Jangan suruh ikan memanjat pohon, jangan ajari ikan berenang, Saya ikan yang tidak bisa berenang
Tulisan ini saya ambil dari Kompasiana. Ada suatu dilema (termasuk saya) bagi penulis amatir ketika menulis artikel informatif. Dilema itu seputar ketika artikel itu tersaji. “Jangan-jangan informasi yang tersaji menggurui pembaca?”, apalagi bagi pembaca yang sudah berjuluk “pakar” di bidang informasi tersebut. Ibaratnya bagai mengajari ikan berenang. Namun di sisi lain penyajian artikel informatif itu sangat diperlukan untuk penulis amatir sendiri. Ya kalau tidak diperlukan berarti dia tidak pernah belajar menulis. Poinnya adalah: untuk melatih menulis agar dia menjadi penulis profesional dibutuhkan berbagai produksi dan penyajian artikel informatif. Dengan kalimat lain, jam terbang menulis sangat diperlukan agar disebut penulis pro. Lalu bagaimana cara mengatasi dilema itu? Kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, saya juga masih kebingungan menjawabnya. Salah-satu tanda kebingungan yang jelas kelihatan ukurannya adalah: ada beberapa postingan saya di Kompasiana yang nol respon atau komentar (walaupun diantara para pembaca Kompasianers banyak yang tahu bahwa ukuran respon itu subyektif karena banyak diantaranya yang basa-basi belaka). Kebingungan itu saya pendam terus sementara saya tetap menulis dan menulis. Sampai akhirnya saya bertanya pada salah-satu teman terkait persoalan ini. “Sob banyak caranya, misal setiap tulisan loe harus fokus pada satu tema,” begitulah kurang lebih jawaban teman saya. Untuk jawaban yang ini, saya kurang puas sebab kalau saya hanya fokus pada satu tema sepertinya saya membatasi diri dari potensi menulis. Maksudnya, perlu dibedakan antara kemampuan menulis sebagai satu bidang ilmu dengan kemampuan mengetahui suatu ilmu sebagai satu bidang menulis. Sederhananya, saya bertipikal penulis segala tema bukan personal branding writer. "ada pilihan lain?” Persuasi “Wah, loe tanyanya ada-ada aja sob. Gua jadi ikutan bingung. Sebenarnya ada, tapi itu kepanjangan dari jawaban pertama gua. Coba loe langsung buat buku tentang satu tema, dijamin loe langsung dianggap pakar ama pembaca.” “Wah, boleh tuh resep instansnya. Loe sebagai editor, mau nggak nerbitin buku gua yang tulisannya masih acakadut?” “Kampret...jelas gua nggak mau. Jelas ruginya nerbitin buku loe yang nggak ada pembelinya.” “Nah itu sob, gua baru belajar menulis masa langsung nulis buku. Latihan menulis yang bener aja gua belum becus eh langsung nulis berbab-bab.” “Ah loe nanya apa ngajak debat seh. Udah gini aja coba loe pelajarin tulisan persuasif,” teman saya langsung beranjak pergi. Ditinggal begitu saja oleh teman, saya dibuat berpikir oleh kata kunci ‘persuasif’ itu. Daripada dibuat pusing oleh kata kunvi itu, saya langsung bertanya sama paman Goggle tentang pengertian persuasi. Diantara belukar tulisan tentang persuasi, ketemulah sebuah buku berjudul “Can I change your mind?: The craft and art of persuasive writing” karya Lindsay Camp. Setelah saya pelajari sekejap, ada satu bab yang salah-satunya bisa menjawab “bagaimana cara agar tulisan tidak menggurui?” saya putuskan untuk berbagi tentang persuasi di tulisan ini sebab saya mau belajar. Lebih jauh, untuk memaksa saya belajar saya berbagi (baca tulisan saya tentang The Power Of Sharing) Sumber: klik gambar Sumber: cafemedico.net Pahami Pembaca Anda Tulisan persuasif mengilustrasikan suatu tulisan yang mempengaruhi pembaca untuk berpikir, merasa, dan berbuat sedemikian rupa sehingga pembaca