"Bulan Ramadan selalu memiliki cerita berbeda. Ada 12 wajah baru di Dusun Buntu pada Ramadan kali ini. Asal mereka dari Yogyakarta, tak pernah terbiasa dengan dingin yang setia. Atas nama pengabdian mereka ikut meramaikan bulan Ramadan. Pengajian sebelum Maghrib dan buka bersama adalah kawan baru mereka. Di barat Dusun Buntu, tepatnya di RT 1, sebuah rumah sederhana menjadi tempat bernaung bagi mereka. Di belakang rumah mungil itu ada sebuah Mushola, Mushola Darussalam namanya. Bangunannya tidak megah tetapi selalu membuat betah. Cahaya lampunya tidak benderang tetapi bisa membuat hati tenang. Setiap jam setengah lima sore, di Mushola itu diadakan pengajian. Materi yang ringan namun pokok disampaikan secara santai dan menyenangkan. Pengajian itu diikuti juga oleh mereka, pelajar Yogyakarta. Setelah pengajian diadakan buka bersama. Sederhana, dengan teh tawar atau air hangat, ditambah buah pisang dan tempe goreng. Sederhana, utamanya bisa mengakrabkan suasana. Di sanalah, dengan saksi buah pisang dan tempe goreng, jamaah bisa berceloteh tentang hari yang telah dilalui. Ada yang semangat membayangkan panen kentang, ada yang mengeluhkan harga sembako yang mahal, ada yang saling menanyakan keadaan ladang masing-masing, ada pula yang sekadar manggut-manggut menahan kantuk. Bagi mereka, 12 wajah baru Dusun Buntu, buah pisang dan tempe goreng, juga celoteh penduduk setempat, membawa suasana hangat yang mereka rindukan. Rindu rumah, keluarga, kampus, dan teman seperjuangan." Pojokan kamar kos, jam ngantuk, sahur dengan mie instan ditambah segepok sawi biar agak sehat. Yogyakarta, 2 Juni 2017. Tadi waktu baru selesai tarawih di Mushola dekat kosan, tiba-tiba penulis abal-abal ini ingat banyak cerita tentang Ramadan dua tahun lalu. Sayangnya saat itu si doi cuma bisa menuliskan empat paragraf yang agak njelimet. Ah, Ramadan dua tahun lalu⦠Ketika setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi lihatnya wajah itu-itu saja. Pagi pertama puasa di 2000 mdpl sana, aku masih malu-malu. Memang pendiam, agaknya. Lagipula karena urusan kampus, aku berangkat KKN terlambat seminggu. Mereka pastilah sudah akrab, kemudian ketambahan aku. Saur pertamaku, aku takjub. Dingin luarrr biasssaaah. Suhunya 11 derajat. Di Jogja atau Purworejo, 23 derajat saja sudah sangat cucok untuk selimutans seharian. Puncak kemarau Juli 2015 adalah puncak dinginnya malam dalam setahun. Udaranya kering, dengan debu dari lading kentang dan wortel bertebaran sepanjang hari, dibawa angin kencang. Aku ikut bangun mendengar alarm pertama yang bunyi. Yaa Allah, dingin sekali. Untungnya lemakku cukup untuk menghangatkan. Sudah pakai kaos dan jaket, jilbab dan kethu, keluar dari sleeping bag, bergabung dengan para wanita yang menurutku masih terasa agak kaku-kaku wkwkwk. Semuanya terasa sama seperti aku, harus bangun bareng, masak bareng, biar nggak ada yang nganggur. Para kakung pastilah masih tidur. Maka, kami para mahasiswa beda latar belakang studi: aku, Robingatul Wiwi, Ganesh Cintika, Dian Aryanti, Anna Khaerun Nisa, berusaha menyinkronkan pikiran untuk menciptakan masakan lezat buat saur. Aku nggak ingat masak saur bareng Ovi Putri dan Maria Novenna wkwkwk, maaf ya. Jalan jingkat-jingkat melompati sleeping bag Wahyu Mahardhika, Faiz Zifa, Syaefudin Marzuki, Imam Bahri, dan Roni Bintoro. Ah, iya. Saking mininya rumah