Ingat betul waktu briefing relawan #IMPamit yang pertama, yang saya akhirnya gak jadi berangkat karena gak boleh :p, Mas Dika bilang kalau kegiatan-kegiatan relawan dibawah Indonesia Mengajar sekarang menjamur. Jumlah relawannya banyak banget kayak MLM, dia bilang gitu. Lucu banget istilahnya. Tapi benar juga. Dan gak hanya relawan pendidikan ya, sekarang banyak kegiatan kerelawanan untuk bidang lainnya : energi, lingkungan, sosial, hukum, seni. Ah banyak sekali.
Saya pikir-pikir lagi, jaringan yang sudah dibangun Indonesia Mengajar di pelosok daerah sangat bisa dimanfaatkan untuk memajukan bidang lainnya. Dan lagi-lagi betapa cerdasnya konsep Pak Anies Baswedan, bahwa tujuan awalnya dikirim Pengajar Muda adalah mengisi kekosongan jumlah guru di daerah terpelosok. Itu sudah. Tapi apakah hanya itu? Ternyata tujuan beliau lainnya adalah menciptakan penggerak lokal. Penggerak Lokal adalah inisiator yang muncul dari penduduk itu sendiri. Tugas Penggerak Muda untuk memantik tumbuhnya Penggerak Lokal. Maka kemudian setelah 5 tahun, daerah tersebut dianggap mandiri, dalam hal ini tentang pendidikan, kemudian Pengajar Muda dari daerah tersebut ditarik dan selesai masa tugasnya.
Apa yang terjadi dengan Penggerak Lokal yang sudah tumbuh di daerah tersebut? Tentu mereka meneruskan program-program yang sudah dibangun, mungkin seperti dibangunnya perpustakaan, dll. Tapi sudah lebih majunya mindset Penggerak Lokal akan pendidikan pasti pertanda baik. Agen Perubahannya ditinggal di daerah itu, bukan Pengajar Muda yang pasti ditarik kembali dari daerah tersebut.
Tapi apakah masalah di daerah-daerah terpelesok, terpencil dan terluar di Indonesia hanya tentang pendidikan? Sayangnya tidak. Sebut satu, misal energi. Waktu di Pulau Bawean, tidak semua daerah merasakan listrik 24 jam. Bahkan kayaknya di Pulau Gili mereka harus punya genset sendiri-sendiri. Cerita Bryan di Kepulauan Sangihe juga begitu. Dan mungkin hampir di seluruh 16.998 pulau kecil lainnya di Indonesia, punya masalah itu.
Yang hampir mirip dengan Indonesia Mengajar tapi fokus soal energi adalah Patriot Energi, dibawah kementrian ESDM.
Satu organisasi lokal yang saya tahu mempromosikan renewable energy di daerah terpencil adalah Kopernik. Kenapa saya ngefans banget sama organisasi ini karena konsepnya sederhana tapi dampaknya luar biasa. Lain waktu saya juga akan cerita ini. Penggerak Lokal versi mereka adalah Ibu rumah tangga, yang mereka namakan kemudian Ibu Inspirasi.
Ambil masalah lainnya, sampah. Ingat betul waktu di Pulau Bawean, ada relawan yang mengeluhkan sampah yang banyak terkumpul di pesisir pantai dan bahkan laut. Kebanyakan sampah plastik.
Nah ini ada cerita juga waktu disana, saya tanya
“Eh kalau mau buang sampah dimana ya?”
“Kalau disini ditimbun doang Feb, di tanah gitu. Karena udah malem, disimpen dulu aja Feb di plastik. Besok dibuang”
Itu saya gak sadar kalau ada keganjilan. Sampai kapal yang kita naikin udah sampai di Gresik lagi. Karena teman saya tahu saya mau ambil kuliah lagi tentang ilmu lingkungan, dia bilang gini
“Feb pikirin ya caranya. Kamu kan tau tuh teknisnya gimana ngolah sampah. Nanti aku bantuin kalau mau bikin sosialisasi ke ibu-ibunya”
Dia cuma ngomong gitu doang, kalimat itu masih nempel di kepala saya sampai detik ini. Yang akhirnya saya memutuskan masalah ini, masalah sampah di pulau kecil, menjadi tema thesis saya. HAHAHAHA. jadi curhat. Apakah kemudian saya sudah berkontribusi dengan membuat thesis ini? sama sekali enggak. Tergantung follow up kedepannya. :p
Baca beberapa jurnal, ternyata ini juga menjadi masalah 16.999 pulau kecil lainnya di Indonesia. Ada teori, sampai tahun 1960-1970an, budaya masyarakat kita adalah menimbun sampah atau membiarkan sampah tergeletak aja. Itu masih relevan, karena sebagian sampah kala itu adalah sampah organik. Sayangnya budaya itu masih ada, sampai sekarang tahun 2016, padahal komposisi sampahnya udah shifting ke anorganik, seperti plastik, botol, kaca, dll. Yang gak mungkin terurai dengan hanya membiarkannya di tanah, malah mungkin sekali terbuang sampai ke laut.
Kajian energi di pulau kecil mungkin udah banyak ya, tapi kajian sampah di pulau kecil belum banyak. Sampah sendiri belum menarik perhatian banyak orang, kecuali di kota besar.
Cuma 2 dari sekian banyaknya masalah di daerah-daerah terpencil yang saya juga gak tahu semuanya.
Jadi ada banyak alternatif untuk membuat satu perubahan, kecil dulu, gak usah muluk-muluk. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah dibangun. Jejaring Indonesia Mengajar hanyalah contoh kecil dari sekian banyak yang ada. Cuma mau menunjukkan contoh kecil, kalau mau buat perubahan, sudah ada jalannya sekarang. Daripada mulai dari 0. Justru sekarang harusnya terintegrasi. Jangan sendiri-sendiri.
Tapi yang hilang mungkin soal pengakuan. Jujur saya gak tahu siapa founder Kelas Inspirasi, gak pernah tahu namanya, tapi tahu ceritanya awalnya. Gak pernah tahu namanya, karena gak pernah ada yang nyebut. Mungkin karena ini kerelawanan, tidak terstruktur seperti organisasi. Jadi ya mengalir saja. Fluid. Asal nemu teman yang satu visi dan misi, maka ide sederhana tadi bisa berjalan.
Kelas Inspirasi sendiri sudah direplikasi banyak kali di banyak kota. Bukannya main ego untuk melarang niru-niru, pihak IM malah senang kalau ini direplikasi. Bebas sekali bentuknya. Ada beberapa prinsip yang harus disepakati, tapi di luar itu, sangat fleksibel.
Jadi, mungkin sekarang zamannya juga berubah. Kalau ada ide sederhana mau diterapkan gak perlu cari funding, sponsor atau bikin organisasi. Konsep kerelawanan ini bisa sangat dijalankan. Lebih cair, bahkan menurut saya sendiri, lebih mengena terhadap visi atau misi yang dia bawa. Karena kalau gak suka, biasanya gak rela. Kalau relawan, ya suka dan rela. Lebih passionate lah bahasanya. Hahaha.
Mungkin ada part 2 nya :p