MISKIN ITU MENJUAL
Buku ini mengupas hasil riset tentang tayangan acara reality show di televisi. Buku ini dikemas dengan tulisan yang mengajak kita berpikir kritis, setidaknya mengerti dalam membedakan antara (ketika media) "mengabarkan" atau "mempertontonkan" fenomena kemiskinan dihadapan publik.
Reality show yang menayangkan kemiskinan tersebut dipandang tidak lebih dari objek tontonan, menjadi komoditas yang menghasilkan nilai tukar, nilai lebih. Jauh dari itu, simbol kemiskinan menjadi komoditas yang tak lepas dari bisnis industri pertelevisian.
Tayangan kemiskinan dipertontonkan, secara emosional lewat kemasan yang telah dimanipulasi, penuh nuansa dramatis, memantik rasa iba, simpati. Aneka adegan lainnya dieksploitasi, ketika objek orang miskin tersebut dibuat kaget, gembira, haru, sedih, bahkan bingung ketika mendapatkan uang hadiah dalam jumlah besar yang selama dalam hidupnya belum pernah mengalaminya.
Televisi sebagai media, mungkin kini kalah pamor. Sebagian masyarakat bergeser ke media yang lebih intimate, personal yakni media sosial.
Lewat medsos orang tidak lagi menjadi publik sebagai penonton atau konsumen saja, namun juga menjadi produsen informasi dalam bentuk konten.
Lewat media sosial, setiap individu leluasa membuat konten atau bentuk visual yang menarik perhatian, bahkan memperoleh cuan. Termasuk memproduksi dan mempertontonkan kemiskinan, menjual keprihatinan, sebagai objek komoditas lewat konten-konten yang mungundang rasa iba, prihatin, dan simpati.
Bahkan individu, oleh dirinya dapat dijadikan komoditas, mulai dari wajah, tubuh, atau situasi kemiskinan yang melanda dirinya sendiri, misalnya konten yang sifatnya mengemis.









