menggali masa lalu
Hal yang tidak bermanfaat, tapi cara terbaik yang bisa saya usahakan untuk kembali kepada rasionalitas dan prinsip yang sudah saya pegang semenjak remaja. Setelah 2 minggu terakhir tersesat pada kabut merah jambu, berdiri di garis batas antara menahan diri atau melempar diri pada nafsu. Bibir yang senantiasa menyebut namaNya, memohon pertolonganNya agar terhindar dari marabahaya yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Seakan tak cukup, saya melakukan usaha terakhir, menggali masa lalu. Setelahnya, perlahan rasionalitas saya bangkit dan rasa ternetralisasi dengan sendirinya. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, adalah hak setiap manusia. Ada waktunya saya harus menerima seluruh masa hidup seseorang, namun tidak saat ini.