kami, ruang depan disulap menjadi ruang kerja/ruang makan kalau siang, dan garasi motor/ruang tidur kalau malam. Kamar 2x1 di dalam hanya cukup untuk koper-koper dan ganti baju 3-4 orang. Kebiasaan masak remang-remang di dapur dengan lantai keramik sedingin es, rebutan duduk di karpet tipis dan bulukan, kemudian nyari-nyari pisau untuk rajang-rajang, tampaknya berlanjut terus. Hanya saja semakin mendekati lebaran, kadang hanya dua orang yang sibuk di dapur. Hebatnya, Ganesh sebagai budhe kami, selalu bangun dan menyiapkan sahur. Padahal dia sendiri tidak berpuasa. Uuu, budhe I love youuu. Lama-lama, aku pun nggak malu-malu masih ngruntel di dalam sleeping bag kalo emang ngantuk dan kedinginan. Palingan nanti aku bikinin minum anget, susu atau teh aja, hahaha. Begitu pikirku dulu. Ganesh dan Dian akan sangat senang bisa bagi-bagi jatah makan, dan selalu porsi ekstra untuk Faiz. Ganesh dan Dian paling sering glenak-glenik di dapur, yang ternyata mereka menciptakan ramuan telur+tepung+air biar irit sembako ⹠Noven memang nggak puasa, tapi dia selalu sempat ngintip kami yang sahur dan berpesan agar disisakan untuk dia sarapan pagi nanti. Selepas saur kami siap sholat Subuh di Mushola belakang pondokan, yang hanya berjarak selebar pintu. Serius. Buka pintu belakang, ketemu pintu Mushola. Dekat sekali, tapi malasnya luar biasa. Karena dinginnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Beberapa kali habis Subuh aku berhasil nggak tidur, tadarusan kemudian beres-beres dapur bekas masak, mumpung sudah terang. Tapi kalau beneran capek, ya masuk sleeping bag lagi, sampai ditendangin Mas Juki suruh bangun. Para wanita kalau sudah bangun punya aktivitas masing-masing seperti main ke tetangga, beres-beres, nyuci, ke pasar beli sayur, atau nggarap proker. Faiz sama Imam susah bangun, sampai sleeping bag mereka harus dibuka paksa dan ditarik biar mereka kedinginan dan melek. Wahyu bisa dibilang adalah lelaki paling rajin bangun dan juga rajin mencuci baju hahaha. Roni bangun, sih, tapi tetap mojok. Ah, lucu sekali, sih⦠Kegiatan KKN kami selama Ramadan nggak banyak. Tapi aku ingat pernah hampir pingsan karena kepanasan dan kecapekan keliling bantuin pak RT 1, pak Sur. Tapi lupa, sih, waktu itu ngapain. Yang jelas aku udah kliyengan, pandangan item semua, sesak napas, trus aku buru-buru balik pondokan, selimutan, dan kepala dicondongin ke bawah. Selama Ramadan, Dian mengajariku hal penting: ngirit wudu Ashar-Maghrib. Airnya dingin buanget, dan aku harus rajin pakai lotion tiap habis kena air biar nggak kering dan ngglodoki kulitnya. Jadi kata Dian, habis sholat Ashar, hati-hati jangan sampai kentut atau kesenggol laki-laki, atau salim sama bapak-bapak. Jam limaan kami para cewek bantu Bu Mar atau Bu Handoyo, atau ibu-ibu yang bertugas menyiapkan takjil. Menata tempe di piring, bagi-bagi pisang, kue bolu, kue mangkok. Menuang teh di gelas-gelas. Maghrib, ulalala selamat berbukaaa. Dengan tempe dan pisang, dan kadang lirik sana-sini lihat wajah anak-anak Jogja ini bahagia karena takjil gratis tiap hari yang nggak akan bosan. Selepas Maghrib kami balik pondokan, dan Ganesh pasti sudah menyiapkan makanan. Ganesh ini luar biasa sekali perannya selama Ramadan. Nanti kalau ada sisa pisang atau tempe, pasti ada yang nggedor pintu pondokan, bilang buat mbak mas KKN aja. Nikmat, dan sekarang aku rindu.