Belajar menghargai tradisi dari Kawasan Glodok (Vihara Dharma Bhakti / Kim Tek Ie, Pasar Petak Sembilan, dan Kopi Es Tak Kie)
Semakin berkembangnya zaman, teknologi pun semakin berkembang. Pemahaman dan kepekaan seseorang terhadap tradisi dan sejarah semakin menipis. Media sosial, Mall, dan Tempat “kekinian” lainnya merupakan instrumen yang lebih melekat pada generasi sekarang sehingga tempat – tempat yang menurut masyarakat atau generasi sekarang tidak menarik akan semakin ditinggalkan. Akan tetapi, di beberapa tempat tradisi dan sejarah merupakan salah satu unsur yang sangat melekat pada kehidupan sehari – hari, salah satunya di kawasan Glodok, Jakarta Barat.
Bagaimana manusia yang ada di dalamnya menjalankan tradisi yang terus diturunkan dari generasi ke generasi? bagaimana ritual menjalankan tradisi ini masih begitu khidmat? bagaimana akhirnya narasi yang terjadi bisa membentuk Kawasan Glodok (Kim Tek Ie, Pasar Petak Sembilan, Kopi Es Tak Kie) justru menjadi kawasan yang unik di tengah modernisasi yang terjadi?
Kawasan Glodok berada di kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Sejak Zaman Belanda wilayah Glodok sudah terkenal sebagai wilayah pecinaan terbesar di Batavia dikarenakan mayoritas masyarakat Glodok merupakan keturunan Tionghoa. Kondisi demografi yang ada menjadikan Kawasan Glodok menjadi salah satu kawasan yang unik. Hal ini terkait dari sejarah dan juga tradisi yang terus diturunkan sampai generasi sekarang sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengundang orang mendatanginya. Ada tiga tempat yang kami datangi antara lain, Pasar Petak Sembilan, Vihara Kim Tek Ie, dan Kopi Es Tak Kie.
chapter 1 : Pasar Petak Sembilan
Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Pasar Petak Sembilan. Pasar Petak Sembilan berlokasi di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Tepatnya berada di Jalan Kemenangan No.40, Glodok, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11120. Nama Pasar Petak Sembilan ini berasal dari nama tempat dimana pasar ini berada, yaitu di Gang Petak Sembilan. Karena berlokasi pada sebuah gang, otomatis pengunjung akan merasa berjalan di sebuah koridor dengan di kanan dan di kirinya adalah kios ataupun etalase penjual.
Suasana di Pasar Petak Sembilan
Sekilas saat pertama kali datang ke pasar ini kami merasa selayaknya berada di pasar tradisional pada umumnya dimana barang yang dijual merupakan kebutuhan sehari – hari seperti sayur, bumbu, lauk, buah – buahan dan lain sebagainya. Yang membedakan Pasar Petak Sembilan dengan pasar tradisional lainnya yaitu penjual di Pasar Petak Sembilan menjual bahan makan dan kebutuhan sehari – hari yang berkaitan kental dengan masyarakat Tionghoa.
Bumbu – bumbu masakan tradisional Tionghoa
Penjual di Pasar Petak Sembilan sangatlah beragam, dari penampilan fisik kami melihat ada yang pribumi dan juga keturunan Tionghoa. Penjual yang merupakan keturunan pribumi menjual bahan yang umum dijual di pasar tradisional lainnya sedangkan penjual yang berketurunan Tionghoa menjual bahan makanan dan kebutuhan yang berkaitan dengan unsur Tionghoa.
Dari atribut Tionghoa yang dijual kami mengasumsikan bahwa tradisi masyarakat Tionghoa terus berlangsung sampai saat ini. Hal ini menarik perhatian kami untuk mencari tahu bagaimana tradisi ini bisa terus berlangsung.
Dari semua atribut yang dijajakan penjual hal yang paling menyita perhatian kami yaitu katak dan teripang atau timun laut yang biasa diolah untuk menjadi bahan makanan tradisional Tionghoa seperti sup atau bisa juga di tumis.Teripang dijual tidak hanya saat Imlek tapi teripang dijual setiap hari, begitu pula katak.
Nuansa Pasar Petak Sembilan terlihat semakin khas dari banyaknya penjual dan pembeli yang mengenakan pakaian berwarna merah, jualan atribut Tionghoa yang didominasi juga berwarna merah, serta aroma dupa yang sesekali tercium juga menambah kekhasan pasar ini. Saat mendekati Imlek kawasan ini akan didominasi dengan warna merah. Unsur berwarna merah seakan kontras dengan warna lain seperti warna hijau (sayur), abu – abu (ikan), krem (ayam), coklat (kayu), dan warna lainnya sehingga menjadi penambah aksen warna yang unik secara visual.
