Self ‘Education’ Plan
Wahyu Indayani_Nice Homework #4 Tulisan ini di buat sebagai sarana pengembangan diri dan pemenuhan tugas pekanan pada Matrikulasi Ibu Profesional. Tugas pekan ini adalah ‘Membuat Kurikulum yang ‘Gue Banget’ pada materi: mendidik dengan kekuatan fitrah
Ketika kita tahu bahwa tak ada ulama yang lahir dalam proses pendidikan yang mudah. Ketika kita tahu apa yang harus dilalui mereka untuk sekedar menuntut ilmu, berjalan ratusan mil, menembus beribu satuan waktu, lantas masihkah kita menganggap segala tahapan menuntut ilmu adalah hal-hal yang tak berarti? Karena bahkan kilauan ilmu jauh lebih berharga dari kilauan jutaan dinar
Ulama adalah contoh yang dapat kita lihat bagaimana perjuangannya untuk sebuah frasa ‘menuntut ilmu’. Ulama adalah patokan yang dapat menjadi pengingat saat kita berlelah dalam menuntut ilmu, ingatlah bagaimana perjuangan mereka, rasakanlah malu yang mendalam, lalu singkirkan jauh rasa lelah dan malas yang datang. Cobalah tengok beberapa kisah ulama menuntut ilmu berikut ini, semoga menjadi pengingat dan penyemangat.
Jabir bin Abdillah berjalan selama sebulan untuk menemui Abdullah bin Unais RA
Imam Ahmad (dari Baghdad) berjalan ke Yaman untuk mengambil Ilmu dari Imam Abdurrazaq bin Hammaam ash – Shan’aniy RA
Imam Baqi’ bin Makhlad berjalan kaki dari Spanyol menuju Baghdad untuk belajar dengan Imam Ahmad bin Hambal
Al Hamadzani al Aththar menjual seluruh Warisannya untuk biaya menuntut ilmu
Dalam perjalanan hidupnya tidak setiap orang berhasil menemukan jati dirinya, bahkan disaat seseorang berkata berhasil menemukan kata ‘jati diri’ belum lah tentu benar-benar sepakat dengan apa yang diperolehnya. Itulah manusia, dinamis, yang bahkan untuk memahami satu orang pun kita memerlukan sebuah proses taaruf sepanjang masa. Pencarian jati diri, sejatinya telah dilakuan tanpa sadar sejak seseorang menginjak usia akil baligh (dimana perbedaan benar dan salah dapat dilihat mata). Hanya saja, tidak setiap orang memulai ‘pencarian jati diri yang sesungguhnya’ dalam permulaan yang sama. Sebelum pada akhirnya saya menemukan visi spesifik seperti yang saya tuliskan pada NHW#2 dan #3, saya harus menghabiskan waktu selama dua tahun untuk berpikir dan merenung. Saat itu adalah bulan oktober 2012, dan visi spesifik itu barulah tertulis pada Mei 2015 dalam sebuah tugas akhir Mutiara 4. Visi spesifik: ‘Terciptanya kembali peradaban islam yang sejahtera dan berkeadilan dengan optimalisasi pendidikan wanita&muslimah serta pembentukan karakter generasi muda sejak dini’ maka dari visi tersebut jurusan yang saya ambil dalam universitas kehidupan ini adalah ’Pendidikan Wanita dan Anak’.
Sebelum beranjak pada self education plan, sebelumnya akan saya tuliskan kembali tahapan 25 tahun action plan yang sebelumnya telah saya jabarkan dalam buku tugas akhir Mutiara #4. Penjabaran yang sayatuliskan disana adalah pencabarak aksi yang akan dilakukan dalam satuan waktu per satu tahun. Berikuttemba besar (penjabaran tahaan per lima tahun) kehidupan saya.
5 Tahun Pertama (22-26 tahun) “Optimalisasi Pembinaan Diri”
5 Tahun kedua (27-31 tahun) “Optimalisasi Aset Diri”
5 tahun ketiga (32-36 tahun) “Partisipasi dan Kontribusi”
5 Tahun keempat (37-41 tahun) “Penyempurnaan program diri”
5 Tahun kelima (42-46 tahun) “Pencapaian Peradaban Islam”









