Anti SBM, tapi masuk SBM??
Oleh : Shafa Amira
SBM ITB bukan tujuan awal saya, bahkan saya sangat anti! Tapi sekarang saya seorang mahasiswa SBM ITB. Kenapa bisa??
Source: https://id.pinterest.com/pin/422494008783727743/
Haai! Izinkan saya untuk berbagi sepenggal pengalaman masuk ITB:)
Berawal dari minat saya. Saya berminat untuk melanjutkan studi di bidang seni, yaitu perfilman. Karena saya tipe orang yang tidak menikmati pekerjaan kantoran, saya ingin bisa berada di tempat-tempat baru dan terlepas dari aturan-aturan ketat. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, sekolah film yang bereputasi baik ada di luar kota Bandung. Saya kemudian mengajukan ide ini kepada ibu. Beliau tidak setuju terhadap dua hal. Yang pertama berkuliah di luar kota, kedua tentang perfilman itu sendiri. Setelah berdiskusi akhirnya saya mengerti alasan-alasan beliau dan melanjutkan pencarian. Saya tidak mendapat ketertarikan lain selain terhadap seni. Kemudian pilihan saya berikutnya adalah FSRD ITB. Sebenarnya ini bukan pilihan terbaik saya, karena saya tidak merasa ada jurusan dibawah FSRD ITB yang sangat menarik perhatian. Ternyata ibu juga tidak setuju dengan pilihan ini. Alasannya karena kedua kakak saya adalah lulusan FSRD ITB. Menurut beliau apabila saya masuk FSRD juga, maka tidak akan mengembangkan keluarga kami. Kedua kakak saya sekarang cenderung ingin membuat produk sendiri, namun mereka tidak memiliki dasar untuk memulai bisnisnya. Maka dari itu ibu mengusulkan saya untuk memilih SBM ITB (padahal saya sangat anti karena berbau pekerjaan kantoran). Alasan beliau agar saya bisa melengkapi kebutuhan keluarga kami.
Awalnya saya tidak setuju dengan usulan ibu. Karena manajemen dan bisnis bukan _passion _saya. Saya mempunyai pemikiran bahwa pekerjaan seharusnya adalah hal yang kita suka, kita cinta, sehingga tidak akan terasa sebagai beban. Namun ibu memberi penjelasan mengenari program di SBM. Selain itu, beliau juga memberi pandangan lain. Beliau menyuruh saya memilih antara dua pilihan:
1. “Kamu kerja apa yang kamu suka, sesuai minat, bakat, hobi kamu”
2. “Kamu kerja agar bisa ngelakuin hobi kamu, pekerjaan yang bisa menunjang minat kamu”
Dari situ saya berfikir. Bahwa pilihan kedua tidak ada salahnya..
Source: https://id.pinterest.com/pin/422494008783727772/
Mungkin terdengar seperti materialistik, namun di era sekarang yang tingkat kompetisi sudah sangat tinggi, kita juga harus memikirkan hal-hal seperti itu.
Pelajaran yang saya simpulkan adalah sebagai berikut:
1. Kita juga harus memikirkan kondisi disekitar kita. Ide ibu untuk ‘melengkapi keluarga’ adalah contohnya. Kita boleh memilih apa yang kita suka, namun harus pertimbangkan juga apa yang lingkungan sekitar butuhkan.
2. Apapun itu harus dijalani sepenuh hati. Jika tidak, semua akan terasa berat dan hanya buang-buang waktu. Selain itu, kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan.
3. Untuk mencapai tujuan kita ada banyak jalannya. Tidak hanya satu dua, bahkan ribuan!
4. Dan yang terakhir adalah yang pertama harus dilakukan agar 3 poin diatas dapat terwujud, yaitu: buka mata, hati, dan pikiran!
Akhirnya dengan berbekal 4 poin diatas, saya memantapkan hati untuk memilih SBM ITB sebagai tujuan saya. Alhamdulillah, usaha dan doa-doa dibalas dengan hasil yang memuaskan:)
Source: https://id.pinterest.com/pin/422494008783727654/











