Peran
Lirik lagu banda neira. Langit dan laut, mengalun mengiringi obrolan kecil, sore waktu Surabaya. Menemani manusia yang sedang sakit dan berusaha untuk baik-baik saja. Mengajak duduk di atas bangku kayu, dalam suasana kedai kopi nuansa klasik. Seorang barista tersenyum ramah, menawarkan menu kopi andalannya. Mempersilahkan duduk dan ngobrol bersama. Tuhan itu memang bisa berwujud apa saja ya, termasuk senyum dan segelas kopi susu yang tiba-tiba sedikit melunturkan rasa sesal dalam dada.
Sore waktu Surabaya, cuaca sedang cerah. Meski di sebelah barat langit terlihat bercampur mendung tipis. Namun, cahaya sunkissed tetap hangat memeluk tembok-tembok yang lembab, seperti mengatakan, "jangan takut sendirian, aku disini."
Aku yang mengenakan celana jeans oldblue, berkemeja Polyester tebal cukup gerah, duduk di depan meja kasir, menopangkan kaki, menyahut buku menu bercorak abstrak, cantik sekali, batinku.
Seorang laki-laki yang menggunakan apron coklat mendekat, "hai, kesini lagi," sapanya sambil tersenyum ramah, tangan kanannya menggenggam cangkir putih tulang bersih.
"eh, hai. iyanih," balasku canggung.
"kopi susu? atau mau coba yang lain,"
"hmmm," aku mengembangkan pipi, terlihat berfikir, pandanganku memeriksa beberapa jenis kopi yang berjejer di belakangnya, rapi dalam wadah unik kayu, khas jawa, keren.
"hmm aja, gak mau kopi?" dia bertanya, disusul tawa renyah dari suaranya.
Aku seketika tertawa, "eh gak gitu, oke, kopi susu dingin, satu." ucapku sambil mengangkat jari, menunjukkan tanda satu, dia tersenyum, mengangkat jempol tangan kiri.
Kuusap buku menu bersampul abstrak, timbul tiga dimensi, seperti latar sebuah cerita di buku dongeng yang aku punya, cantik sekali, pujiku lagi.
Dia melirikku, mendapati, aku yang sedang menikmati nilai keindahan dari sampul menu, "itu lukisan tangan sendiri" sahutnya
"oh iya, cantik sekali. siapa yang ngelukis?" tanyaku, mataku masih tak beranjak dari gambar.
"aku" jawabnya singkat,
Aku mengangkat kepala, beralih cepat, menatapnya "wow, keren, selain pintar bikin kopi, ternyata jago lukis juga nih," senyumku mengembang, disusul dengan senyum di wajahnya.
"hobby dari kecil kalo soal ngelukis," dia mendekat, menyerahkan kopi susu dingin yang sudah siap, mengambilkan sedotan kayu dari wadah, menyodorkan padaku, "buat kamu," tersenyum lagi, sepertinya dia Dewa senyum,
"give away? padahal baru tiga kali loh kesini, gimana kalau udah sebulan, bakal dapat apa nih?" kita terkekeh,
"anggap saja rezeki, karena sudah mampir kesini," dia menarik kursi kayu yang agak jauh di belakangnya, mendekat ke arah meja, duduk dengan ringan, "lukisan ini aku gambar persis dengan latar cerita sebuah buku, kisah tentang perempuan dari Negeri Oldsky, suka berburu, tapi tak pernah mendapat hasil buruan," dia menjelaskan alasan dari lukisan yang aku suka.
"Emma, perempuan berambut hitam, bermata biru, titisan Dewa bumi, takdirnya menjaga bumi, bukan membunuh makhluk bumi, itulah kenapa bidikannya selalu gagal ketika memburu," lanjutku, yes, betul, batinku, apa yang dia ucapkan sama dengan buku yang aku punya.
"kamu juga baca buku itu? wow, tos dulu," dia tampak bersemangat, aku terkekeh, membalas tosnya, "dia lahir pada ruang hampa, tidak menangis,"
"tapi langsung menjajak bumi, begitu kan?" sambungku cepat,
Dia terkekeh lagi, seperti bocah kecil yang bahagia ketika mendapat hadiah, "betul, Dewa Us mengajarkan kepada Emma, bahwa dia gak bisa lari dari takdirnya, sekuat apapun menolak, dia tetap makhluk bumi," tatapannya menerawang ke atas, langit, "dan Dewa Us sengaja lenyap, oh maksudku bersatu pada tubuh Emma,"
"oh, jadi, Dewa Us gak menghilang, tapi hidup dalam tubuh Emma?" aku sedang menikmati cerita yang keluar dari mulutnya, menopang dagu, menatap matanya, bening.
"heem," dia mengangguk, memperbaiki posisi duduknya, "kamu tau kenapa Dewa Us menghilang tiba-tiba? dan ternyata, bersemayam di tubuh Emma," aku menggeleng sedih, "itu karena dia harus menebus sebuah dosa,"
"dosa?" aku mengangkat satu alis,
"betul," jawabnya cepat, menjentikkan jari, tatapan berubah curiga, "tunggu, kamu belum baca buku itu sampai habis ya?"
