Surat Favorit Dalam Shalat (Versi Si Eta)
Semua orang tentu udah paham kalo masing-masing dari kita (muslim/muslimah) pastinya wajib melaksanakan sholat 5 waktu. Ya kan ya? Iyain aja deh. Nah di setiap sholat, tentu kita juga bakal baca surah Al-Qur’an setelah Al-Fatihah kan, misalnya Al-Baqarah, An-Nisaa, Ali-Imran etc.
Nah di antara surah-surah tersebut, ada satu surat yang jadi salah satu surah favorit, yang mana surah ini di-request sama panitia buat disampein waktu kajian, hehe.
Surah apakah itu? Clue nya adalah surah ini sering kita baca dengan gembira nan sumringah saat jam sekolah selesai sambil duduk tegak dan tangan diletakkan di atas meja.
Yap, surah itu adalah surah Al-‘Ashr. Oke sekarang, serius mode on dulu ya.
- Pentingnya memahami Al-Qur’an
Setiap benda yang cukup rumit, biasanya selalu memiliki sebuah “manual book” atau “buku panduan” agar benda tersebut digunakan dengan benar sesuai dengan yang seharusnya. Maka saat kita bicara tentang manusia, sejatinya manusia pun memiliki “manual book”nya juga. Tidak lain dan tidak bukan “manual book” manusia adalah Al-Qur’an, panduan ia ada agar manusia menjalankan hidupnya dengan benar sesuai kehendak Allah azza wa jalla. Maka memahami Al-Qur’an merupakan sebuah keharusan bagi kita agar kita mengerti betul buku panduan kehidupan kita tersebut, meskipun hanya membacanya saja pun sudah bernilai pahala. Tapi jika memang kita ingin mendapat faidah lebih optimal, pemahaman akan Al-Qur’an menjadi sangat
penting.
- Memahami pesan surah Al-‘Ashr
Karena pentingnya memahami Al-Qur’an sesuai yang dijelaskan di poin sebelumnya, juga dalam rangka agar kita memiliki khazanah pemahaman yang lebih luas akan Al-Qur’an, paling tidak agar kita memahami surah ini ketika kita bacakan pada waktu sholat, maka kita akan coba sama-sama memahami pesan yang ingin disampaikan Allah melalui surah Al-‘Ashr.
Di ayat pertama surah ini, Allah membukanya dengan huruf Qosam (huruf yang bermakna sumpah, huruf-huruf tersebut adalah و ,ت ,ب), artinya Allah ingin menegaskan suatu keniscayaan/kepastian akan kabar yang disampaikan. Karena di sini Allah lah yang bersumpah, bukan manusia, maka tingkat kepastiannya menjadi amat sangat tinggi.
Allah bersumpah demi apa? Dalam ayat ini, yang digunakan untuk menjadi pelengkap qosam nya adalah Al-‘Ashr. Lalu, apa makna dari Al-‘Ashr itu sendiri? Al-‘Ashr dalam Bahasa Arab bermakna tiap waktu yang kita lewati.
Maka jika dipadukan, ayat pertama dalam surah ini menegaskan bahwa Allah bersumpah demi tiap detik yang kita lalui dalam hidup. Dan perlu dipahami, bahwa pengambilan suatu kata sebagai pelengkap sumpah Allah tidaklah tanpa makna. Selalu ada relevansi atau kaitan antara sesuatu yang dijadikan sumpah dan pesan yang akan disampaikan. Jika demikian, apa kira-kira pesan yang ingin Allah sampaikan dalam surah ini? Jawabannya ada di ayat selanjutnya.