merasa tidak digurui. Kenapa pembaca merasa tidak digurui? Ya sebab prinsip-prinsip persuasi salah satunya mengajarkan: Remember the Reader and the Result. Dalam buku itu, maksud dari hukum pertama persuasi ‘pahami pembaca anda’ adalah: 1.Pembaca Memiliki Segala Hal Yang Terbaik Untuk Berbuat Apapun Itu, Termasuk Berbuat Tidak Membaca Tulisan Yang Telah Tersaji Prinsip ini mengajarkan bahwa pembaca akan selalu mempunyai kesempatan yang tak banyak untuk membaca satu tulisan. Artinya sebagai penulis, mau tak mau harus memberikan “alasan memaksa” kepada pembaca untuk merebut atensinya. “Alasan memaksa” bisa diterjemahkan ke berbagai tips praktis bagaimana cara menyajikan tulisan yang tidak menggurui pembaca. Sebab kalau menggurui berarti sudah tidak menarik perhatiannya. Salah-satu caranya dengan memberikan atribut anekdot dan kutipan (quote) di awal tulisan. Cara lainnya masih banyak. Kata kuncinya berikan “bumbu penasaran” yang tidak menggurui. 2.Pembaca Tidak Pernah Mengawali Membaca Dengan Langsung Membaca Dari Awal Sampai Akhir Prinsip ini coba tanyakan pada diri masing-masing. Kita sebagai pembaca pasti ketika menemukan suatu tulisan, terlebih dahulu akan selalu mengamati secara keseluruhan (scanning) lalu membaca secara cepat (skimming) kalau tulisan itu menarik perhatian, kemudian baru membaca secara teliti kalau pembaca masih punya waktu membaca. Apa saja yang diamatinya terlebih dahulu? Diantaranya judul, abstraksi singkat (kalau ada), foto, sub judul, dan kalimat-kalimat yang disorot (highlight) dengan bold atau warna-wani. Nah, segala yang diamati terlebih dahulu itulah yang dapat dimodifikasi agar menarik perhatian. Tips ini disebut juga hooked (memancing). 3.Pembaca Tidak Pernah Langsung Mempercayai Arti Yang Tersurat Dari Kalimat Per Kalimat Prinsip ini mengambarkan pembaca selalu tidak mempercayai segala informasi yang dihantarkan melalui kalimat per kalimat di tulisan. Pasti akan ditafsirkan terlebih dahulu apa makna terdalam dan agenda rahasia dari pesan tulisan tersebut. Sederhananya, selama pembaca membaca tulisan pasti akan dibarengi dengan “suara-suara komentar” di pikiran pembaca tentang tulisan tersebut. Nah, salah-satu tips dari prinsip ini adalah meyakinkan “suara-suara komentar” tersebut dengan cara (lagi-lagi) tidak menggurui. Lengkapnya, tulisan setidaknya disajikan secara terang-benderang (baca: utuh) untuk memimalisir penafsiran negatif ataupun penolakan. 4.Pembaca Tidak Dungu Prinsip ini mendeskripsikan jangan menipu pembaca. Menipu disini berarti menunjukkan dalam tulisan bahwa kecerdasan pembaca itu nol. Misal, menarasikan atau mendesripsikan tulisan dengan tinggi hati (baca: sok tahu dan meremehkan pembaca), menjelaskan secara detail segala hal yang kebanyakan pembaca tahu, membuat berbagai dugaan yang tak beralasan tentang ketertarikan atau prioritas pembaca akan suatu hal. Setelah mengetahui sedikit tentang prinsip menulis persuasif, teman saya yang saya ajak diskusi tiba-tiba menghubungi. “Sob, coba loe pelajari gaya bahasa tulisan Samuel Mulia di kolom Parodi Kompas Minggu. Tuh tulisan kayaknya tidak menggurui.” “Halah, terlambat. Gua udah pelajari persuasi loe baru bilang,” jawab saya. Catatan: Karena ini tulisan blog, maka untuk hukum kedua persuasif tentang “Writing for results” disambung ke postingan berikutnya, termasuk tulisan Samuel Mulia. Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/ahmed-tsar-blenzinky/belajar-menulis-yang-tidak-menggurui_550d4571813311572cb1e248




















