An Unplanned Valentine.
by: kiku
Hujan turun sejak siang hingga sekarang tanpa ada kompromi. Derasnya bukan cuma satu atau dua jam, tapi hampir memenuhi sepanjang hari, benar-benar mengguyur lingkungan rumah Jeriel yang suara atap dan talang air terdengar seperti begitu riuh. Rumah terasa lebih luas dari biasanya karena papa nya sedang keluar kota sejak tadi pagi, menyisakan ruang tamu yang sepi dan kamar yang terlalu sunyi untuk hari yang seharusnya ditempati berdua.
Jeriel duduk di lantai ruang keluarga, punggungnya bersandar di sisi sofa, dengan menggenggam ponsel di tangan, matanya tak berhenti menatap layar dengan perasaan campur aduk. Notifikasi chat dari Juwan membuat hatinya sedikit kesal.
Kak Juwaaan (15.00 WIB):
Sayang, meetingnya molor tadi, jadi belum selesai. sebentar ya, i love you.
Jeriel menggigit bibirnya perlahan, jemari mengetik dengan ekspresi pura-pura santai,
Jeriel (15.13 WIB):
Oke, kalo gak jadi juga gapapa.
Sepuluh menit, lima belas menit kemudian notifikasi pop up menyala kembali.
Kak Juwaaan (15.30 WIB):
Jadi sayang. Keluar kantor langsung macet. Jalanan banjir di jalan arah rumah kamu. Aku bawa mobil, maaf ya sayang agak lama.
Jeriel (15.31 WIB):
Gapapa, lagian hujannya masih deres. Stay safe.
Padahal di dalam dadanya ada sedikit kecewa. Mereka sudah merencanakan makan di luar, jalan malam menikmati city light , dan mungkin beli dessert lucu. Tapi suara hujan makin keras, dan mengingatkan bahwa rencana nya memang tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan.
Waktu berjalan lambat sampai akhirnya suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Jeriel hampir refleks berlari sebelum sadar ia harus berjalan dan pura-pura biasa saja. Begitu pintu dibuka, Juwan berdiri di sana dengan rambut depan sedikit basah kemeja yang sedikit terkena air dan ujung celana yang lembap karena genangan air.
“Kamu kok kehujanan?” Jeriel langsung mengomel, pelan tapi Juwan paham ada sedikit merajuk di nadanya .
Juwan tersenyum. “Dikit aja. Tadi mampir beli banyak makanan..”
Jeriel mendengus kecil. “Aku pikir kamu gak dateng..”
“Valentine cuma setahun sekali. Masa kakak kalah sama hujan.” Juwan masuk, melepas sepatu, lalu mendekat saat pintunya kembali ditutup.
Jeriel protes sambil menahan senyum, “Ya kali aja kalah sama hujan.”
Juwan melebarkan tangannya untuk menarik pelan Jeriel kedalam pelukannya. “Kakak mah kalahnya cuma sama kamu.”
Jeriel langsung menatapnya tajam. “Gombal banget sih baru dateng.” Membalas pelukan singkatnya.
Lalu mereka masuk lebih dalam. Rumah yang tadi terasa kosong mendadak berubah hidup hanya karena ada satu orang tambahan di dalamnya.
Mereka berdiri sebentar di ruang keluarga, menatap seluruh isi rumah, ada rasa dilema karena rencana yang direncanakan berhari-hari yang lalu menjadi berubah. Di luar sana hujan makin deras. Akhirnya Juwan menoleh ke Jeriel dan berkata pelan, “Gak usah keluar. Kita di rumah aja. Gimana menurut kamu sayang?”
Setelah jeriel mengangguk, mereka sepakat untuk tetap di rumah saja. Keputusan itu tidak pernah jadi alternatif, tapi justru mereka setuju tanpa ada rasa kecewa.
Dalam waktu satu jam, meja pendek diruang tamu penuh dengan nasi goreng, ayam bakar, mie instan buatan Jeriel, cemilan manis, keripik, cokelat, dan minuman dingin.
Jeriel duduk lesehan sambil membuka merapikan makanan. “Valentine kita fancy banget ya. Lesehan.”
Juwan ikut duduk di sampingnya. “Ini konsep intimate private dining, kakak suka.”
