udah deh ya, gak jaman kamu berlebay, alay gak karuan.
Saya: Benar. Setuju dengan apa yang kamu sampaikan. Kenapa masih meragu. Allah adalah sandaran hakiki. Ketika aku memikirkan masalah umat, usah ragu terhadap masalah2 yang ku hadapi. Karena Allah yang akan bantu selesaikan. Allahu akbar. Ampuni aku ya Allah. Maka benar saja, setelah kesulitan pasti ada kemudahan.