Perpaduan warna yang dihasilkan dari elemen ruang yang ada (sayur, buah, lauk, elemen tradisional, dll) menghasilkan visual yang “colorful” pada kawasan ini, penggunaan elemen hitam putih bisa menjadi pilihan untuk berfoto.
Setelah menyusuri Pasar Petak Sembilan kami melihat kawasan ini bisa menjadi tempat yang menarik karena keunikan elemen – elemen yang ada didalamnya. Pasar Petak Sembilan dapat memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda karena kita bisa membeli bahan makanan tradisional Tionghoa, pengalaman berbelanja di Pecinaan, ataupun pengalaman menikmati suasana pasar tradisional yang kental akan budaya Tionghoa. Selain itu keberadaan elemen – elemen tradisional Tionghoa bisa berpotensi untuk menjadi objek untuk difoto ataupun menjadi background.
Tempat selanjutnya yang kami kunjungi yaitu Vihara Dharma Bakti, salah satu Vihara tertua di Jakarta. Vihara Dharma Bakti juga memiliki nama lain yaitu Kim Tek Ie. Kim Tek Ie berlokasi Jalan Kemenangan III Petak Sembilan No. 19, Glodok, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11120.
Vihara ini memiliki unsur Buddhis-Taois yang dapat dilihat dari tokoh-tokoh kepercayaan yang banyak dipuja di dalam dan juga dibangun klenteng kecil di sekitar halamannya.
Sejarah singkat Kim Tek Ie atau Vihara Dharma Bhakti yaitu Vihara ini didirikan pada tahun 1650 dengan nama Kwan Im Teng dengan luas Vihara kurang lebih 3200 meter persegi. Sempat santer diberitakan bahwa Vihara ini terbakar dan menjadi saksi bisu atas peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh tentara Kolonial VOC di tahun 1740, lalu Vihara ini diperbaharui dan namanya pun diubah menjadi Kim Tek Ie. Di bawah kelolaan dari lembaga Dewan Vihara Indonesia (DEWI) di tahun 1965, terjadi tindakan pemutusan akar ketionghoaan dengan masyarakat Indonesia, sehingga tempat yang memiliki nama Tionghoa ini dianjurkan untuk menyembunyikan unsur-unsur Taois yang ada dan menonjolkan sifat Buddhis dari klenteng, lalu nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti atau bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti Klenteng Keutamaan Emas.
Saat masuk ke Vihara ini kita akan disambut dengan gerbang masuk yang bertuliskan nama Vihara ini. Bagi pengunjung yang datang tidak untuk beribadah ada semacam meja resepsionis yang dijaga oleh satpam, hal ini bertujuan untuk melaporkan perihal kunjungan kita ke Vihara ini. Di bebrapa tempat di Vihara ini pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki dan ada larangan untuk mengambil gambar. Hal ini kami asumsikan bahwa area ini merupakan area yang sangat sakral sehingga kekhidmatannya sangat dijaga dan orang yang sedang melakukan ritual peribadatan juga tidak terganggu.
Area resepsionis dan juga ruang yang tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar
Ritual Peribadatan menjadi hal menarik pada tempat ini. Bagaimana manusia bisa terhubungan dengan leluhur dan juga dewa melalui elemen – elemen peribadatan yang menghasilkan sebuah prosesi yang sangat sakral.
Elemen pendukung dari narasi yang hadir yaitu berupa warisan didukung dengan adanya orang yang menjaga warisan tersebut. Pengelola selalu mengkondisikan Vihara ini agar selalu bisa digunakan untuk prosesi ritual, sehingga ritual yang menghubungkan manusia dengan dewa tidak terganggu oleh hal apapun.
Orang – orang yang mendedikasikan diri untuk menjaga warisan yang ada.
Hubungan yang terjadi pada Vihara ini juga tidak hanya hubungan manusia dengan Dewanya, akan tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Kebaikan terhadap sesama manusia merupakan salah satu warisan yang sangat berharga.
Setiap orang diterima secara terbuka di Vihara ini dan menjadikan tempat ibadah yang banyak dikunjungi, juga menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.
Elemen arsitektur dan pendukungnya sangatlah kuat, sehingga bangunan yang ada memiliki narasinya tersendiri. Hal ini tentunya juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi objek foto yang baik.
