Jurnal Ibu Pembaharu-3
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fii mushibati, wakhlifli khairan minha.
Kandunganku yang berusia 10 minggu terpaksa harus diterminasi karena menurut dokter janinnya tidak bertumbuh sesuai usianya. Hari ini, tanpa proses kuretase janinku telah keluar dengan sendirinya (abortus spontan). Karenanya, aku terpaksa menghentikan seluruh pekerjaanku dan memilih untuk menenangkan diri, jiwa, dan raga untuk sementara waktu.
Namun, tugas harus tetap berjalan. Meski aku telah melewatkan Questival Kemerdekaan Ibu Pembaharu, aku berusaha untuk tetap menuliskan pemikiranku akan tugas ketiga ini melalui jurnal. Oh ya, jurnal ini semestinya adalah jurnal tim. Namun, berhubung timku hanya berisikan aku dan suamiku, dan yang memiliki blog hanya aku seorang, jadilah jurnal ini dimuat di laman catatan virtualku.
Tugas kali ini adalah menyelami masalah sedalam-dalamnya. Seperti telah diulas di jurnal-jurnal sebelumnya, permasalahan yang aku dan kemudian menjadi masalah tim hadapi adalah adanya gap of knowledge antara ilmu yang dipunya dan pekerjaan yang dihadapi. Karena itu, aku dan suamiku memutuskan untuk mengambil studi lanjutan (master).
Setelah melakukan starbursting bersama tim, akhirnya kami memutuskan hanya akan menampilkan tiga pertanyaan dari masing-masing kategori (what, who, where, when, why, dan how). Inilah pertanyaan-pertanyaan tim kami:
Kategori What:
Apakah yang dimaksud gap of knowledge itu?
Apakah benar telah terjadi gap of knowledge dalam pekerjaan?
Apakah gap of knowledge itu harus melalui studi lanjutan (master)
Kategori Who:
Siapa yang harus mengisi gap of knowledge?
Siapa yang akan menempuh studi lanjutan terlebih dahulu?
Siapa yang paling besar kesenjangan pengetahuan di dalam pekerjaannya?
Kategori Where:
Di mana akan menempuh ilmu untuk mengisi gap of knowledge ini?
Di universitas mana?
Di kota mana?
Kategori When:
Kapan pelaksanaan kegiatannya?
Kapan deadline (tahun) untuk kegiatan ini?
Kapan waktu tercepat untuk memulai kegiatan ini agar dapat terlaksana?
Kategori Why:
Mengapa gap of knowldge ini bisa terjadi?
Mengapa harus mengisi gap of knowledge yang terjadi?
Mengapa gap of knowledge harus diselesaikan?
Kategori How:
Bagaimana metode untuk mengisi gap of knowledge ini?
Bagaimana dengan pengasuhan anak-anak selama orang tua menempuh kegiatan ini?
Bagaimana caranya agar seluruh kegiatan baik di ranah publik dan domestik berjalan baik selama mengisi gap ini?
So far, saya sudah menghubungi beberapa teman yang menjadi konsultan pendidikan dan analis kebijakan publik terkait hal ini. Memang adanya gap of knowledge ini membuat keresahan yang dalam akan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan tuntutan pekerjaan yang sedang maupun akan dihadapi. Kesenjangan ini memang harus segera diselesaikan demi terwujudnya perubahan.
Jika dilihat dari SDG's (Sustainable Development Goals), permasalahan saya ini terletak di poin empat dan delapan, yakni pendidikan bermutu (quality education) serta pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economic growth). Saya berharap dapat menjawab tantangan ini demi dunia yang lebih baik.
"Sustainable development is the pathway to the future we want for all. It offers a framework to generate economic growth, achieve social justice, exercise environmental stewardship and strengthen governance." -Ban Ki Moon


