Aku terkekeh tertunduk, terpojok, mengangguk menahan tawa, "lanjutin ceritanya dong, janji, setelah itu aku bakal baca bukunya sampai habis," tawarku.
dia menimbang, "yakin nih? kalau sudah tau ceritanya kenapa harus baca bukunya,"
"karena bisa jadi apa yang kamu ceritakan, sedikit berbeda dengan yang ada di buku."
"maksudmu kesan membacanya kan," dia sambung dengan benar, aku mengangguk mantap, tersenyum, "lanjut, dosa, Dewa Us terkenal paling bijak kan, lalu dosa apa yang membuatnya harus melenyapkan diri, itu sama halnya menghendaki hukuman sebelum takdir dimulai," sambungku antusias.
"di lembar ketiga yang berjudul stone and horse, kamu akan temukan jawabannya, bahwa Dewa Us memiliki seorang putri bukan karena tuntas bermeditasi, tapi sebab jatuh cinta dengan makhluk langit," jelasnya halus.
Aku melongo, masih siap menyimak cerita dari bibirnya, "jadi itu yang harus Dewa Us tebus, sebab cinta, hmm maksudku karena jatuh cinta dengan seseorang yang tak satu tempat." aku mengatakan dengan pelan, takut salah.
Dia tersenyum benar, "betul, sebab dia Dewa bumi, maka seharusnya jatuh cinta dengan makhluk bumi kan. Tapi tidak dengan Dewa Us, dia menolak jalannya, perasaan cinta muncul tiba-tiba tanpa sesuai rencana, itulah yang membuat Dewa Us yakin, bahwa dia telah jatuh cinta, pada mahluk langit, dan dia juga siap menanggung akibatnya, meski menebusnya dengan menghilang dan bersemayam pada tubuh Emma, manusia setengah Dewa," matanya menatap mataku, lembut.
"Dewa Us menjadi manusia? hmm maksudku bersatu dalam tubuh manusia, terus gimana sama makluk langit tadi, dia juga menerima hukuman? dia tau gak kalau Emma, memiliki takdir sebagai pelindung bumi," aku merentetkan berbagai pertanyaan penasaran.
Dia menggeleng, "udah ya cukup, kamu kudu baca sendiri, banyak kejutan di lembar ketiga, kamu masih baca lembar satu kan?"
Aku mengangguk malu, "itu karena aku malas membaca,"
"banyak kejutan yang gak bisa ditebak," dia mengambil nafas panjang, "dari cerita Dewa Us aku belajar, setiap yang hidup memiliki takdirnya masing-masing, semua tentang pilihan, memiliki resiko, apapun itu. Kamu tau?" dia bertanya, aku menggeleng, "sebetulnya pertemuan Dewa Us dan makhluk langit sudah sesuai takdir mereka, dan dari sini aku sadar, bahwa hidup adalah ujian, apapun jalannya," dia mengangkat kedua alisnya, aku diam, mencerna, keren, batinku, lagi. Aku seperti dibacakan dongeng yang nyata, di depan mata. Kebetulan, oh bukan, takdir, iya, takdir. Takdir yang mempertemukan hingga saling menceritakan sebuah kisah yang sama-sama sedang kita baca.
"tentang Emma?" aku bertanya,
"hemm" dia menggeleng, "banyak kejutan, kamu harus baca sendiri, setiap lembar kamu akan dapatkan sesuatu yang tak terduga, dan semoga itu mengubah cara pandangmu, terlebih kepada diri sendiri." ucapnya mantap, matanya masih teduh, oh yaa Tuhan.
Aku melengos, membuang nafas besar, "oke oke, nanti aku lanjutkan membaca."
"mau tambah kopi?" tawarnya,
"gratis nih," godaku,
Dia terkekeh, beranjak dari duduknya, mengambil sesuatu dari belakang, "oleh-oleh dari teman, katanya kopi khas Mataram," kopi hitam pekat tanpa ampas, terhidang dua di depan, mengepulkan aroma gurih,
"wah, bagi-bagi nih, terima kasih lagi," ucapku, "untuk cerita dongengnya dan kopi gratis,"
Dia tertawa kecil, jaim, merapikan topi biru tua berlogo baseball, aku ikut tertawa, cahaya sunkissed menghilang seiring cerita yang telah selesai terucap dari bibirnya, perlahan kedai terlihat ramai orang-orang, muda-mudi, laki dan perempuan, bulan bulat sempurna sudah tampak meski masih samar tertutup awan, namun dia tetap tegar menanti perannya, bagi manusia yang sedang sakit, selamat menerima sembuhmu, bagi manusia yang sembuh, selamat menerima bahagiamu, bagi manusia yang bahagia, selamat menerima rasa syukur lebihmu, dan bagi diriku, selamat melanjutkan hidup yang ternyata mati itu lebih baik, aku pamit, sampai jumpa ucapku, dia mengangguk, manis.