Selain bagian fasad (tampak depan) bangunan bagian interior pun tak kalah menarik untuk menjadi objek untuk berfoto.
Elemen bukaan (jendela) yang ada selain bisa menjadi elemen untuk berfoto juga bisa meneruskan cahaya luar untuk masuk ke dalam ruangan. Sehingga kualitas ruang yang terbentuk dan pencahayaan yang tercipta menghasilkan perpaduan yang sangat baik.
Vihara Dharma Bhakti yang kami kunjungi merupakan tempat yang memiliki sejarah yang kuat, tempat ini bisa menjadi syarat dengan sejarah / warisan. warisan terbesar selain bangunan dan benda fisik lainnya yaitu tradisi, kebiasaan yang dilakukan terus diturunkan dan dihargai keberadaannya karena merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terlibat dan memiliki ikatan dengan warisan tersebut.
chapter 3 : Kopi Es Tak Kie
Tempat terakhir yang kami kunjungi tidak jauh dari Vihara, tepatnya di jalan Gang Gloria juga terdapat kedai Kopi yang cukup terkenal bernama Kopi Es Tak Kie yang sudah berdiri sejak 1927. Sang pendiri Kedai kopi ini memberi nama Kopi Es Tak Kie bermaksud bahwa sang Pendiri ingin mengajarkan untuk selalu tampil sederhana dan kerja keras pada penerusnya. Kedai ini didirikan oleh Liong Kwie Tjoeng, dan sekarang yang sudah dikelola oleh generasi ketiga anak dari Liong Tjoen, yaitu Ayauw. Masih mengandalkan bangunan yang sama, dengan interior klasik, hingga menu tetap terus dipertahankan. Bahkan, meskipun kedai kopi ini sudah sangat terkenal tetapi tidak terdapat papan nama yang megah di depannya, melainkan hanya ada di dalam ruangan dekat dapur.
Pengunjung datang ke tempat ini salah satunya karena tempat ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan terkenal karena Es Kopinya yang terkenal enak.
Pilihan kopi yang disajikan disini hanya dua, kopi susu dan kopi hitam dengan ataupun tanpa es. Cita Rasa kopi yang sudah tidak diragukan lagi sejak dulu karena biji kopi Arabika yang berasal dari Lampung. Tidak hanya menyediakan kopi, kedai legendaris yang sudah menjadi favorit banyak kalangan ini juga menyediakan beberapa menu makanan berat, yaitu Mie Ayam, Pangsit Kuah/Goreng, Bakso, hingga Bacang. Namun untuk wisatawan muslim apabila ingin menyantap makanan yang dijual disini, lebih baik bertanya dahulu karena beberapa menu yang dijual tersebut merupakan menu non halal. Harga dari Es Kopi yang dijual disini hanya sebesar Rp. 20.000,- Ciri khas klasik dari Kopi Tak Kie ini tetap terjaga meskipun kini sudah bisa dipesan secara online(melalui Telepon).
Es kopi yang kami bungkus dikarenakan tempat ini sangat ramai.
Kedai ini tutup setiap jam 2 siang, dikarenakan pengunjung terus menerus berdatangan dan membuat menu yang disajikan cepat habis. di bagian depan kedai Kopi ini tertutupi oleh gerobak penjual Bektim (jeroan babi).
Saat memasuki kedai ini kami seperti dibawa ke masa lalu, yang dimana terdapat foto-foto jaman dahulu sejak pertama berdirinya kedai kopi ini serta beberapa poster film yang pernah menggunakan kedai Kopi Tak Kie ini menjadi lokasi Shootingnya. Karena tempat yang tidak terlalu besar dan padatnya pengunjung kami memutuskan untuk membungkus Es Kopi Susu yang kami pesan dan tetap menjelajahi Petak Sembilan.
Salah satu cara kami menikmati tempat ini yaitu dengan mengabadikan gambar. Sehingga kami pun menjadi salah satu orang yang menjaga warisan ini.
chapter 4 : Merefleksikan Tradisi
Dari ketiga tempat yang kami datangi, kami mencoba memahami narasi apa yang terbentuk di tempat ini. Mulai dari Pasar Petak Sembilan, Vihara Kim Tek Ie, dan juga Kopi Es Tak Kie memiliki persamaan yaitu unsur tradisi Tionghoa yang sangat kental. Tradisi yang diturunkan dari leluhur dijalankan dengan penuh kekhidmatan.
