Dear Honey,
Terimakasih sudah memberi kabar.
It was a big relief. After I texted you like crazy, and I checked out my phone every second. You must be so annoyed. But, I feel like being back to my own self, si gue yang menyebalkan.
However, I realize that it’s not a good thing. That’s why I made milicious. Though, it is like malicious which keep bothering you. Pesan teks, bagaimanapun akan menuntut balasan, dan aku tidak ingin kau terganggu karena itu. I know you will not, but just eventually. Aku juga tidak ingin kau merasa terbebani untuk membalas setiap pesan dariku. The fact that we are being back together after these years, after those tears, makes me so excited, and I can’t help it. Even if we just met in the morning, take picture together –well it’s not literally the two of us but it’s fine– and I can see you around, I miss you still. Bukankah tidak adil rasanya, kita berpisah ribuan jam, tapi hanya bertemu satu atau dua jam saja.
Sayang, sesungguhnya banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, terlalu banyak bahkan. Tapi sepertinya kesempatan seperti itu masih menjadi sebuah kemewahan untuk kita. Tapi aku bisa menunggu, dan aku bisa mengerti. Akan tetapi bolehkah aku meminta untuk diberi pengertian, aku berjanji untuk mengerti. Meski ‘tanpa penjelasan’ adalah sebuah penjelasan bahwa tidak ada penjelasan, atau ‘tanpa kabar’ adalah sebuah kabar bahwa tidak ada kabar. Ya, aku mungkin bisa menunggu, tapi saat itu hatiku pastilah sedang sekarat, dan satu lagi malam dengan helaan nafas panjang yang harus kulewati. Itu jelas bukan mauku, tapi sejak kapan kita bisa mengendalikan perasaan. Ingatlah, bahkan Avatar pun hanya bisa mengendalikan empat elemen diluar perasaan. Aku selalu takut kau pergi meninggalkanku, entah karena aku sudah tidak semenarik itu, atau karena aku yang terlalu mencintaimu. Dan entah mengapa aku selalu takut kau pergi karena alasan yang kedua.
Sayang, aku ingin punya cerita bersamamu, ditempat-tempat yang sering kau kunjungi itu, sehingga tempat-tempat itu akan jadi tempat favorit –bukan aku atau kamu– tapi kita. Tapi kau tahu “tempat” favoritku, itu adalah dalam pelukanmu, literally. Pelukanmu yang menenangkan, yang mampu menghapus semua marah kesal yang kusimpan bertahun-tahun, iya aku marah karena kau pergi. Kesal karena tak pernah bisa benar-benar menghapusmu dari ingatan. Dan aku mampu menyimpannya selama bertahun-tahun. Seperti halnya menyimpan perasaan cinta. Karena itu tidak sesulit mengingat teori akuntansi atau manajemen.
Sayang, aku selalu suka saat kau mencium keningku. Aku bisa merasakan hangatnya nafasmu, detak jantungmu yang berirama, dan lembutnya kecupanmu.
(Well, karena aku sudah berjanji untuk jujur pada tulisan di blog ini, aku akan selalu menuliskan apapun, apa adanya).
Kau tahu, bagaimana aku bisa bertahan melewati malam-malam yang sepi? Ya, dengan mengingat malam-malam saat kita bersama, dan berharap kau muncul dalam mimpiku. Dan, dalam beberapa kasus, it works. Jika sakit hatiku lebih dominan, kau akan banyak diam dan “menerima” apapun yang kulakukan. I may look calm, but in my mind I would kill you three times a day. But, since killing a human is so frustrating and doesn’t reduce any stress, I prefer kiss you.
Dan sayangnya, aku selalu terbangun setelah itu. Meskipun aku berusaha tidur lagi dan mencari kelanjutan mimpi tadi, aku tak pernah berhasil.
I wonder, If it is a real you, what would you do. What would you do dear? Will you cut me off, like you always do in the middle of our night together, or will you bring me to experience something leisurely? Ah, sudahlah, toh itu semua hanya mimpi. Dan itu saja sudah cukup untukku, saat ini. Engga tau besok-besok ^~
Sumbawa, 2 Juli 2017