Jeriel terkekeh, tangan nya mengambil makanan untuk Juwan. “Makasih sama hujannya please?.”
“Makasih sayang,” Juwan balas cepat. Jeriel semept terkejut karena Juwan justru mencium pipinya cepat sebelum akhirnya duduk kembali.
Mereka duduk lesehan di depan TV, saling menyuapi tanpa malu. Jeriel sempat protes karena Juwan selalu mengambil potongan ayam paling besar untuknya,
“Eh itu punya kamu kak,” protes Jeriel.
“Enggak. Punya kamu,” Juwan menjawab cepat, tangan nya terus menyuapi dan Jeriel sama sekali tidak menolak.
“Kenapa?” Ujarnya dengan mulut penuh makanan.
“Soalnya kamu harus happy. Ada investasi aku di situ.”
Jeriel menahan senyum. Sibuk menelan makanan sebelum akhirnya menjawab “Investasi apaan sih.”
“Masa depan kakak disana,” jawab Juwan tanpa ragu.
Setelah kenyang, suasana berubah lebih santai. Hujan diluar tetap turun konsisten meski sudah reda, suaranya jadi musik latar alami suasana. Namun Jeriel tiba-tiba punya ide cermelang, ia mengambil dua mic karaoke yang sudah lama tersimpan di lemari.
“KAK JUWAN,” panggilnya semangat, “mau?”
“Serius?” Juwan mengangkat alis.
“Iya. Ayo pleasee.”
Mereka menyalakan YouTube karaoke di TV. Lagu pertama dipilih asal. Jeriel berdiri di depan TV dengan mic di tangan, awalnya bercanda, tapi begitu ia mulai bernyanyi, suaranya keluar clean, stabil, dan indah.
Juwan terdiam beberapa detik, benar-benar mendengarkan. Juwan memang tahu Jeriel bisa bernyanyi tapi ini pertama kalinya dia mendengar Jeriel bernyanyi menggunakan mic.
“Kamu kok bagus banget suaranya?” katanya di tengah lagu.
Jeriel tertawa kecil, bertingkah seperti anak kecil dipuji. “Biasa aja.”
“Enggak. Serius.”
Giliran berganti Juwan yang menyanyi, Jeriel yang sekarang terdiam. Suaranya begitu dalam, tidak terlalu tinggi, tapi penuh kontrol. Mereka saling menatap sambil menyanyi, kadang jadi tertawa karena salah lirik, kadang ikut menari dengan kaku seperti anak kecil.
Malam berubah jadi penuh tawa dan ramai walah hanya dua orang yang berada di rumah itu. Mereka bergantian lagu, duet lagu cinta dengan gaya terlalu dramatis, pura-pura bernyanyi di panggung besar padahal penontonnya cuma satu sama lain. Sesekali Jeriel menari asal di depan Juwan, dan Juwan ikut berdiri, menggandeng tangannya, berputar kecil, kadang saling menabrak, dan terjatuh. Mereka tiba-tiba mengganti suasana valentine menjadi hari dimana mereka melepaskan diri menjadi orang dewasa yang penuh tekanan, mereka menjadi diri mereka sendiri.
Dan akhirnya mereka lelah bernyanyi, Jeriel akhirnya mendekat tanpa banyak bicara, duduk menyamping lalu perlahan merosot hingga kepalanya jatuh ke bahu Juwan. Juwan tidak mengatakan apa-apa, hanya otomatis menggeser posisinya, membiarkan Jeriel duduk lebih nyaman, lalu satu tangannya melingkar di pinggangnya. Gerakan yang sudah biasa dilakukan namun tetap selalu menimbulkan rasa baru yang menyenangkan.
“Dingin?” tanya Juwan pelan.
Jeriel menggeleng, tapi tetap mendekat, kakinya naik ke sofa dan tubuhnya hampir sepenuhnya menempel. Hujan makin deras. Lampu sengaja diredupkan karena mereka hanya menyalakan lampu sudut ruangan. Suasana berubah lebih tenang dari sebelumnya.
“Kita gak jadi keluar tapi kok malah seru ya,” Jeriel bergumam. Nafasnya tersenggal karena lelah, mengatur nafas dengan tenang.