Setiap elemen ruang yang ada dan manusia yang ada di dalamnya secara terus menerus memperkuat narasi yang tercipta karena telah menjadi sebuah kebiasaan sehingga menjadikan kawasan ini (Kim Tek Ie, Pasar Petak Sembilan, dan Kopi Es Tak Kie) memiliki keunikannya tersendiri di tengah modernisasi yang ada.
Kami menyimpulkan bahwa, Tradisi yang diturunkan dari leluhur bisa sampai saat ini dikarenakan telah menjadi kebiasaan. Bercermin dari Pasar Petak Sembilan yang merupakan tempat kegiatan sehari – hari dimana elemen tradisional masih dijajakan dan pepatah mengatakan “bisa karena terbiasa” maka hal ini bekerja dengan baik karena unsur tradisi telah menjadi kebiasaan dan tak terpisahkan dari kebiasaan sehari – hari sehingga tradisi yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi tetap bisa dijaga dan dihargai dengan sangat baik.
Akan tetapi yang selanjutnya menjadi pertanyaan dan bisa direfleksikan kembali yaitu:
“Apakah datang ke tempat yang memiliki nilai sejarah dan tradisi yang kuat menjadikan seseorang merasa terhubung dengan sejarah tersebut?”
“Apakah kegiatan seperti ini dapat menjadi mesin waktu ataupun dapat menjadi portal untuk terhubung dengan sejarah dan tradisi tersebut?”
Tempat yang memiliki nilai sejarah kami ibaratkan dengan mesin waktu. Seperti Kim Tek Ie yang telah berdiri sejak 1650, hal ini berarti saat berada di tempat ini kita persis berdiri di tempat yang sama saat bangunan ini berdiri yaitu tahun 1650. Hal yang akhirnya membuat seseorang merasa terhubung dengan tradisi leluhurnya adalah karena ritual dan kebiasaan yang mereka lakukan telah dilakukan juga oleh leluhurnya dan dilakukan persis di tempat yang sama.
Menelusuri Kawasan Glodok (Pasar Petak Sembilan, Kim Tek Ie, dan Kopi Es Tak Kie) bisa menjadi salah satu hal yang menarik dan menyenangkan, terlebih karena banyaknya hal-hal baru dan unik. Untuk kalian yang menyukai wisata sejarah atau tradisi yang ada, datang ke kawasan ini merupakan pilihan yang tepat karena kawasan ini masih sangat kental dengan adat budaya dari Tionghoa.
Untuk yang senang berfoto atau ingin sekedar hunting foto kawasan ini pun tak kalah menariknya. Kalian bisa berfoto dengan latar belakang pasar tradisional atau pun latar belakang suasana Vihara. Elemen tradisional menjadikan tempat ini menjadi tempat unik secara visual (terkait dengan warna dan atribut tradisional Tionghoa) sehingga Kawasan ini tidak hanya sebagai pasar dan Vihara akan tetapi juga bisa menjadi kawasan rekreasi baik untuk dinikmati atau juga dijadikan tempat untuk berfoto.
Wisata kuliner pun sangat bisa dinikmati di Kawasan ini. Kopi Es Tak Kie menjadi rekomendasi kami juga untuk kalian yang sedang dalam keadaan lelah karena telah berkeliling di Kawasan Glodok dan juga ingin menikmati secangkir Es Kopi / Es Kopi Susu dengan rasa yang otentik dan juga tempat yang otentik pula.
Cobalah berkeliling di Kawasan ini dengan tidak menggunakan gadget maka kalian akan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda. Boleh mengeluarkan gadget kalian jika kalian memang hendak mengabadikan momen. Tapi ingat, mengabadikan momen justru jangan sampai melewatkan momen sebenarnya. Pengalaman time traveler pun mungkin dapat anda rasakan dikarenakan suasana dan toko – toko yang ada seperti bukan pada era modern ini.
Semua elemen yang ada, kebiasaan, dan juga tradisi yang terus diwariskan dan dihargai menjadi narasi tersendiri untuk kawasan Glodok (Pasar Petak Sembilan, Kim Tek Ie, dan Kopi Es Tak Kie) sehingga menjadikan kawasan Glodok menjadi salah satu kawasan yang unik dan mampu memberikan pengalaman yang unik pula.
Ditulis oleh Githa Anggrainy S dan Boby R Nugraha
Foto diambil oleh Boby R Nugraha
Tradisi: Warisan Leluhur Belajar menghargai tradisi dari Kawasan Glodok (Vihara Dharma Bhakti / Kim Tek Ie, Pasar Petak Sembilan, dan Kopi Es Tak Kie)