Menulis saja
Dahulu kala terdapat sebuah kampung dikaki gunung tertinggi di tanah jawa. Sukamaju nama kampung tersebut. Disanalah lahir seorang pemuda bernama bambang. Keluarganya tidak kaya juga tidak miskin. Setiap harinya dia selalu membantu kedua orang tua di ladang. Bahkan diwaktu sore dia juga mencari rumput untuk kambing kesayangan, mintuno. "Min, kamu kok tidak bosan makan daun nangka?" "Mbek...mbek...mbek.." "Hmhm..pasti itu makanan kesukaan mu. Besok aku ganti dengan daun talas aja lah, mumpung lagi banyak di ladang" Keesokan harinya bambang tak lupa untuk membawa pulang daun talas. Dia bahkan mencari daun talas terbaik untuk mintuno. Hijau, bersih, dan tidak ada lecet di daun menjadi syarat mutlak bagi bambang. "Ini min, daun talas terbaik." "Mbek...mbek.." "Wah ternyata kamu suka, asyik deh. Besok besok tidak usah pergi ke hutan lagi untuk cari daun nagka" Hati bambang gembira sekali. Namun apa yang terjadi besok diluar perkiraannya. Tiba tiba terjadi puting beliung menghantam kampung. Pohon pohon dihutan pun tumbang. Rumah warga berantakan, hingga banyak yang roboh. Bencana tersebut meluluh lantahkan desa, sehingga warga sepakat untuk memanfaatkan kayu nangka khususnya untuk membetulkan rumah. Efeknya adalah habis sudah pohon nangka. Namun bencana belum berkahir. Setelah puting beliung, musim kemarau melanda. "Min, sepertinya besok puasa aja ya, habis sudah daun-daun. Daun talas sudah dibabat habis buat sapi pak lurah" "Mbek...mbek..." "Hemat air juga ya min" "Mbek....mbek..." Sabtu malam warga berkumpul untuk membahas masalah kampung di rumah pak lurah. Sekaligus melakukan persiapan idul adha. Semua warga melaporkan bahwa ternak mereka kurus keronta, tidak layak untuk disembelih. Kalaupun dijual juga tidak bakalan laku. Serta tidak ada warga satupun yang mau berkorban untuk idul adha. "Le, idul adha bapak mau menyembelih mintuno boleh ?" "Boleh pak" "Lho kok kamu tidak menolak? Lha wong warga-warga juga pada keberatan untuk menyembelih karena terlalu kurus, gara gara musim kemarau ini." "Pak, beramal kok musiman...." Hingga akhirnya, kampung tersebut hanya menyembelih mintuno. Serta dagingnya dipakai untuk makan sate sekampung. "Le, mintuno sudah jadi sate lho. Kamu tidak sedih?" "Ah bapak ini, lha saya kasih berbagai macam makanan buat mintuno, dari yang terbaik hingga terburuk, dia saja tidak sedih." "Oh begitu" "Lha kemarin mintuno malah ngomong, besok kita berjumpa lagi. Kamu dan bapak ibu naik bakal naik punggungku biar tidak capek kalau mau jalan jalan" "Waduh...bu, bu, bu cepat kesini! Bambang bisa ngomong dengan mintuno lho"