Juwan langsung memiringkan kepala sedikit supaya pipinya menyentuh rambut Jeriel. “Maaf ya gara gara aku ada kerjaan, kita jadi gak bisa keluar.”
Juwan perlahan menarik Jeriel ke pangkuannya. Gerakannya halus tapi pasti, satu tangan menyangga punggungnya, satu lagi menahan pinggangnya supaya tidak kehilangan keseimbangan. Jeriel sempat terkejut kecil, lalu tertawa pelan sebelum akhirnya menuruti dan melingkarkan tangan di leher Juwan. lututnya menekuk di samping tubuhnya. Jarak mereka hilang dalam satu tarikan napas.
Jarak mereka begitu dekat hingga nafas saling bersentuhan, dan itu membuat wajah Jeriel memerah. Juwan menyentuh pipi Jeriel dengan ibu jarinya, mengusap pelan,
“Aku daritadi pagi tuh mikir kalo valentine kita kayaknya bakalan gagal terus aku sempet kasih ruang buat kecewa..” Ujar Jeriel pelan, lalu Jeriel menggeleng pelan. “Ternyata enggak.”
Juwan mencium keningnya lama, “Enggak?”
“Justru aku beneran gak kepikiran buat karokean, makan sama kamu disini, habisin waktu berdua.”
“Kamu happy?”
Jeriel tertawa pelan, suara kecil yang terdengar puas. Ia mencium pipi Juwan berkali-kali dengan gemas, membuat Juwan pura-pura mengeluh tapi tangannya justru makin erat memeluk.
“Aku happy, kakak happy?”
Juwan hanya tersenyum, jarak mereka sangat dekat sampai napas terasa jelas di wajah masing masing.
Hingga akhirnya ciuman itu datang pelan-pelan. Bibirnya menyentuh bibir Jeriel dengan hati hati di awal, lalu diam sedikit lebih lama. Jeriel membalas tanpa ragu. Tangannya mengerat di bahu Juwan, tubuhnya makin dekat karena Jeriel tidak mau membuat jarak diantara mereka.
Juwan memperdalam ciumannya sedikit walau tetap ditempo yang sama, tidak terburu-buru, jeriel mengikuti ritmenya dengan menjaga kewarasannya, tidak mau aktivitasnya cepat selesai.
Di luar hujan tetap turun. Mic tetap tergeletak di lantai, makanan masih tersisa di meja, lampu sudut memantulkan bayangan mereka yang menyatu. Saat mereka berhenti sebentar untuk mengambil nafas, Jeriel tidak menjauh, cuma ingin menatap Juwan dari dekat dan lekat.
“Aku kangen banget, maaf sempet ngambek.” katanya pelan.
Juwan tersenyum tipis. “Aku juga kangen, maaf kamu ngerasa gak di prioritasin aku”
Tanpa menjawab Jeriel mencium lagi, kali ini lebih lama. Sedikit ada rasa tuntutan, Jeriel yang mengatur semua tempo nya. Mencium, mengecup, menghisap penuh kontrol. Tangannya berpindah ke rambut Juwan, jemarinya menyusup pelan di sana.
Juwan memeluknya lebih erat, satu tangan di punggungnya, satu lagi di pinggangnya. Bukan posesif, tapi cuma memastikan Jeriel benar benar ada di pangkuannya.
Ketika akhirnya mereka benar-benar berhenti, Jeriel menyandarkan kepalanya di dada Juwan. Ia bisa mendengar detak jantungnya yang masih cepat. Juwan mencium puncak kepalanya lama, menghirup aroma rambut dalam-dalam.
Malam makin larut, waktu sudah berjalan begitu panjang hari ini. Langit tinggal tersisa gerimis kecil. Juwan melihat ke luar jendela, lalu kembali menatap Jeriel.
“Aku nginep ya..”
Jeriel pura-pura berpikir sebentar. “Masih banyak lagu yang belum kita nyanyiin.”
“Itu iya atau enggak?”
Jeriel tersenyum lebar. “Kita telepon papa dulu, oke?”
“Oke sayang.”
Dan malam itu, meski rencana berubah total tapi rasanya justru lebih bahagia dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.