Terjemah dari ayat ini adalah, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”. Ayat kedua ini dimulai dengan sebuah penegasan menggunakan “inna” yang bermakna sesungguhnya, kemudian dikuatkan kembali dengan huruf lam taukid (huruf yang digunakan untuk meyakinkan informasi yang diragukan. Misal dikatakan, “inna Sayyida Rois ya’ti ila hadzal masjid” (“Sungguh Pak Presiden akan datang ke masjid ini”). Kemudian ada yang meragukan informasi itu, maka tambahkan lam di dalamnya untuk meyakinkan, “inna Sayyida Rois laya’ti ila hadzal masjid” (“Sungguh Pak Presiden benar-benar akan datang ke masjid ini”)) yang juga berfungsi sebagai penegasan. Artinya informasi yang diberikan benar-benar sangat valid.
Maka apa sebenarnya pesan di ayat ini dan apa kaitannya dengan ayat sebelumnya? Jika pada ayat sebelumnya dibahas mengenai sumpah Allah terhadap waktu yang senantiasa kita lalui, maka ayat ini memaparkan mengenai statement apa yang dijamin oleh Allah dengan sumpah di ayat sebelumnya.
Apabila kita koneksikan antara ayat pertama dan ayat ini, maka pesan yang akan kita dapat adalah “Allah menegaskan bahwa manusia di tiap waktu yang mereka lewati, di tiap detik yang mereka lalui pada dasarnya mengalami kerugian”. Masa sih? Emang iya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah diantisipasi oleh Allah dengan adanya lam taukid di ayat kedua yang berperan sebagai penegas/meyakinkan akan informasi yang diragukan. Oleh karenanya kita harus meyakini bahwa secara mendasar manusia memang adalah makhluk yang merugi.
Sudah? Sampai di situ aja? Tentunya tidak. Allah akan menjelaskan sesuatu yang amat berharga di ayat selanjutnya.
Di ayat ke-tiga ini, Allah menjelaskan sesuatu yang amat sangat berharga. Di ayat pertama dan kedua Allah menerangkan suatu kepastian bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa merugi di tiap waktunya, lalu di ayat ini Allah paparkan apa yang harus kita lakukan agar kita bisa lepas dari status default kita tadi (merugi).
Apa aja sebenernya yang harus kita lakukan? Hal-hal itu Allah jelaskan pada ayat ini, antara lain:
1. Ber-iman
Syarat pertama agar hidup kita tidak merugi di tiap waktunya adalah iman. Sebab inilah yang membedakan antara apa yang dilakukan oleh Mu’min dan yang bukan. Dengan adanya iman, maka semua kebaikan yang kita lakukan akan memiliki nilai ukhrowi, dan itulah pemberat amal kita di akhirat kelak. Sebaliknya, tanpa iman maka semua kebaikan yang dilakukan akan tak bernilai ukhrowi, dan itulah yang dimaksud kerugian di ayat sebelumnya.
Allah azza wa jalla mengatakan: وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Q.S. Al-Furqan : 23)
Dalam ayat di atas, para mufassir (ahli tafsir) menafsirkan bahwa Allah menegaskan kepada kita apabila perbuatan baik manusia tidak dilandasi dengan keimanan, kebaikan kebaikan yang telah dilakukan tadi akan menjadi sia-sia di akhirat, tak berharga layaknya debu yang berterbangan. Diksi yang digunakan adalah debu yang berterbangan, benda yang sangat kecil yang beratnya dalam timbangan tak akan mempengaruhi hasil secara signifikan. Pun bukan debu yang menempel, jika debunya masih menempel, ada kemungkinan masih bisa untuk ditakar beratnya, tapi Allah menggunakan kata debu yang berterbangan, seolah menegaskan memang kebaikan-kebaikan tadi sama sekali tak ada harganya sedikitpun di akhirat kelak. Surely meaningless.
