Satu kesatuan dari beberapa hati yang saling tertambat Malam ini kenangan itu runtuh kembali disaat ku sedang ditemani secangkir kopi pekat yang teramat kental, yang ku taruh ke dalam cangkir kesayangan dan ku seduh dengan air mata kenangan namun tak ku aduk agar rasa manis diawal tak tercampur dengan pahit ampas diakhir. Ku kira, melupakan mu telah ku lakukan seutuhnya. Ku kira luka ku telah sembuh sepenuhnya. Ternyata aku tak pandai mengira. Sebab kini kau hadir kembali di ingatkan ku. Setelah bertahun-tahun kau sempat menghilang, dan seketika sekarang ingatan ku ingin kembali memanggil mu dengan kata sayang. Kamu, sedini ini kau hadir kembali kedalam memori yang belum lagi terisi. Ku tak pernah menyangka ingatan segala kisah tentang mu terputar kembali. Tentang saat dimana masih ada senyum yang membuatku selalu terkagum. Ketika tangis tak terdengar dalam isaknya. Ketika kita masih saling memuja perasaan satu sama lain. Mungkin kamu dapat diibaratkan bagai secangkir kopi, yang dapat dinikmati dalam suasana apapun bahkan disaat sedang patah hati. Namun sekarang ku coba tak berkutat dalam ruang lingkup patah hati. Ku tak akan membahas tentang kamu lagi. Ku akan beranjak kesuasana bahagia lagi. Bukan karena ku telah menemukan tempat baru dalam pelabuhan hati, namun ku telah tersadar bahwa ada sahabat yang pernah ku lupakan saat ku jatuh hati dan mereka selalu setia menasehati ku saat patah hati. Bagiku cerita dengan mereka bagai cerita tentang kopi yang tak ada habisnya. Dan kalian ku gambarkan bagai sesendok gula. Ada nya kalian untuk menambah cita rasa pada diriku yang kopi. Tapi ketika ku sedang jatuh hati terkadang ku lebih memilih tenggelam dalam pahit. Tanpa ingat tentang cita rasa manis yang ditawarkan sang gula. Mungkin ungkapan ku tentang adanya kalian dalam kehidupan ku begitu sederhana namun harus kalian tau “ Cinta itu diciptakan dari berbagai hal sederhana, dinikmati dengan segala macam rasanya, dan cinta itu sendiri tak kan pernah bisa pudar untuk selamanya”. Mungkin hanya kata maaf yang dapat ku lontarkan untuk kalian. Maaf karena ku pernah melupakan kalian disaat ku jatuh hati. Maaf karena aku pernah menutup telinga ku ketika kalian mencoba menasehati ku perihal kepada siapa ku melabuhkan hati. Mungkin benar ungkapan yang dikatakan Sudjiwo Tedjo “hal apa yang paling sia-sia dimuka bumi ini? Menasehati orang yang sedang jatuh hati”. Dan sekarang ku sadari nasehat kalian itu benar. Bahwa dalam pencarian tambatan hati, seseorang itu bagai sebuah kapal yang sedang melaju dalam hamparan samudera yang luas yang berusaha mencari sebuah pelabuhan, dan ketika telah menemukan sebuah pelabuhan kapal tersebuat akan dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memilih untuk menetap sejenak lalu berlayar kembali atau bersandar lalu menetap untuk selamanya. Terimakasih telah memberi warna terhadap kehidupan ku. Terimakasih telah setia menemani ku disaat susah maupun senang. Dan terimakasih telah setia menasehati ku dikala ku jatuh hati maupun patah hati. “ Sahabat; Satu kesatuan dari beberapa hati yang saling tertambat” Semua orang di sekitar mu silih berganti. Entah sikap, hati, perasaan, pemikiran, keberadaannya, bahkan tak jarang juga wujud fisiknya.
Tidak perlu resah, karena kau pun juga harus terus bergerak ke arah yang lebih baik lagi.
Teringat kutipan lalu, “Lama-lama temanmu akan terseleksi, atau bentuk kamu menentukan arah hidup. Akrab sebentar lalu tidak, atau tidak akrab lalu akrab sebentar.” Iya, dalam prosesnya yang perlu dipahami adalah persepsi diri sendiri jangan dibuat rumit.
Apalagi perihal rindu ingin temu, karena kita kenal bukan sehari dua hari, dan lagi Jawa-Sumatera hanya berbatas selat saja. Sini kunjungi alamat saya belum ganti :) Teruntuk sahabatku selama di tanah Jawa, UG terkhususnya Satya, Andres, Bela, Rain, Kalian tetap yang terbaik. Sahabatmu, -Noura Arifin #koncomu #benketokakrab #guetungguinyak #captionngaco #biarin https://www.instagram.com/p/Bkwtk_oH3l7/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=m6c5mn2qzlce











