Anak Hasil Sepertiga Malam
“Jangan remehkan efek sholat malam, bu,” kata seorang ibu setengah abad kepada saya pagi itu saat kami sedang mengobrol di hall depan rumah neneknya Rafa.
Nenek dua orang cucu ini memang tengah bercerita tentang rumah tangganya yang kala itu diuji dengan susahnya memiliki anak. “Saya dan bapak sudah tahunan menikah tapi lama sekali tak kunjung diamanahkan anak,” ujarnya sesaat ketika menanyakan usia anak anak saya yang jarak umurnya dekat tersebut.
Dia bercerita, suatu malam setelah suami pulang kerja, beliau menyempatkan dirinya pergi ke dokter untuk mengambil hasil tes kondisi medis terkait kesempatan memiliki buah hati. Hasilnya begitu getir, dokter memvonis, suaminya tak akan bisa memberinya seorang anak, kecuali mereka adopsi.
“Bapak pulang kerja sambil menangis, dia bilang, dokter sudah memvonisnya tidak akan bisa punya anak karena ada kondisi medis tertentu,” tambahnya dengan suara yang sedikit bergetar dan mata yang berair.
Saya pun sedikit sedih mendengarnya, sambil mengira-ngira, bagaimana jika saya di posisi si istri yang diberitahu kalau suaminya tak bisa memiliki anak. Na'udzubillah, saya pasti langsung menangis dan lemas. Meski demikian, saya menahan rasa iba dengan tersenyum dan mengangguk, menandakan saya menyimak cerita beliau dengan seksama.
“Begitu Bapak cerita kondisinya, saya sempat lemas. Namun tetap menyemangati, saya bilang seperti ini ke Bapak: Papi, kan kamu ini punya Tuhan, setiap hari berdoa lebih dari lima waktu, kenapa harus sedih ambil pusing dengan hasil pemeriksaan dokter? Dokter tuh manusia, perkiraannya bisa salah. Papi juga kan rajin sholat malam (tahajud) mari kita usaha lebih banyak berdoa lebih ikhlas” jelasnya pada suaminya. Dan suaminya pun tak banyak bicara, beliau mengaku, mereka akan coba lagi usaha untuk memiliki anak tanpa program hamil di dokter.
“Mari Papi, kita buktikan kalau dokter itu tak punya kuasa apapun terhadap manusia,” ucapnya menyemangati suaminya.
Dari yang saya dengar, usaha yang mereka lakukan sih sebenarnya biasa saja. Tak sekompleks jika ikut program hamil di dokter. Beliau menerangkan, selain rutin berhubungan, suaminya butuh beberapa nutrisi dari makanan tertentu seperti taoge, sayuran hijau, daging dan kacang kacangan. Serta beberapa sayur yang dimakan mentah atau dikukus (lupa apa saja nama sayurnya).
“Atasan suami saya juga memberikan kalimat kalimat doa yang diucapkan selepas sholat dan beberapa doa serta sholawat yang dilafalkan setelah sholat malam. Saya mengamalkannya, Lillahita'ala saja, saya dan suami juga bersikap pasrah sambil berusaha makan makanan yang dianjurkan. Melalui amalan ini jika di ijabah kami akan bahagia dan bersyukur sekali,” akunya.
Jalan beberapa bulan, lanjutnya, beliau mengaku sulit rasanya memakan sayuran mentah atau kukus yang minim bumbu. “Sebab karena setiap hari kami mengkonsumsi makanan itu lama kelamaan jadi terbiasa dengan langunya sayuran mentah,” katanya sambil terkekeh. Saya pun ikut cekikikan, membayangkan diri sendiri harus memakan makanan special diet tersebut. Duh, jangankan makan, cium bau langu sayuran saja saya ogah. Hehehe.
Namun, lanjut istri dari pegawai BUMN itu, semua usaha tersebut mereka lakukan dengan ikhlas dan penuh khidmat.
“Hingga pada suatu hari ketika Bapak libur, saya merasa pusing dan mual hingga muntah. Firasat saya kala itu masuk angin atau sakit biasa, hingga lewat beberapa hari mual muntah tak kunjung reda. Bapak mulai berfikir apa jangan jangan saya hamil,” tambahnya sambil tersenyum. Dan saya yakin senyum beliau tersebut menyiratkan kenangan menyenangkan di balik sakitnya itu.
Beliau melanjutkan, suaminya bergegas ke apotik begitu mengira istrinya hamil. “Hasilnya pun langsung terbaca, saya positif hamil setelah sekira empat atau lima tahun menikah,” ujarnya sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya dan berkaca-kaca.
SubhanAllah, ujar saya yang turut terharu mendengarnya. Kekuasaan Allah sebegitu dahsyat, sudah divonis tidak akan bisa punya anak karena ada kondisi medis yang tidak bisa dielakkan, namun dengan usaha yang konsisten, doa yang istiqomah, dan keyakinan yang teguh terhadap Allah, maka dijawablah harapan beliau dan suaminya.
Kembali ke kalimat beliau di paragraf pertama, “Jangan remehkan efek sholat malam”, itu lah yang beliau tekankan. “Karena pada sholat malam, kita bisa rayu Allah, bisa meminta lebih banyak rasa kasih sayang dari Allah untuk kita. Jadi Bu, jangan sia-siakan sholat malam, pada saat itulah saat yang mustajab,” pungkasnya.
Serta berkat kasih sayang Allah, si ibu itu akhirnya bisa memiliki anak satu2nya yang sekarang sudah memberinya dua orang cucu lelaki. Beliau bilang anak dan cucunya kini berada di Makassar, dan segera ingin berkumpul kembali saat suaminya selesai bertugas di Jakarta.
Semoga Allah memberikan ibu dan suami ibu kesehatan lahir batin ya Bu, dan dimudahkan untuk berkumpul dengan keluarga ibu. Aamiin.
MasyaAllah, senang banget bisa dengar cerita ibu, meski saya kerap lupa menanyakan nama ibu padahal tinggalnya bersebrangan hehehe.