Mungkin beberapa dari kita pernah mendengar pertanyaan seperti ini, “kok ga adil? Orang Islam yang banyak dosa masih punya kemungkinan masuk surga. Tapi orang yang bukan Islam, walaupun sering ngelakuin kebaikan, tetep aja masuk neraka. Ga adil banget dong”. Sejatinya itu malah merupakan satu bentuk keadilan Allah. Kok gitu? Iya, adil, Allah memberikan balasan sesuai dengan motivasi/hal yang melandasi manusia melakukan perbuatan yang ia lakukan. Jika seorang mu’min melakukan kebaikan dengan dasar iman dan mencari keridhoan Allah, maka yang ia dapat pertama adalah dampak kebaikan itu secara langsung di dunia dan juga ridho Allah di akhirat kelak, sesuai dengan apa yang dia niatkan. Sedangkan jika seorang yang tidak beriman melakukan banyak kebaikan tanpa iman dan tanpa keinginan mencari ridho Allah, misal dia membangun jalan, membangun fasilitas umum, menolong orang, etc. Dia akan mendapat balasan akan kebaikannya secara direct/langsung di dunia, misal dia mendapat kepercayaan orang, dianggap baik/dermawan di mata manusia lain, dan sebagainya. Namun nilai amalnya itu jika dibawa ke akhirat, persis seperti yang dijelaskan Allah di surah Al-Furqan ayat 23, bagai debu yang berterbangan, karena tidak adanya nilai ukhrowi yang menjadi pemberatnya. Amal itu selesai dibalas di dunia sebagai sebuah sunnatullah tanpa bisa dinilai di akhirat, dan inilah kerugian yang luar biasa.
2. Beramal Shalih
Ternyata hanya dengan iman saja tidak cukup membuat kita tidak merugi di tiap waktunya. Lalu hal apa yang bisa menjadikan tiap waktu di hidup kita bermanfaat? Jawabannya adalah amal shalih. Apa itu? Untuk memahaminya, kita harus mengerti “apa itu amal?” dan “apa itu shalih?”.
Amal, secara Bahasa bermakna sesuatu yang kita lakukan, dan karena ini bersifat umum, maka semua hal yang kita lakukan dapat disebut amal. Jadi, untuk membuat hidup kita senantiasa tidak merugi, di ayat ke-tiga ini dijelaskan bahwa kita harus melakukan sesuatu (dan ini masuk akal, iya lah kalo mau hidup bermanfaat, harus ada sesuatu yang kita kerjakan).
Nah yang menjadi pembatas atau perinci amal macam apa yang harus kita kerjakan menurut ayat ini, dijelaskan di kata selanjutnya, yaitu kata shalih. Nah apa itu shalih? Kita harus memahami bahwa dalam Bahasa Arab terdapat beberapa kata yang me-refer pada suatu makna yang sama, namun agak berbeda. Kata apa sebenarnya yang akan kita rujuk? Kata itu adalah kata “baik”. Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang bermakna “baik”, di antaranya:
- طيّب
Bermakna “baik” secara fisik, karenanya kita sering mendengar istilah, makanan yang “halalan thayyiban”, maksudnya makanan tersebut halal dan baik secara fisik/untuk kesehatan.
- خير
Bermakna “baik” secara sifat, misal ada orang penyabar, penyayang dsb, maka sifat-sifat tadi disebut sifat yang khair.
- معروف
Bermakna “baik” secara sikap/perbuatan, karenanya di Al-Qur’an kita tentu akrab dengan kalimat “ta’muruna bil ma’ruf…”, yang berarti menyeru pada perbuatan yang baik.
- إحسان
Kata ihsan pun bermakna “baik” agak mirip dengan ma’ruf, perbedaannya adalah jika ma’ruf hanya bermakna baik dalam ranah perbuatan (umum, apapun motivasinya, yang penting perilaku baik), maka ihsan adalah perbuatan baik yang dilandasi oleh keimanan. Jika membuang sampah di tempat yang semestinya pada dasarnya adalah hal yang ma’ruf, maka ketika hal itu dilandasi niat lillah/mengaharap ridho Allah, maka hal itu kemudian disebut sebagai perbuatan yang ihsan. Inilah yang membedakan perbuatan baik mu’min dan yang bukan.
- صالح
Seperti beberapa kata sebelumnya, shalih pun memiliki makna “baik”. Pertanyaannya adalah baik dalam ranah apa dan seperti apa? Jawabannya adalah shalih mencakup ke-empat kata sebelumnya. Ketika sesuatu dikatakan shalih maka berarti ia thayyib, khair, ma’ruf, dan ikhsan sekaligus. Apabila dijelaskan dengan struktur kalimat yang lain, setiap sesuatu/perbuatan yang baik secara fisik, baik secara sifat, baik secara sikap, dan dilandasi dengan keimanan, maka sesuatu/perbuatan itu disebut shalih.
Dari situ dapat kita simpulkan bahwa agar hidup kita tidak merugi di tiap waktunya, setelah kita beriman, selanjutnya adalah kita harus senantiasa melakukan kegiatan yang baik (dalam ranah fisik, sifat, sikap dan dilandasi dengan niat lillah).
3. Saling Mengingatkan dalam Kebenaran dan Kesabaran
Setelah kita beriman, kemudian melakukan amal shalih. Tentunya kita sadar bahwa performa iman maupun amal shalih kita kadang meningkat dan kadang menurun, karena fitrahnya iman memang sinusoid alias naik turun. Maka hal selanjutnya yang harus kita lakukan agar kita selalu dapat terhindar dari kerugian di tiap waktu kita adalah, saling mengingatkan dan saling menasehati. Betapapun mungkin kita adalah seorang da’i, kita tetap memerlukan teman-teman yang selalu bisa mengingatkan kita, ketika kita dalam kondisi lemah, baik secara iman maupun amal. Maka sudah seyogyanya setiap mu’min yang memang mengemban misi dakwah (karena pada dasarnya setiap orang dari ummat Muhammad salallahu ‘alaihi wasalam diamanahi pundak kenabian atau amanah untuk senantiasa saling mengingatkan) memiliki 2 lingkungan. Pertama adalah lingkungan medan dakwahnya, di mana dia bisa menyebarkan kebaikan sebanyak mungkin dan seluas mungkin, dan yang ke-dua adalah lingkungan recovery, di mana dia bisa men-charge ruhiyah dan menambah ilmu di sana
Terkait saling mengingatkan, kita perlu memperhatikan beberapa hal yang harus dijaga, antara lain:
- Nasehati/ingatkanlah dalam keadaan sendiri
Ini adalah bagian dari akhlak mengingatkan, kenapa? Karena apabila kita mengingatkan orang dalam kondisi ramai, bisa jadi kita membuat orang tersebut merasa malu dan pada akhirnya tampak seperti kita sedang merendahkannya di hadapan orang lain, meskipun mungkin kita sama sekali tidak berniat melakukannya.
Ada sebuah kisah tentang Imam Ahmad bin Hambal, suatu ketika saat beliau tengah berjalan, beliau melihat seorang muridnya sedang mengajar di bawah pohon. Imam Ahmad pun memperhatikan kegiatan muridnya tersebut, beliau melihat orang-orang yang tengah diajar oleh muridnya itu tidak mendapat tempat yang teduh, sementara muridnya yang tengah mengajar tadi ada di tempat yang teduh di bawah pohon.
Jika memang ingin, Imam Ahmad bisa saja langsung menegur muridnya tadi, apalagi beliau adalah seorang imam besar. Namun Imam Ahmad memilih untuk berlalu.
Karena Imam Ahmad hapal kebiasaan muridnya tadi yaitu sering sholat malam, maka malam harinya Imam Ahmad berjalan mengendap menuju rumah muridnya itu, kemudian beliau ketuk pintunya pelan-pelan sambil mengucap salam dengan berbisik.
“Assalamu’alaykum”
Kemudian muridnya membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat gurunya ada di depan pintu.
“Wa’alaykumsalam, masyaa Allah, Syaikh. Ada apakah gerangan sampai engkau pergi ke rumahku malam-malam begini? Jika perlu malah saya yang harusnya ke rumah Syaikh”
“sssstt, tidak apa-apa. Istri dan anakmu sudah tidur?”, Imam Ahmad menjawab sambil berbisik
“Sudah Syaikh, mari masuk Syaikh”
“sssstt, pelan-pelan bicaranya. Aku tidak akan lama. Tadi siang aku melihatmu mengajar di bawah pohon, kamu ada di tempat teduh sementara muridmu tidak, lain kali jangan begitu ya.”
“Baik, Syaikh. Insya Allah”
“Ya sudah, kembalilah sholat malam. Aku pamit, Wassalamu’alaykum”, Imam Ahmad pun pergi.
Betapa hati-hatinya seorang Imam Ahmad dalam menasehati/mengingatkan orang yang adalah muridnya. Karena memang seorang mu’min dalam menasehati saudaranya haruslah juga bisa menjaga harga diri dan kehormatan si orang yang dinasehati/diingatkan.
- Nasehati/Ingatkan dengan akhlak dan bahasa yang dimengerti
Bicara tentang nasehat menasehati, kita bicara tentang manusia yang kemudian kita akan bicara mengenai hati dan bagaimana cara menjaganya. Salah satu cara agar nasehat kita sampai ke dalam hati, setelah diupayakan kita menasehati secara personal, kemudian adalah kita harus memakai akhlak dalam menasehatinya. Perhatikan kondisi hatinya, moodnya, dan sebagainya serta sampaikan dengan pembawaan yang nyaman bagi si orang itu.
Di samping itu kita pun harus menggunakan bahasa yang ia mengerti, misalnya jangan gunakan atau menyebutkan istilah-istilah yang dia tidak mengerti ketika kita menasehatinya, sebab itu akan mengurangi keberterimaan hatinya akan nasehat kita.
- Jangan mencela
Ini harus benar-benar kita garis bawahi. Sebab fenomena ini sangat sering kita temui, atau mungkin kita lakukan tanpa kita sadari. Jika memang ada sesuatu yang tidak tepat dan harus dibenahi dari saudara kita sesama muslim, maka hal itu bukanlah untuk dicela, tapi untuk diingatkan dan diperbaiki. Bahkan untuk mendakwahi orang non-muslim saja kita harus menjaga akhlak, apalagi kepada saudara kita yang se-aqidah. Sekali lagi hindari cela-mencela ini, sebab hal tersebut bisa mengurangi nilai kebaikan yang telah kita lakukan.
Selain catatan-catatan di atas, sesuai dengan redaksi ayatnya, dalam nasehat-menasehati haruslah tetap dalam frame kebaikan dan harus sabar, karena menasehati manusia tentunya bukan hal yang sederhana, maka kesabaran ini perlu kita perbesar sehingga dengannya insya Allah saat kesulitan datang, pertolongan Allah akan tiba karena kesabaran kita.
- Kesimpulan
Dari pembahasan kita di atas, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:
Bahwa dalam surah Al-‘Ashr ini Allah ingin menegaskan bahwa “by default manusia itu makhluk yang merugi, dan untuk bisa lepas dari keadaan itu, ada 3 hal yang bisa kita lakukan yaitu beriman dan menjadikan Allah sebagai motivasi apapun yang kita lakukan, kemudian melakukan kegiatan-kegiatan/amalan yang shalih (bagus/baik secara fisik, sifat, sikap, serta dilandasi dengan niat lillah), serta saling mengingatkan dan menasehati dengan akhlak yang baik”
Nah segitu dulu pembahasan tentang surah favorit waktu sholat (versi si eta) nya ya. Kalo ada yang bermanfaat silahkan diambil, kalo ada yang salah mohon dikoreksi dan diingatkan. Udah gitu aja, kalo ada kesempatan lagi, insya Allah kita bisa sharing-sharing lagi.
Wallahu a’lam.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Line id: @jbl4325d
Instagram: kisr_itb
Blog: faqiehkisr.tumblr.com
Fb: kiseritb